Teladan dari Susi

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Ketika hari pemanggilan pertama para camen (calon menteri), kerumunan wartawan karena saking keponya, beberapa serentak mendekati dua lelaki bercelana panjang hitam dan baju putih. Dikiranya camen.

Tak tahunya, mereka membawa karangan bunga. Ucapan selamat, pada Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2019 - 2024. Pengirimnya Susi Pudjiastuti.

 

Sekelebat melihal itu, saya mikir, masa' sih Susi baper? Terus nyuap Presiden agar dipanggil? Duh! Dan ketika sampai pelantikan para Menteri Kabinet Indonesia Maju, nama Susi Pudjiastuti (54) tak ada. Ambyar deh. Remuk redam hati sebagian besar rakyat Indonesia, bukan hanya sad-boys dan sad-girls pandhemen Lord Didi. Kok bisa? Kok bisa Susi nggak ada? Apalagi kok malah Budi Arie Setiadi, yang cablak itu?

Maka, segala macem analisis ndakik-ndakik bermunculan. Belum pula soal teori konspirasi. Dan tak ayal lagi, tudingan pada Jokowi. Mana yang tak kuasa melawan tekanan partai, kompromi pada konglomerat hitam. Etc. Etc. 

Meski telat, saya kira penjelasan Fika Fawzia, asisten pribadi Susi Pudjiastuti, bisa menyelesaika berbagai rumors yang berkembang. Bahwa Susi Pudjiastuti, menurut Fika, atas kehendak sendiri memohon pada Jokowi, untuk tak lagi berada dalam kabinet Jokowi jilid dua. Alasannya? Fika mengatakannya; dengan alasan tertentu yang menjadi hak Susi Pudjiastuti. Penjelasan Fika, terkonfirmasi dan clear.

Saya kira selesai di sini. Dan maafkan telah berprasangka melihat kiriman bunga kemarin itu. Sikap Susi Pudjiastuti, rasanya teladan yang langka, sebagaimana sikap Adrian Napitupulu pada sisi lain. 

Susi Pudjiastuti, yang suka merokok itu, yang bertato di kakinya itu, yang 'cuma' drop-outan SMA (meski telah ikut ujian persamaan) itu, memberi teladan yang keren. Sesuatu yang susah kita temukan pada kaum munafikun dan baperan, yang suka pakai bahasa-bahasa langit itu. Mana yang bakal kualat, tak mau ngundang menteri, padahal katanya anti diskriminasi dan rahmatan lil alamin.

Justeru ketika yang konon berpendidikan tinggi, yang mengaku dari organisasi agama terbesar, dan paling berjasa pada Republik ini; bersikap baperan dan sama sekali jauh dari kemulian-kemuliaan yang keluar dari mulutnya. 

Terimakasih Ibu Susi Pudjiastuti, dengan segala hormat. Masih ada kebaikan dari negeri ini.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Sunday, October 27, 2019 - 19:45
Kategori Rubrik: