Teks dan Konteks Ayat Jilbab

Oleh: Saefudin Achmad

 

Untuk menafsirkan sebuah ayat al-qur'an, perlu banyak sekali disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh para penafsir, seperti ilmu tata bahasa arab (nahwu, shorof, balaghoh, dll), ilmu qiro'at, paham asbabun nuzul, nasikh mansukh, hadits, serta qoul-qoul ulama tafsir yang lain. Sangat kompleks. Oleh sebab itu, betapa dalam makna dari sebuah ayat yang terkadang maknanya sekilas tidak seperti yang tersurat pada teks.

Dalam menginterpretasi teks, harus melihat konteksnya seperti apa. Teks tidak bisa dilepaskan dari konteks. Memisahkan teks dari konteks sama saja memperkosa makna teks. 

 

Tulisan ini bukan tafsir terhadap ayat jilbab. Jangan disalahpahami. Ini hanya kegelisahan seorang hamba serta pikiran-pikiran nakal yang ingin diungkapkan dalam bentuk tulisan. 

Salah satu ayat yang memerintahkan tentang jilbab adalah surat al-Ahzab ayat 59.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Terjemah: "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Dalam hubungan antara teks dan konteks yang tidak bisa dilepaskan, surat Al-Ahzab ayat 59 adalah teks, sedangkan konteks-nya adalah asbabun nuzulnya. Asbabun nuzul asalah peristiwa yang menjadi sebab dari turunnya ayat Al-Qur'an. Lalu peristiwa apa yang menjadi sebab turunnya Surat Al-Ahzab ayat 59?

Asbabun nuzul ayat berhijab (Q.S. al-Ahzab ayat 59) yang masyhur di kalangan ulama adalah dahulu para istri Nabi Muhammad hendak keluar rumah untuk buang hajat. Saat itu kaum munafik yang melihatnya, menyakiti dan mengganggu para istri Nabi Muhammad. Ketika ditegur, kaum munafik menjawab, “Kami hanya mengganggu hamba sahaya saja.” 

Konteks (absbabun nuzul) dari ayat jilbab adalah untuk membedakan antara wanita muslim dengan wanita jahiliah serta budak-budak perempuan. 'illatnya adalah untuk memisahkan perempuan merdeka dan budak. Lalu apakah di zaman sekarang dimana sudah tidak ada perbudaakan (illatnya hilang), ayat ini tidak berlaku lagi? Sebuah pertanyaan yang menarik. 

Jika boleh menerka-nerka, apa artinya sebelum ayat ini turun, perempuan muslimah tidak memakai jilbab? Lalu diperintahkan berjilbab bukan karena untuk menutup rambut, melainkan untuk membedakan antara perempuan merdeka dan budak agar tidak diganggu? Jika dilihat dari konteks sekarang, dimana sudah tidak ada budak, dimana potensi diganggu antara perempuan yang berjilbab dan tidak sama saja, bagaimana memposisikan ayat ini? Entahlah, sebagai orang awam sangat sulit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Sudah banyak ulama yang menafsirkan ayat ini dari ulama kanan, tengah, sampai kiri. Mayoritas ulama kanan menafsirkan ayat ini sebagai dalil kewajiban jilbab bagi muslimah. Sebagian ada yang sangat keras dan kaku sehingga menganggap muslimah yang tidak berjilbab akan masuk neraka. Mayoritas ulama tengah menafsirkan ayat ini sebagai dalil bahwa jilbab itu baik, tapi tidak mewajibkan muslimah berjilbab. Kelompok ini juga menyatakan bahwa muslimah yang tidak memakai jilbab tetap punya potensi menjadi muslimah yang baik. Mayoritas ulama kiri justru menafsirkan ayat ini sebagai dalil bahwa jilbab tidak wajib sama sekali, dengan sederet argumen.

Kalau disuruh memilih, saya memilih mengikuti pendapat ulama tengah. Berjilbab baik, selain menjadi identitas seorang muslimah, juga mengandung banyak manfaat. Saya kira non-muslim pun sebenarnya tidak keneratan atau risih dengan muslimah yang berjilbab. Hanya saja, saya juga menghargai dan menghormati muslimah yang memilih untuk tidak berjilbab. Berjilbab itu baik, tapi saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa berjilbab atau tidak bukanlah ukuran untuk menentukan si A baik dan masuk surga, sedangkan si B buruk dan masuk neraka.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Sunday, January 26, 2020 - 16:00
Kategori Rubrik: