Tempe Busek Postingan (Lagi) karena Tanpa Mikir

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Maksud hati ingin mengangkat citra The Golden Boy yang gemar membaca buku-buku berkualitas bahasa asing. Tampilan pun terlihat sederhana hanya mengenakan sarung meniru pakde atau mau menunjukkan selesai sholat langsung baca buku.

Entah berapa kali kita disuguhi video atau foto gimik sosok yang satu ini. Jadi sudah menjadi tidak heran jika itu hanya di depan kamera. Kembali kepada media Tempe. Pencitraan pun berlanjut dengan membuat narasi indah terkait isi buku (seperti di gambar).

Jedyaaar... Isi bukunya ternyata bukan tentang itu. Jikapun dianggap ingin memberi pesan terkait 'Jokowi otoriter' penyebab matinya demokrasi ya jelas keliru juga. Gimana ceritanya demokrasi mati jika masih tetap ada aksi demo turun ke jalan?

Tetap ada debat bahkan tuduhan miring kepada Jokowi di program talk show ILC? Justru, yang membuat mati demokrasi itu adalah faham Khilafah yang mengusung politik identitas serta gerakan radikal. Coba tanya kepada komunitas tersebut terkait demokrasi.

Apakah bisa terjadi perdebatan ataupun boleh mempertanyakan dengan kritis soal khilafah dalam komunitas itu? Boleh kritik bahkan menghujat Rizieq dalam komunitas itu? Boleh demo sekadar menyuarakan aspirasi dalam komunitas itu? Adakah demokrasi dalam komunitas itu?

Di sinilah kelirunya media Tempe yang kemudian dengan perasaan berat hati diiringi rasa malu bertubi-tubi, postingan tersebut dibusek alias dihapus, tanpa klarifikasi apapun (mungkin karena sudah kalah malu). Sebagai sebuah media, ada baiknya sebelum posting itu... mikeeeeer..

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Tuesday, November 24, 2020 - 16:00
Kategori Rubrik: