Teman yang Ketularan Rasis

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Abu Kumkum punya seorang sahabat di kampung. Dulu berteman akrab. Kini, setelah Kumkum merantau mencari ilmu di Jakarta, sambil jualan minyak telon oplosan, dia jarang pulang kampung. Yang dia tahu, belakangan sahabatnya berubah. Ikut-ikutan laskar. 

Pandangannya agak rasis. Membenci minoritas. Ia merasa superior sebagai pribumi. Padahal mana ada pribumi di Indonesia. Semua adalah pendatang.

 

Kemarin sahabatnya ke Jakarta. Ngajak ketemu Kumkum. Mereka bertemu di seputaran Kalibata. 

"Mau ke rumahku?," tanya Kumkum.

"Iya dong. Aku mau tahu, gimana isi rumah pengusaha migas," tutur sahabatnya.

Sekadar informasi. Kumkum memang sekarang beralih di bidang migas (minyak dan gas) ia menjual minyak telon oplosan dan jamu tolak angin.

"Kita naik KRL," ajak Kumkum. Keduanya berjalan ke stasiun.

Saat gerbong tiba, Kumkum langsung mengajak temannya naik. Dia memilih gerbong khusus perempuan. Kereta memang gak padat. Tapi bukannya kosong. 

Kontan saja, sepanjang perjalanan, perempuan-perempuan penghuni gerbong memandang kedua cowok itu dengan sinis. Seseorang malah membentak. "Cowok tempatnya bukan disini, mas..."

Kumkum cuma nyengir. Sahabatnya merasa gak nyaman. Seluruh gerbong tidak bersahabat padanya. Ia tidak diterima berada di situ. "Dasar lelaki gak punya malu!," perempuan lain menyindir.

"Otak, dipake dong..."

Merasa gak tahan, sahabatnya mengajak Kumkujm turun di setasiun depan. "Aku tersiksa disitu. Keberadaan kita dianggap benalu. Gak diinginkan. Lebih baik kita turun," pinta sahabatnya.

Kumkum kembali nyengir. "Nah, kan. Tadi kita ngalamin jadi minoritas yang keberadaanya seperti gak diinginkan. Kita dipersekusi. Dikatain. Dicaci. Bayangkan ada orang yang setiap hari kamu perlakukan seperti itu. Hanya karena berbeda dan tidak sama ras denganmu dan lingkunganmu. Kamu musuhi dia. Kamu kafir-kafirkan. Kamu seolah mau mengusir dia."

Temannya melongo.

"Makanya, kita jangan berbuat seperti itu sama orang lain. Wong kita yang cuma beberapa stasiun saja gak enak. Apalagi setiap hari mendapatkan perlakuan yang sama..."

Temannya Kumkum cuma bengong. "Jadi kamu sengaja, naik ke gerbong cewek, tadi?"

"Sudah, gak usah dipikirin. Mana HP-mu. Kita selfie dulu. Mumpung di Stasiun UI. Nanti di kampung kamu bisa pamer, sudah diterima masuk UI. Maksudnya, masuk stasiun UI"

 

(Sumber: Facebook Eko Kuntadhi)

Wednesday, November 27, 2019 - 18:15
Kategori Rubrik: