Teman Minum Kopi

Oleh: Denny Siregar
 

Cobalah sekali-sekali masuk ke dalam perut bumi...

Awalnya memang menakutkan. Bayangan gelap dan bentuk ruang yang tidak pernah terpikirkan, membuat kaki ini mundur sejenak dan sempat berfikir ulang. Tapi rasa penasaran yang kuat - apa yang ada di dalam sana - membuatku terus melangkah.

Ketika tubuh ini diturunkan dari ketinggian 18 meter melalui seutas tali, rasanya ciut hati ini. Bayangan putusnya tali menghantui, sehingga kakiku menghentak meminta cepat sampai ke tanah untuk mendapat pijakan.

Sesudah kaki berpijak, aku berjalan menembus lorong2 gelap yang jauh dari cahaya. Bekal terang hanya ada pada lampu di kepala. Kulalui jalan sempit, berair dan bahkan aku harus merunduk untuk menghindari bongkahan besar batu yang sudah lama patah. Medan yang berat, cukuplah untuk menyesakkan dada.

Pada pertengahan jalan aku minum kopi sejenak dan mematikan lampu yang ada. Gelap total. Bahkan aku tidak mampu melihat harapanku sendiri. 1500 meter ditempuh dengan berjalan kaki dengan begitu banyak rintangan.

Rintangan terakhir kulalui. Rintangan terberat karena lumpur lengket di mata kaki. Aku melangkah tersendat dengan susah payah kadang merangkak. Sepertinya ujung gua tidak pernah tercapai. Aku bahkan tidak tahu ini siang ataukah malam. Yang aku tahu bahwa aku harus bertahan supaya sampai pintu keluar.

Ketika cahaya matahari menembus melalui pintu keluar, betapa leganya hati ini. Seperti sebuah kehidupan baru yang datang dan menyambutku. Tuhan tidak pernah kulihat tapi selalu bersamaku. Aku berjalan menuju air terjun yang indah dan membersihkan semua lumpur yang melekat dari kaki sampai kepala. Perjuangan yang melelahkan.

Tapi kenapa aku malah bahagia dan tidak merasakan sia2 ?

Karena ternyata di dalam aku menikmati pemandangan yang luar biasa. Maha karya Tuhan dalam bentuk endapan yang mengeras terbentuk selama jutaan tahun adalah proses kesabaran tetes air yang luar biasa. Aku tidak merasakan sakitnya tubuhku di dalam sana karena sibuk mengagumi lukisan2 alam yang terbuat sempurna dan jauh dari keahlian tangan manusia.

Bisakah kugambarkan semua perjalanan itu sebagai makna dari kesulitan, teman ?

Bahwa ketika kita terjatuh dalam alam kesulitan, kita akan menemukan kegelapan dan banyak rintangan yg harus dilalui. Kita berjalan, merangkak, berguling bahkan sampai menyeret berat tubuh sendiri. Tetapi sesungguhnya, bagi mereka yang tidak hanya mengeluh dan mampu melihat Mahakarya Tuhan di dalamnya berupa hikmah2, maka sungguh kita tidak akan pernah lelah.

Kita malah bersyukur adanya karena ketika akhirnya keluar kita menjadi manusia yang kaya akan cerita dan jauh lebih bijaksana. Sehingga ketika ada seseorang yang bertanya, "Bagaimana rasanya ?" Engkau akan tersenyum dan berkata, "Aku pernah berada disana.. Jangan takut, jalan saja..."

Dan ceritakan hikmah2 yang ada disana. Beritahukan kepadanya bahwa ketakutan itu sebenarnya hanya ilusi dan rintangan2 itu hanya menguji keimanan kita saja.

Dan selalu ada teman dengan secangkir kopi panas bersamamu disana.. Percayalah.

(Sumber: dennysiregar.com)

Tuesday, May 31, 2016 - 13:15
Kategori Rubrik: