Tempat Shalat Ada Gambarnya, Bagaimana Hukum Shalatnya

ilustrasi
Oleh: Muhammad Arief Junaydi
 
Terlalu buru-buru menyimpulkan hingga memfatwakan, ya, mungkin itu fenomena yg terjadi akhir-akhir ini di kalangan para dai-dai anyaran milenial dengan predikat gelar akademik yg mentereng seperti LC secara khas merupakan gelar akademik yg didapat dari beberapa universitas di timur tengah, Saudi Arabiah misalnya.
Saya teringat dawuh Gus Nadirsyah Hosen Ketua PCINU Australia, dimana dawuh beliau sederhana yg dijadikan slogan dalam sebuah kaos. Dawuh beliau: "Jadikan ilmu keketatan fiqh untuk memperketat diri sendiri, dan jadikan kelenturan Tashawuuf untuk menilai orang lain."
 
Dari kalimat sederhana ini tentu bagi orang-orang yang mempunyai background santri akan faham bahwa tidak semua apa yg kita lihat harus seirama dan sejalan dengan kita dalam berbagai hal, sebab ketika seseorang menilai seseorang dari kaca mata fiqh yg berkutat seputar halal-haram, sah-batal, mubah-makruh maka cenderung kita akan bertindak seperti hakim tunggal sebagai wakil Tuhan yg menggeser posisi ulama bahkan para Nabi. Akan tetapi ketika menggunakan kaca mata Tashawwuf yg mengajarkan kita tentang ilmu jiwa, hati, fikiran, lisan dan tingkah laku maka kita akan lebih aman dan terkontrol dengan sendirinya, sebab bagaimana kita mau menjudge orang lain sementara semua tentang diri kita selalu diawasi oleh Dzat Yang Maha Mengetahui segalanya di alam jagat raya ini.
 
Termasuk salah satu yg menurut saya terlalu buru-buru hingga berlebihan (ghuluw) dalam mengeluarkan kata-kata seperti di gambar ini.
Lantas bagaimana tinjauan menurut para Ulama penerus Mujtahid yg empat tentang shalat yg ada gambarnya bahkan yg tepat dihadapan mushalli atau terpampang mengarah ke kiblat di tempat shalatnya, berikut penjelasannya:
 
الصُّوَرُ وَالْمُصَلِّي:
٦٦ - اتَّفَقَتْ كَلِمَةُ الْفُقَهَاءِ عَلَى أَنَّ مَنْ صَلَّىوَفِي قِبْلَتِهِ صُورَةُ حَيَوَانٍ مُحَرَّمَةٌ فَقَدْ فَعَل مَكْرُوهًا؛ لأَِنَّهُ يُشْبِهُ سُجُودَ الْكُفَّارِ لأَِصْنَامِهِمْ، وَإِِنْ لَمْ يَقْصِدِ التَّشَبُّهَ. أَمَّا إِنْ كَانَتِ الصُّورَةُفِي غَيْرِ الْقِبْلَةِ: كَأَنْ كَانَتْ فِي الْبِسَاطِ، أَوْعَلَى جَانِبِ الْمُصَلِّي فِي الْجِدَارِ، أَوْ خَلْفَهُ، أَوْ فَوْقَ رَأْسِهِ فِي السَّقْفِ، فَقَدِ اخْتَلَفَتْ كَلِمَتُهُمْ فِي ذَلِكَ.
فَقَال الْحَنَفِيَّةُ - كَمَا فِي الدُّرِّ وَحَاشِيَةِ الطَّحْطَاوِيِّ - يُكْرَهُ لِلْمُصَلِّي لُبْسُ ثَوْبٍ فِيهِ تَمَاثِيل ذِي رُوحٍ، وَأَنْ يَكُونَ فَوْقَ رَأْسِهِ، أَوْ بَيْنَ يَدَيْهِ، أَوْ بِحِذَائِهِ يَمْنَةً أَوْ يَسْرَةً، أَوْ مَحَل سُجُودِهِ تِمْثَالٌ. وَاخْتُلِفَ فِيمَا إِِذَا كَانَ التِّمْثَال خَلْفَهُ. وَالأَْظْهَرُ: الْكَرَاهَةُ. وَلاَ يُكْرَهُ لَوْ كَانَتْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ أَوْ مَحَل جُلُوسِهِ إِنْ كَانَ لاَ يَسْجُدُ عَلَيْهَا، أَوْ فِي يَدِهِ، أَوْ كَانَتْ مُسْتَتِرَةً بِكِيسٍ أَوْ صُرَّةٍ أَوْ ثَوْبٍ، أَوْ كَانَتْ صَغِيرَةً؛ لأَِنَّ الصَّغِيرَةَ لاَ تُعْبَدُ، فَلَيْسَ لَهَا حُكْمُ الْوَثَنِ. (١)
وَنَصَّ الشَّافِعِيَّةُ - كَمَا فِي أَسْنَى الْمَطَالِبِ -عَلَى أَنَّهُ يُكْرَهُ لِلْمُصَلِّي أَنْ يَلْبَسَ ثَوْبًا فِيهِ تَصْوِيرٌ، وَأَنْ يُصَلِّيَ إِلَيْهِ أَوْ عَلَيْهِ. (١)
وَنَصَّ الْحَنَابِلَةُ عَلَى أَنَّهُ تُكْرَهُ الصَّلاَةُ إِِلَى صُورَةٍ مَنْصُوبَةٍ، نَصَّ عَلَيْهِ أَحْمَدُ. قَال الْبُهُوتِيُّ: وَظَاهِرُهُ وَلَوْ كَانَتِ الصُّورَةُ صَغِيرَةً لاَ تَبْدُو لِلنَّاظِرِ إِلَيْهَا، وَلاَ تُكْرَهُ إِِلَى غَيْرِ مَنْصُوبَةٍ، وَلاَ يُكْرَهُ سُجُودٌ وَلَوْ عَلَى صُورَةٍ، وَلاَ صُورَةَ خَلْفَهُ فِي الْبَيْتِ، وَلاَ فَوْقَ رَأْسِهِ فِي السَّقْفِ أَوْ عَنْ أَحَدِ جَانِبَيْهِ. وَأَمَّا السُّجُودُ عَلَى الصُّورَةِ فَيُكْرَهُ عِنْدَ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ يَعْنِي ابْنَ تَيْمِيَّةَ، وَقَال فِي الْفُرُوعِ: لاَ يُكْرَهُ، لأَِنَّهُ لاَ يَصْدُقُ عَلَيْهِ أَنَّهُ صَلَّى إِلَيْهَا. وَيُكْرَهُ حَمْلُهُ فَصًّا فِيهِ صُورَةٌ أَوْ حَمْلُهُ ثَوْبًا وَنَحْوَهُ كَدِينَارٍ أَوْ دِرْهَمٍ فِيهِ صُورَةٌ. (٢)
وَلَمْ نَجِدْ لِلْمَالِكِيَّةِ تَعَرُّضًا لِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، إِلاَّ أَنَّهُمْ ذَكَرُوا تَزْوِيقَ قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ أَوْ أَيِّ جُزْءٍمِنْهُ كَمَا يَأْتِي بَعْدَ هَذَا.
 
Ulama ahli fiqh sepakat bahwa tempat shalat yang ada gambarnya (gambar makjluk hidup yg diharamkan) tepat mengarah ke qiblat adalah MAKRUH, karena sesungguhnya itu menyerupai sujudnya orang2 kafir kepada berhala-berhala mereka, meskipun tidak bertujuan utk menyerupainya. Adapaun jika gambar tidak mengarah tepat ke kiblat, seperti berada di tengah atau di samping mushalli di dinding atau dibelakangnya, atau diatas kepalanya di atap maka ulama berbeda pendapat atas hal itu.
 
1⃣ Hanafiyyah: Makruh shalat memakai pakaian bergambar makhluk hidup, jika gambar itu ada di kepala, kedua tangan,  di hadapan kanan kirinya, atau tempat sujudnya. Berbeda lagi jika ada di belakangnya. Yang lebih jelas adalah makruh, dan tidak dimakruhkan jika gambar itu ada dibawah telapak kakinya atau tempat duduknya yg tidak disujudi. Atau gambar tersebut tertutup dengan kain atau pakaian atau gambar tersebut kecil, karena sesuatu yg nampak kecil itu tidak akan disembah, maka tidak bisa hal itu disamakan dengan hukum menyembah berhala.
2⃣ Syafiiyyah: Makruh hukumnya shalat dengan pakaian yang bergambar atau shalat pada sesuatu yang bergambar.
3⃣ Hanabilah: Makruh hukumnya shalat terhadap suatu gambar yang berbentuk berhala, meski gambar itu kecil yg tidak terhalang bagi orang yg memandangnya, tidak makruh shalat dengan gambar yg tidak didesain berhala dan tidak makruh sujud kepada gambar, tidak pula gambar dibelakang yg ada di rumahnya, diatas kepalanya di atap, atau salah satu sisi/sampingnya. Yang memakruhkan hal ini adalah Syekh Ibn Taimiyah. Akan tetapi dalam "Al-Furu'" dia berkata tidak makruh sebab hal itu tidak bisa dubenarkan bahwa mushalli shalat kepada gambar itu. Yang dimakruhkan adalah membawa batu permata cincin yg terdapat gambar, atau membawa baju dan sejenisnya seperti dinar dan dirham yg ada gambarmya
4⃣ Malikiyah: Tidak banyak pendapat dari Malikiyyah tentang hal ini, hanya saja beliau-beliau menyebut bahwa hal ini termasuk menghiasi arah kiblat atau hal semisalnya.
Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah 17/126-127 Fatwa ke 66
_______________________________
Referensi dari Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah dinuqil dari:
 
1. Addurru Al-Mukhtar 1/274, Fathul Qadir 1/362, Hasyiah Ibn Abidin 1/436-437.
1. Asnal Mathalib 1/179
2. Kisyaful Qina' 1/370
3. Al-Inshaf 1/474
 
Maka dari itu, jika hanya desain saja dalam masjid dikaitkan dengan batalnya shalat apalagi sampai menvonis kufur atau batal keislamannya, sedangkan yg jelas-jelas ada gambar yg diharomkan saja shalat masih dihukumi makruh berdasarkan 4 madzhab, saya kira yg mengeluarkan fatwa amburadul pada gambar ini harus banyak-banyak makan petis Madura biar mantep asinnya yg kaya omega 9 suplement kecerdasan otak.
=================
 
Hanya coretan seorang kuli bangunan di negeri jiran Malaysia.
 
Sumber : Status Facebook Rijalul Wathan Al Madury
Wednesday, June 12, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: