Teka Teki Keberadaan Rizieq Shihab dan Mentalitas Pecundang

Ilustrasi

Oleh Fajar Arifin Ahmad

Pimpinan Front Pembela Islam yang juga mengaku sebagai ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI, Rizieq Shihab hingga hari ini belum berani pulang ke Indonesia. Setelah visa tinggal di Saudi habis dengan dalih umroh Rizieq meninggalkan kota suci tersebut pada Selasa (9/5) namun tidak mendarat di Indonesia melainkan di Kuala Lumpur.

Pendaratan di Malaysia ini tentu bukan karena direncanakan melainkan menghindari berbagai kasus yang dihadapi dirinya. Pria yang terseret banyak kasus itu meninggalkan Indonesia sejak sebelum turunnya vonis pada Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama. Padahal kita tahu kasus BTP alias Ahok diajukan ke pengadilan karena dilaporkan oleh masyarakat dan salah satu saksi ahli ya Rizieq Shihab.

Sejak kasus itu muncul, GNPF MUI terlihat paling sering di depan melakukan demonstrasi dengan membawa-bawa nama agama. Sebab mereka tahu, menyeret-nyeret kelompok ormas Islam akan sulit sekali. Jangankan ormas besar, ormas-ormas kecil saja selain Hizbut Tahrir Indonesia sudah kepayahan. Karena memang dalam Islam seperti dicontohkan oleh Rasulullah selalu diajarkan kasih sayang, harus memaafkan, tidak mendendam dan nilai-nilai kemanusiaan yang lain. Sedang GNPF MUI, mereka hanya mengaku Islami, berbaju Islami, sesekali teriak takbir namun faktanya tidak Islami.

Lihat saja yang disebut para orator disana selain Rizieq ada nama Amin Rais, Bakhtiar Nasir, Rusmin, Tengku Zulkarnain, Ahmad Dhani dan masih banyak lainnya. Yel-yelnya pun bukan hanya kata tangkap, adili, penjarakan namun sudah Usir, Gantung, Rajam hingga Bunuh Ahok. Seruan-seruan kebencian yang melampaui batas serta bertentangan dengan nilai Islam.

Kembali soal Rizieq, pada demo hari jelang vonis Ahok yakni 5 Mei 2017 kembali tersebar rencana aksi. Salah satu yang Nampak diberbagai brosur itu tentu saja Rizieq Shihab. Namun hari itu, tidak tampak batang hidungnya. Pun hingga Selasa 9 Mei 2017 ketika aksi pada hari vonis Ahok juga tidak kelihatan. Belakangan baru ketahuan jika Rizieq sedang menunaikan umroh. Kelompok mereka sih mengklaim karena diundang Raja Salman. Bagaimana bisa diundang? Wong Raja Salman ke Indonesia saja tidak ikut menemui koq. Tidak ada bukti sama sekali jika Rizieq umroh karena undangan. Yang menyebar di foto dia didampingi askar (prajurit), itu mudah saja. Kata teman saya, jika anda tahu jalurnya jelas akan dikawal. Ibaratnya seperti vooridjer (pengawalan dengan mobil sedan polisi) di Indonesia jika anda mau bisa koq asal ada uangnya.

Juga tersebar pula video Rizieq yang sedang memberi ceramah atau paparan di depan beberapa orang dalam ruang tertutup mengenai kondisi di Indonesia. Sayangnya paparan peta politiknya sangat ngawur dan ngasal. Dalam video tersebut di klaim bahwa ada kelompok non Islam sedang membenturkan Islam moderat dengan fundamentalis. Sebuah analisis yang tidak dilandasi bukti-bukti konkrit. Video ini jadi bahan tertawaan berbagai pihak. Seperti biasa, bagi orang yang tidak terbiasa bergaul akan percaya saja padahal mudah dibantah.

Rizieq juga menghadapi bukan hanya 3 atau 4 kasus melainkan 9 kasus termasuk yang sedang didalami tentang chat mesum dengan Firza Hussein, bendahara Yayasan Sahabat Cendana yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus makar. Seperti yang sudah banyak beredar ada obrolan mesum melalui aplikasi whatsapp yang diduga terjadi antara Firza Hussein, janda dengan Rizieq Shihab. Kepolisian tidak hanya menyita HP tetapi berbagai barang bukti juga sudah dimiliki polisi.

Polri juga dilapori berbagai kasus lain seperti pelecehan Pancasila, pelecehan Kapolri, ucapan sunda, tuduhan logo PKI dan beragam kasus lain. Maka dari itu, setelah banyak pihak tidak nyaman dengan perilaku Rizieq masyarakat mendesak Polri menyelesaikan beragam kasus tersebut. Rupanya Rizieq tidak langsung pulang dari umroh. Dia turun di Kuala Lumpur Malaysia kemarin Rabu (10/5). Hal ini dilandaskan pada foto yang direlease sebuah Fanspage. Nampak Rizieq didampingi masyarakat Malaysia. Status foto menyebutkan Rabu informan FP itu bertemu Rizieq.

Bukti lain bahwa Rizieq Shihab sudah tidak di Saudi pernyataan pengacaranya, Kapitra Ampera dalam dialog Kompas Petang Kamis (11/5) ketika ditanya Aiman “Kenapa Rizieq minta Komnas HAM ke Saudi?”, Kapitra membantah dengan membalik pertanyaan “Siapa yang bilang (Rizieq-pen) di Saudi? Bisa di Eropa, tapi tidak di sini (Indonesia)”. Pernyataan itu membuktikan 2 hal, Rizieq tidak lagi berada di Timur Tengah namun juga dipastikan tidak berani pulang ke Indonesia. Hal ini terkandung dalam kata “disini”.

Dugaan makin menguat ketika Merdeka Online menurunkan berita “Habib Rizieq Sedang di Malaysia, Selesaikan Kuliah Doktor” Kamis kemarin. Kepala Program Dakwah dan Manajemen Islam USIM, Associate Proffesor Dr Kamaluddin Nurdin Marjuni di Kuala Lumpur menuturkan seharusnya HRS sudah dapat selesaikan program doktornya pada akhir tahun 2015 atau semester tujuh. Alasan yang dikemukakan tidak rasional karena Rizieq mulai kuliah September 2012, hingga 5 tahun belum kelar. Bagi yang studi doctoral akan faham kuliah S3 membutuhkan waktu normal 2-3 tahun atau kalau toh pun molor paling 4 tahun. Di saat ada urusan penegakan hukum, seorang yang memiliki pendidikan apalagi beragama Islam harusnya selalu siap bertanggungjawab. Rasulullah tidak pernah sedikitpun takut apalagi kabur dari tanggungjawab. Kenapa Rizieq harus selalu menghindar?

Bukankah pemanggilan polisi bisa dia manfaatkan untuk mengadukan kasus yang katanya memojokkan ulama dan umat Islam? Bukankah kelompok-kelompok mereka selalu berdalih ulama dikriminalisasi dan Islam tidak mendapat keadilan? Yakin? Buktinya Ahok masuk sel dan terima hukuman meski berbagai pendukungnya yang juga mayoritas Islam serta fakta persidangan tidak ditemukan bukti kuat penistaan agama. Belum lagi, meski tidak bermaksud menista toh Ahok sudah minta maaf.

Lantas mengapa Rizieq Shihab jika merasa tidak bersalah harus takut? Apalagi rumahnya ditembak oleh sniper. Jika benar, kenapa tidak lapor polisi? Saya heran, sikap Rizieq itu sebetulnya meneladani siapa? Tidak ada satu tokoh Islam besar memiliki sifat pengecut dan tidak bertanggungjawab. Dalam berbagai riwayat disebut, pengecut dalam Islam lebih dekat pada munafiq. Bila Rizieq merasa benar, hadapi dan datangi polisi. Jangankan keberanian menghadapi kasus, keterangan dia berada dimana dan sedang apa saja tidak ada yang menyampaikan secara jelas. Apa yang mau diikuti dari orang-orang yang memiliki sifat seperti itu?

Sumber : Status Facebook Fajar Arifin Ahmad

Friday, May 12, 2017 - 11:00
Kategori Rubrik: