Temui Tuhanmu Di Rumah Bedeng

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Pagi ini Ngadimin sumringah mukanya. Dia memakai sarung dan baju terbaik yang dia miliki. Segera ia berangkat ke mesjid terdekat dari bedeng tempat dia dan kawan-kawan kuli bangunan tinggal.

Kebetulan sehari ini dia dapat libur.
Meski agak kekuk karena sebagian besar jamaah kelihatan berbaju bagus dan bersih dia beranikan diri duduk diantara jamaah lain. Dia tahu penampakannya mesti berbeda dengan yang lain karena dia hanya kuli bangunan. Sebagus-bagusnya baju yang dia miliki akan tetap kalah bagus dari jamaah yang lain.

Setelah sholat khusyu' dia pun dengan sabar mendengarkan kotbah. Kadang diselingi lamunan mengenai istri dan anaknya di desa. Ya istrinya di desa pasti sedang sholat ied lalu akan berbondong ke depan mesjid desa untuk ikut mendapatkan daging kurban. Dia nggak bisa pulang karena bangunan yang dia kerjakan harus segera selesai dan libur cuma satu hari. Tidak cukup waktu untuk menjenguk anak istrinya.

Khotib bercerita tentang puasa arofah. Dia sedih tidak bisa puasa arofah seperti yang lain. Dia butuh tenaga. Di hari yang panas dan harus kerja di luar dia tidak akan tahan kalau harus menjalani puasa seperti muslim yang lain.

Pahala berupa penghapusan dosa setahun lalu nggak akan dia dapatkan. Sedih sekali bagi kuli bangunan yang untuk mendapatkan pahala yang sama butuh usaha lebih berat.
Kadang dia berpikir bahwa kesempatan-kesempatan beribadah bagi orang miskin semakin terbatas. Jangankan untuk puasa atau ke mesjid, sedangkan waktu makannya saja tidak teratur. Waktu istirahat untuk ke mesjid tidak seperti orang kantoran. Sewaktu mendengar adzan dia masih di atas bangunan atau sedang mengaduk semen. Sulit baginya untuk bersih-bersih lalu izin meninggalkan pekerjaan.

Kemarin saat orang lain puasa arofah, dia hanya sempat sarapan indomie rebus dengan sebutir telor. Lalu kopi hitam dengan sedikit gula untuk modal bekeja. Siang hari ada nasi bungkus dengan lauk tempe dan sambel. Dengan makanan seperti itu tenaganya pas-pasan untuk mengerjakan pekerjaan kasar. Malam kadang harus lembur.

Selanjutnya khotib bercerita soal makna kurban. Kurban tidak sebatas menyembelih hewan lalu dibagikan. Itu hanya ritual. Keseharain kita sesudah itu itu adalah medan kurban sesungguhnya.
Ngadimin manthuk-manthuk. Rasanya baru kali ini ada kotbah yang menyentuh hatinya. Namun berat sekali bagi dia untuk berkurban. Sedangkan dirinya tidak cukup mampu untuk berkurban. Tapi dia ingat bahwa medan sesuangguhnya adalah keseharian kita. Kurban tidak semata-mata menyembelih hewan, tapi hakikat pengurbanan itu yang penting. Itu dia camkan.

Dia harus berhemat agar bisa menabung untuk dikirim ke istrinya di desa. Hidupnya sehari-hari sudah penuh dengan perjuangan, walaupun bukan pengorbanan.
Siang ini dia berharap bersama teman-temannya bisa mendapatkan daging kurban.

Dia ikut menonton penyembelihan hewan kurban di mesjid dekat lokasi proyeknya. Beberapa ekor sapi dan banyak kambing. Banyak orang sekitar datang membawa kupon. Sedangkan dia dan teman-temannya tidak punya kupon. Panitia masih sibuk membersihkan kulit hewan yang sudah disembelih,lalu mereka memotong-motong daging. Ada yang lain memasukkan ke dalam plastik.

Saat pembagian daging kurban tiba, setiap orang memberikan kuponnya untuk ditukar seplastik daging.
"Mas..anu... saya..saya bisa minta jatah?"
"kupon?"
"Ngga ada".
"nggak bisa mas. harus punya kupon".
Ya kupon dibagikan bagi warga setempat yang punya KTP. Sedangkan Ngadimin hanya buruh migran, nggak punya KTP setempat.

"Nggak ada jatah untuk kami para buruh to Pak?" tanya Ngadimin ke ketua uban mesjid itu.
"Aturannya begitu mas".
"Apa nggak boleh kami ikut menikmati daging itu Pak?' tanya teman Ngadimin.
"Bukan begitu..kami hanya ikut aturan. Nanti kalau sampeyan diijinkan yang lain akan ikut-ikutan. daging kurban nggak tepat sasaran."
"Bukannya kami sasaran yang tepat pak?" Ngadimin memberanikan diri.
"Ada aturannya mas."

Seseorang yang kelihatan terpelajar dan memperhatikan pembicaraan itu berusaha menengahi.
"Pak kenapa tidak diberikan beberapa bungkus untuk mereka?"
"Tapi mereka tidak punya kupon. Daging kan sudah dihitung mas".
"Sedikitlah keluar dari aturan demi memberikan keadilan. ".
"Tapi kami kan harus bertanggungjawab mas. kami ditugaskan menjadi panitia, harus mengikuti aturan. Kami takut dosa mas."
"Lihatlah mereka. para buruh migran. Jauh dari keluarga, kerja berat tiap hari. Fisiknya kelihatan kan? pantas mereka mendapatkan jatah."
Panitia diam. Mereka masih memberikan jatah ke para pemegang kupon yang lain.
"Pak jangan terlalu formal."

"Kalau nggak formal berarti kami nggak ngikuti aturan mas. Nanti infaq mesjid pun bisa diambil seenaknya kalau nggak pakai fomalitas".
"Nggak usah jauh-jauh pak. Ini soal daging kurban saja. Bisa diatur kembali biar lebih banyak yang dapat bagian pak. Toh aturan yang dibuat juga untuk kebaikan bersama".

Para kuli itu merasa tidak enak telah menyebabkan perdebatan yang panas diantara jamaah mesjid dan panitia kurban. Mereka telah terbiasa menjadi orang tidak beruntung.

Mereka pun segera pergi. Mencoba pergi ke mesjid lain dimana ada pembagian daging. Tapi lagi-lagi harus punya kupon sebagai syarat. Mereka akhirnya pulang menuju rumah bedengnya dengan perasaan sedih, tersisih.
Mereka tiduran di bedengnya sambil menghidupkan HPnya memutar lagu-lagu dangdut koplo. Melupakan sejenak derita.

Tidak diduga, orang yang tadi di mesjid mengusulkan daging diberikan untuk para kuli itu menyusul membawa beberapa bungkus daging datang ke bedeng mereka. Segera ia turun dari mobilnya.
"Mas ini bagian saya untuk sampeyan saja."
"Lho Pak nggak usah Pak. Kami sudah terbiasa kok makan lauk seadanya, tanpa daging."
"Ya sampeyan lebih membutuhkan. kami di rumah sudah banyak lauk".
"Maturnuwun pak. Maturnuwun. Mudah-mudahan lancar rezeki bapak."

Wajah Ngadimin kembali sumringah seperti tadi pagi ketika mau berangkat sholat ied. Dia ingat istri dan anaknya pasti sedang makan gule dari daging kurban. Dia dan teman-temannya akan menikmati makanan yang berbeda siang ini.

Pengantar daging itu pun merasa ada sebongkah rasa bahagia di lubuk hatinya yang tak kunjung pergi. Serasa ia telah menemui Tuhannya di rumah bedeng itu.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Sunday, August 2, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: