Tempo Riwayatmu Kini

Oleh: Denny Siregar
Jujur saya dulu sama sekali tidak tahu bagaimana caranya "cari uang" dari media sosial..
Main medsos ya main aja. Pertama main di FB pastinya. Gak terasa, kawan di FB yang dari angka puluhan, sekarang sudah ratusan ribu. Dan oleh beberapa media saya disebut sebagai influencer, atau orang yang berpengaruh di media sosial.
 
Bukan buzzer ya. Buzzer itu akun anonim - biasanya bot - dgn follower minim yg kerjaannya hanya menshare berita saja tanpa ada dampaknya, selain cuman trending doang. Biasanya ada di twitter.
Eh, pada suatu waktu saya dihubungi oleh media online baru. Mereka ingin berita2 mereka dibaca orang. Gimana caranya ? Saya diminta menulis disana. Saya malas trus kasih usul, "Gimana kalau saya share aja beritanya di pages saya ?" Mereka setuju.
Sekali share, saya dapat sekian rupiah. Maaf ya, ga mau buka dapur. Pamali, kata orang
Dan benar saja, setiap saya share beritanya, yang baca bisa ribuan orang. Malah pada momen bagus bisa puluhan sampai ratusan ribu. Media online baru itu puas. Peringkat mereka yang dulu 2000an, langsung melonjak ke angka 50. Mereka bisa cari iklan..
Sejak itulah beberapa media online baru menghubungi saya minta dishare beritanya. Hargapun naik sesuai hukum permintaan.
Dari cerita ini saya hanya ingin membagikan moral story. Bahwa apapun yang kita geluti, dengan cinta dan konsistensi, maka dampaknya adalah rejeki. Bahkan di medsos, yang dulu diejek orang karena disebut "membuang waktu saja".
Yang saya lucu media besar sekelas Tempo, bahkan tidak paham strategi ini. Mereka pake bot2 utk membagikan berita mereka. Lah, siapa yang mau baca apa yg dishare oleh bot yang bahkan followernya 0 orang ?? Tapi begitulah, banyak perusahaan lebih suka trending di twitter daripada dampak langsung dari dibacanya berita mereka.
Media sebesar Tempo, kelak akan dimakan oleh media online baru yang punya strategi lebih cerdik dan efisien. Mereka mungkin terlalu tua, gemuk dan lamban bereaksi, sehingga sudah biaya operasionalnya tinggi, capek2 nulis berita eh gada yang baca lagi..
Cerdaslah dalam menyikapi dunia digital. Atau kelak, mereka yang dulu berjaya, pada akhirnya cuman jadi kerangka dinosaurus yang dipajang di museum nasional.
Dengan tulisan, "Dulu pernah ada majalah besar, enak dibaca dan perlu, bernama Tempo".
Seruput kopinya, kawan..
(Sumber: Facebook Denny Siregar)
Sunday, October 25, 2020 - 15:00
Kategori Rubrik: