Teknologi Lima Jari

 

 

Oleh: P. B. Susetyo dan S. H. Dewantoro

Keberadaan manusia, termasuk perangkat yang dibekalkan kepada manusia tatkala lahir di muka bumi ini, bisa kita kenali dari jari-jari kita.  Dan dari situ, kita bisa tahu metode atau teknologi untuk memutakhirkan diri.

Ibu jari kita: ini adalah sumber atau landasan kekuatan dari jari-jari yang lain.  Tanpa keberadaan ibu jari, maka jari-jari lain akan menjadi lemah tak berdaya.  Lebih dari itu, di seluruh kebudayaan, ibu jari ini selalu menyimbolkan perkara-perkara keindahan, kebaikan, penghormatan.  Jika kita memuji orang atau mengatakan sesuatu itu bagus, maka kita mengangkat ibu jari kita ke atas.  Mempersilakan orang lain dengan hormat, juga menggunakan ibu jari.

Maka, ibu jari ini sejatinya adalah simbol dari lapisan keberadaan berikut: Pertama adalah  Gusti, sebagai Realitas Tak Terbatas yang menjadi intisari sekaligus sebagai yang melingkupi hidup manusia.  Kedua, Ingsun  – sebagai pengejawantahan dari Gusti sehingga ada Gusti yang mempribadi di dalam diri manusia. 

Nah, secara ilmiah, bisa ditelusuri bahwa ada lubang energi dan juga sistem syaraf pada ibu jari yang terhubung dengan ulu dan telenging manah.  Sementara, di situlah terdapat sumber kekuatan dan kecerdasan yang utama dari manusia.  Dalam bahasa lain, di situlah sesungguhnya letak singasana Gusti pada diri manusia sebagai  mikrokosmos atau miniatur semesta. 

Jika Ibu jari adalah simbol Gusti dan Ingsun, maka 4 jari yang lain adalah perangkat-perangkat yang membentuk keakuan atau keberadaan sang aku yang dalam bahasa Jawa Kuna disebut Ulun.  Ulun ini secara  ragawi terbentuk dari air, udara, tanah, dan api.  Kemudian, ia dibekali perangkat berupa budi, rasa, nalar dan nyawa. 

Telunjuk, menunjukkan budi.  Jari tengah adalah simbol rasa.  Jari manis simbol nalar.  Sementara kelingking menunjukkan nyawa.  Nah, dari sisi energi, perangkat-perangkat berupa budi, rasa, nalar dan nyawa yang juga berarti karsa atau kekuatan kehendak itu, bisa di-upgrade  jika terhubung dengan Gusti secara intensif.

Caranya adalah, hubungkan ujung telunjuk dengan ujung jempol.  Lakukan itu sambil santai, sambil merasakan nafas.  Setelah itu, bergantian tempelkan ujung jari tengah, ujung jari manis, dan ujung kelingking dengan ujung jempol.  Nah, keterhubungan itu akan mengalirkan energi pembaharuan dari  telenging manah  yang  mengalir melalui ujung jempol ke jari-jari yang lain.  Secara natural, neuron-neuron atau syaraf-syaraf baru akan terbentuk.  Dan itu artinya, budi atau kesadaran, rasa, nalar, karsa kita, mengalami proses upgrading.

Dengan cara sederhana seperti itu, pasti terjadi  upgrading.  Ketika telunjuk terhubung dengan ujung ibu jari, itu laksana meng-upgrade  microchip atau ROM.  Dengan tindakan ini, kesadaran manusia akan menjadi murni, dan ia akan punya kecakapan dalam menentukan tindakan tepat secara cepat. Ketika ujung jari tengah dihubungkan dengan ujung ibu jari, itu sama dengan menambah kapasitas RAM, sehingga komputer lebih mampu  momot kamot, mampu memuat apapun yang diperlukan. 

Silakan cermati frase  ati segara...ini bicara tentang rasa yang jembar, yang bisa menampung berbagai perkara.  Dengan di-upgrade, perasaan manusia akan menjadi laksana samudra, bisa menampung berbagai perkara tanpa mengganggu sistem kerja nalar dan perangkat lain.  Kalau hatinya sempit, manusia itu gampang menjadi emosional, dan itu pasti membuat nalar terganggu.    Nah, nalar itu laksana processor.   Perangkatnya adalah otak.  Menjadi bagian dari otak, ada memori sebagai penyimpan data.

Memori ini mirip hardisk. Agar perangkat ini bisa bekerja dengan optimal, menjadi lebih cepat dalam mengolah data  – mulai dari menganalisa hingga membuat kesimpulan, maka kecepatan perangkat pengolah data perlu ditingkatkan, sementara sistem penyimpanan datanya juga perlu dirapihkan.  Nah, processor dalam diri manusia bisa ditingkatkan kapasitasnya, demikian juga hardisknya menjadi lebih besar daya simpannya dan lebih rapi sistem pengelolaan file-nya, ketika ujung jari manis dihubungkan dengan ujung ibu jari secara intensif.

Selama ini, banyak orang yang terlalu sombong dengan kemampuan otaknya.  Padahal itu malah membuat kemampuan otaknya  terbatas.  Justru, untuk melejitkan kapasitas otak dan membuat nalar kita makin canggih, kita justru perlu berendah hati, berserah diri dan senantiasa terhubung pada Gusti, dan membiarkan Gusti yang membimbing serta memberi daya pada nalar kita, lebih dari yang semula telah ada sebagai modal dasar pada setiap manusia.  

Selanjutnya, daya kehendak kita, bisa di-upgrade dengan menghubungkan secara intensif ujung kelingking dengan ujung ibu jari.  Tindakan ini akan menyelaraskan kehendak Ulun atau sang aku dengan kehendak Ingsun dan Gusti.  Itu yang membuat sebuah tindakan menjadi penuh daya dan tepat.   Lebih dari itu, tindakan ini juga akan membuka pintu-pintu kehidupan.  Karena Gusti adalah sumber kehidupan, maka melalui keterhubungan dengan Gusti, manusia bisa terbimbing pada keberlimpahan dan kesentausaan.

 

* P.B. Susetyo dan S.H. Dewantoro adalah penulis buku, informasi mengenai buku-buku karya mereka ada di www.aksara234.com

Saturday, November 21, 2015 - 15:15
Kategori Rubrik: