Tegangnya Saat Evakuasi Sebagai Pasien Suspect Corona

ilustrasi

Oleh : Stanlly Ladee

Hari itu tepatnya hari rabu 15 april 2020, sore hari kira-kira pukul 16 sore lewat, kami bertiga yang ada di rumah dapat telepon dari pihak dinas kesehatan setempat dalam hal ini puskesmas terdekat dengan wilaya kami saat itu.

Dalam telepon itu ada seorang ibu yang dalam perjalanan menuju rumah kami dan beliau menanyakan alamat rumah kami.
Awalnya mereka sudah melewati rumah kami dan rombongan para satgas itu pun hampir menemukan rumah kami tapi berkat seorang tetangga di ujung blok perumahan kami mereka menemukan alamat kami.

Seperti konvoi yang tak biasa, semua dari mereka naik motor, dan pakaiannya serba tertutup menggunakan APD dari mantel hujan, terdengar dari dalam rumah seperti jalanan yang ramai. Wajar karena blok perumahan kami memang selalu tenang jarang terdengar bising kendaraan yang ramai.

Dalam rombongan konvoi tersebut tampak di kawal kamtibmas dan babinsa setempat dengan bersenjata lengkap, para aparat itu tidak sama sekali menggunakan alat pelindung diri (APD) ngawur sama seperti yg dinkenakan timnya yang lainnya.

Setiba mereka di depan rumah, salah satu dari mereka memanggil kami dengan teriakan yang cukup kencang, tepat dari depan pagar rumah kami yang sudah roboh akibat gempa tahun sebelumnya.

"Ade!, Ade!, Ade!," teriak salah satu ibu berhijab warna coklat dan berpakain mantel dengan masker yang tertutup hingga hanya matanya yang terlihat.

Katanya "jangan takut yah, jangan takut, kami dari pihak dinas kesehatan dan Puskesmas mau menanyakan data diri kalian terkait salah satu saudara kalian yang di rawat di Rumah sakit Undata, terkait hasil swabnya dinyatakan positif"

Saat itu pula memang benar Devi pacarku sudah satu minggu dirawat di RSUD Undata dan dari hasil swabnya benar dia sudah positif covid 19 atau virus corona.

Sontak para tetangga keluar rumah karena suasana jalan blok perumahan tidak seramai seperti biasa dan orang-orang pada ingin tahu apa yang sedang terjadi bahkan bapak RT saat itu sempat bertanya dengan nada yang kuat dan sedikit marah-marah itu jujur menambah rasa panik kami dan rasa takut karena di datangi banyak orang yang berpakain serba tertutup (APD Mantel Hujan)

Dalam pikiranku, "habis kami ini Tuhan"

rasanya kami seperti orang yang telah melakukan dosa besar dan siap untuk dihakimi dan diberi hukuman yang belum kami tahu seberat apa hukumannya.

Jujur selain takut kami yang ada di rumah saat itu merasa malu, sungguh seperti di film-film di kerumuni banyak orang dan di serbu dengan berbagai pertanyaan.

Saat sementara bertanya, ada seorang ibu yang cukup berani mau menayakan data kami dengan jarak cukup dekat yakni kira-kira dua meteran, karena sebelumnya jarak komunikasi kami hingga 4 sampai 6 mteran dan mungkin krn ibu tersebut tidak mendengarkn cukup jelas apa yang kami sampaikan,

Saat ibu itu mendekat, berusaha mendekati kami dengan jarak kira-kira dua meteran, terdengar suara salah satu ibu bagian dari tim rombongan itu, dia berpostur tinggi besar dan berpakaian mantel hujan pula, serba tertutup dan bersepatu sepatu boot (Jenggel) ibu iti berteriak wapada pada temannya

"Ibu minta tolong jarak aman jangan dekat-dekat!, bahaya!, bahaya! bu!, mohon jaga diri ibu jangan terlalu dekat! nanti bahaya,! saya mohon bu tetap dengan jarak seperti kami" jelasnya seaakn kami adalah ular berbisa yang sesekali akan mengeluarkan racun berbisa jika terlalu dekat.

Dalam hatiku yang saat itu masih awam dengan perlakuan mereka

"senajis apakah diri kami sampai mereka memperlakukan kami seperti ini, dalam hati terasa hancur melihat aksi dramatis itu yang di nonton puluhan tetangga yang menonton sambil mengeluarkan smartphone mereka & merekam kejadian memalukan itu"

dalam hatiku sebenaranya mau menangis namun mungkin karena malu saya laki-laki jadi hanya saya tahan dan terasa seperti hangat di kepala dengan tenggorokan terasa sakit menahan air mata yang mau keluar.

Singkat cerita percakapan menegangkan itu selesai dengan tidak ada ucapan terimakasih telah mengambil identitas diri kami dan tidak adapun di akhir wawancara mereka bilang terimakasih atas waktunya itu tidak kami dengar, seakan mereka datang dan pergi sesuka hati mereka stelah mengambil identitas diri kami.

Di ahir percakapan menegangkan itu, nampak seorang bapak polisi mengatakan

"saya mohon kamu jangan keluar dari batas pagar ini pokoknya kamu jangan dulu keluar-keluar rumah, dalam jangka waktu 14 hari kedepannya" jelasnya dengan sedikit garang dan tatapan mata yang aga tajam sedikit tapi tak setajam silet sih hehehe.

Sore itu hampir gelap dan rombongan horor itu mulai membubarkan diri satu-persatu setelah mengimbau kami untuk tidak keluar-keluar rumah dan harus mengisolasi diri mandiri di rumah selama 14 hari kedepan.

Selain itu meski rombongan pihak dinas kesehatan sudah tidak ada tapi di depan rumah kami masih saja ramai dengan beberapa tetangga yang bercerita dengan para aparat berpakain lengkap dengan senjatanya.

Dari dalam rumah kami masih saja panik dan sesekali dari kami bertanya "ini bukan mimpi, kan?"

Hari semakin malam dan kira saat itu jam sudah mau menunjukan pukul sembilan malam dan kami masih saja merasa kurang nyaman dan seperti bingung dan belum bisa percaya sepenuhnya apa yang barusan tadi sore terjadi.

Ditambah lagi stok makanan di rumah kami sepertinya tidak cukup untuk 14 hari kedepan, kami kebingungan mau bagaimana lagi.

"Bisa-bisa kitaorang di rumah ini bukan mati karena corona, yang ada mati kelaparan" kata salah satu teman dengan nada yang bercanda.

Keadaan kami mulai tenang dan sepertinya kami sudah mulai belajar menerima kenyataan kalau kami akan mulai berjuang selama empat belas hari ke depan dengan modal data kuota pulsa internet dan bonus telepon untuk kami pakai menemukan pertolongan dari kerabat di luar rumah.

Mengharukan, beberapa hari ke depannya kami akan jadi orang yang minta-minta tolong agar diantarkan bahan makanan, dalam pikirku

"kasihan saya belum terbiasa hidup di fase kek begini, selama ini saya masih bisa kerja dapat uang beli makan-makan secukupnya semampu saya, setidaknya selama ini saya tidak punya mental korban, tapi ya sudahlah keadaan memakasa mau bagaimana lagi? Iya kan"

Malam makin larut, kami sudah aga tenang dan kami satu persatu sudah mulai terlelap di kamar kami masing-masing, tiba-tiba terdengar lagi ada suara mobil berhenti di depan rumah dan diiringi suara teriakan dari depan rumah "de, de, siapa namanya dorang di dalam ini" jelas salah satu bapak yang suaranya tampak jelas dari luar jendela kamar tempat saya istrahat.

Saya pun menjawab "iya, iya pak, bentar, sambil bergegas mau membuka pintu rumah,

Rupanya ada seorang bapak dia katakan dia adalah seorang direktur rumah sakit, dan atas laporan warga yang resa dengan adanya kami di rumah yang saat itu sudah dicurugai sudah tertular virus corona, dan keberadaan kami membuat warga sekitar blog kami ketakutan jika kami hanya di karantina mandiri tanpa ada bantuan medis yang memadai.

Bapak dokter itu memperkenalkan dirinya "selamat malam dek, perkenalkan saya dokter Nirwan, saya direktur RSU madani, saya atas laporan warga disini kalo kalian masih di curigai sudah tertular virus corona, maka nisiatif dan alasan kemanusiaan kalau kalian tidak keberatan kami mau pastikan kalau kalian sudah benar-benar tertular atau tidak, dengan bantuan tim kami mau pastikan dengan uji repid dan selanjutnya kami akan uji tes swab" jelas bapak itu, dengan jarak kira-kira satu meter lebih dengan kami yang terhalangi motor yang di parkir di teras rumah.

Pikir kami daripada karantina mandiri, ditamba lagi stok makanan yang tidak cukup untuk empat belas hari kedepan, kami terima pertolongan dokter Nirwan untuk insitif dari pihaknya untuk menolong kami beberapa hari kedepan memastikan kalau kami benar-benar sudah tertular atau belum.

Dokter Nirwan katakan kalau timnya sudah dirinya koordinasikan untuk mempersiapkan diri menjemput kami dengan ambulans rumah sakit Madani, kami pun mempersiapkan diri dengan sibuk mengemasi pakaian kami dan selimut, kerena kami kekurangan tas, kami bertiga pun mengemasi pakaian kami di kantongan kresek yang cukup besar dan tas ransel sedang.

Saat ambulans datang, kami tampak tiga orang mirip astronot berjubah APD putih serba tertutup, suasana depan rumah tambah ramai dengan kehadiran ambulans yang aga sedikit mencolok dengan lampu khas mobil ambulans yang berwarna di suasana larut malam.

Malam itu kira-kira sudah lat dan hampir jam 11 malam lewat, tapi suasana depan rumah kami makin ramai karena kehadiran ambulance, akibatnya mengundang perhatian para tetangga, dan seketika depan rumah kembali ramai dengan orang-orang yang siap dengan kamera smartphone mereka, tampak jelas saya lihat dari jendela kamar, kelihatan silau karena cahaya blitz kamera smartphone.

Dalam hati saya "viral lagi, kami ini, sana kamera sudah siap rekam, momen pertama kali saya naik ke ambulans" kata dalam hati saya sedikit berkeringat dingin.

Menunggu aba-aba dari perawat yang menjemput kami untuk naik ke ambulans, kami berjejer dengan dengan pakaian rumah seadanya, celana pendek sepaha, dana kaos oblong serta sandal jepit, dengan tas ransel berisi selimut blangket cukup tebal dan beberapa lembar pakaian kami yang masing-masing kami kemasi di kantong plastik karena kami bertiga kekurangan tas bakal mengemasi pakaian kami.

Dengan keadaan siap tidak siap, saya memberanikan diri mengikuti protokol yang sedang mengatur kami, dan jujur saya walaupun sementara takut masih sempat memperhatikan kamera yang mengarah pada gerak gerik kami saat hendak mau naik ke ambulans.

Dengan sedikit mencoba melawan rasa malu dan takut dengan melambaikan tangan ke arah kamera dengan membalas teriakkan kata semangat dari semua tetangga dengan ucapan terimakasih dari mulut saya..

"Iya, makasih" kata saya senyum-senyum, sambil melambai-lambaikan tangan ke arah kamera para tetangga dan suasana saat itu, hampir mirip dengan koruptor yang baru keluar dari pemeriksaan dan sudah mengenakan rompi orange, kurang lebih seperti itu suasananya.

Di dalam ambulans terasa asing dan di pikiran saya mobil ambulans hanya tempat orang sakit yang hampir mati selain itu suasana asing itu terasa penuh tanya dalam pikiran saya

"apa ini Tuhan, apa maksud semua ini, hari ini saya tidak pernah bayangkan akan naik mobil ambulans di jam-jam istirahat saya" dipikiran saya dengan heran.

Tampak di depan saya tabung oksigen, dan alat kejut jantung, sumpah saya baru kali ini melihat alat itu, yg biasanya saya hanya lihat di sinetron-sinetron. Wajarlah saya tidak ada latar belakang pendidikan medis bahkan seumur hidup saya yang namanya rumah sakit jarang berurusan dengan saya.

Karena dalam mobil ambulans serba tertutup jadi kami tidak tahu perjalanan kami sudah mendekati tujuannya atau tidak, rasa penasaran saya pun mencoba mencari tahu dengan membuka aplikasi maps google, dan dengan bantuan aplikasi dari dalam ambulans saya tahu waktu perjalanan kami sudah mendekati rumah sakit tujuan kami.

Rumah sakit Madani, rumah sakit ini belum sama sekali pernah saya lihat apa lagi mengunjunginya, yang saya tahu rumah sakit ini sering menerima pasien sakit jiwa, menurut cerita-cerita teman-teman. tapi saya tahu juga kalau rumah sakit ini menerima pasien umum, saya tahu itu karena beberapa tahun lalu, pernah teman saya sakit tipes, dan di rawat di rumah sakit ini.

Singkat cerita kami tiba di Instalasi gawat darurat khusus covid 19 RSD Madani, kami turun dengan semangat, mungkin karena pengap dan sudah penasaran dengan apa yang selanjutnya akan kami lalui hingga kami turun dari mobil ambulans dengan semangat.

Tampak dari kami bertiga turun dengan barang bawaan kami masing-masing, dengan tas ransel seadanya dan pakaian di bungkus dikantongan plastik yang cukup besar yang kami peluk seperti anak perempuan yang memeluk boneka kesayangannya.

Masing-masing dari kami menaiki ranjang yang disediakan, dan salah seorang dokter di situ namanya Dr Nirwan dia katakan

"tenang tidak usah takut, kaya takut-takut saya liat kamu orang ini, rileks, kalian aman di sini" jelasnya dengan sedikit nada bercanda.

Saya sebenaranya saat sudah turun dari ambulans sudah tidak takut, cuman yang buat saya kembali takut jarum suntik yang akan ditancapkan pada lengan saya untuk mengambil sampel darah bakal rapid tes.

Usai dari IGD covid, setelah mengalami pemeriksaan, kami di giring menuju ruangan kami di rawat. Setiba di kamar saya coba tenangkan diri dan cari selak nyaman dengan kasur rumah sakit, hari itu kira-kira sudah pukul satu lewat dini hari.

Rasa tidak nyaman, tidak ada bantal, rasa asing, dan gelisah malah makin terasa dan hingga hampir pukul tiga dini hari saya tidak bisa tertidur, jujur saya masih shok dan kek berharap semua yang saya alami adalah mimpi.

Di pikiran saya, "apa nanti yang akan terjadi selama di isolasi di rumah sakit ini, dan saya masih bingung bagaimana cara saya memenuhi kebutuhan saya kedepannya" Mungkin agak lebai apa yg ada di pikiran saya tapi jujur saat itu saya lagi tidak punya uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan saya selama santai-santai sambil sakit saat di isolasi di RS in.

Pagi-pagi kami di bangunkan sama kakak perawat untuk ditensi dan ukur suhu tubuh kami, masih agak mengantuk karena semalam dari pukul tiga dini hari saya hanya tidur-tidur ayam, kalau bahasa bakunya saya tidak tahu, intinya saya tidur sebentar lalu terbangun lagi.

Usai sarapan pagi kami bertiga dapat kabar kalau hasil rapid tes kami dari beriga hanya saya dan teman saya Yos yang hasilnya sama yakni positif dan salah satu teman kami namanya Candra, dia hasil rapidnya Negatif artinya tidak dintemukn ada virus dalam tubuhnya.

Pertama dapat kabar kalau saya positif rapid tes, rasanya kek tamba shok dan takut, takut karena yg saya tahu orang yang sudah terjangkit virus corona banyak yang mati, kek di berita-berita yang saya nonton.

Tapi rasa takut itu tidak bertahan lama dikarenakan susana rumah sakit yang awalnya membosankan beruba jadi suasana yang saya bisa sesuaikan karena ramahnya para tim medis yang merawat kami selama di ruma sakit Madani.

"Ini dia sosok dokter yang merawat kami"

Sore hari seprti bisa kami menghabiskan senja disore hari dengan berbincang-bincang dengan dokter, kebetulan beliau adalah pemimpin Rumah Sakit tempat kami di rawat.

Namanya dokter Nirwansyah Parampasi, sejak awal kami di rawat di rumah sakit ini beliau tidak pernah menunjukan rasa takutnya saat menghadapi kami pasien covid, ini terlihat dari caranya memperlakukan kami pasien begitu santai dan rasanya seperti orang yang sudah lama kami kenal.

Tidak dipungkiri, Bisa di bilang hampir sebagian besar para tim medis selama ini menurut berita dari TV yang saya liat seakan penyakit terjangkit virus corona adalah penyakit yang mematikan hingga para tim medis kebanyakan ikut tertular virus ini dan ikut merasakan akibat fatal, tidak main-main akibatnya banyak tim medis gugur dalam menjadi tugas, dan itu membuat beberapa tim medis seperti ketakutan menghadapi pasien covid.

Namun yang saya lihat dr Nirwan yang akrab di sapa Om dokter ini menunjukkan kesan yang berbeda saat menghadapi kami pasien covid dirinya dan tim menunjukkan rasa kemanusiaannya merawat kami dengan cara pendekatan yang terbilang unik pasalnya hampir setiap hari saat bertemu dengan beliau, om dokter tidak pernah menunjukkan rasa takut jika berdekatan dengan kami karena menurutnya tidak masalah berdekatan berkomunikasi dengan kami karena tidak ada yang perlu di takutkan selama dirinya mengunakan APD lengkap dan sesuai standar yang ada.

Terus terang, jujur, Saya awalnya menduga hidup sebagai pasien covid yang di isolasi di ruangan serba tertutup dan hanya bisa di kunjungi perawat dan tim dokter dan itu sumpah akan membosankan, ditambah lagi tidak bisa dijenguk keluarga dan kerabat seakan kesannya kami yang di rawat sebagai pasien Covid 19, hanya seorang manusia yang tidak berdaya yang bisa di duga kehidupannya hanya dua kemungkinan dia bisa sembuh dan pulang atau dia tidak sembuh lalu mati, dan di kuburkan dengan prihatin sesuai SOP penguburan Pasien Covid 19 yang hanya bisa di lihat keluarga dari jarak jauh.

Sungguh, setelah satu malam di rawat di RS ini rasanya tidak se shok awal kami masuk sebagai PDP covid, kenyataannya kami di perlakukan dengan sangat ramah oleh para tim medis, mereka tidak hanya sering mengibur kami dengan candaan mereka tapi mereka juga memperlakukan kami seperti keluarga padahal kami belum pernah melihat wajah asli mereka, dan itu seaakn meruba perspektifku tentang mengerikannya jadi pasien covid,

Jujur meski awalnya saya dalam keadaan tubuh yang hampir tumbang karena ganasnya virus corona, tapi dengan perlakuan dokter dan perawatnya yang terbilang ramah dan bersahabat itu mampu membuat saya betah di rawat di rumah sakit ini, jujur saya lebih merasa semangat lekas sembuh dengan perlakuan itu.

Lanjut saya mau ceritakan sosok om dokter leader Tim medis yang merawat kami yang saya katakan tadi saya salut dengan caranya memperlakukan kami pasien, karenanya itu menjadi merubah perspektif tentang para tenaga medis dari kacamata masyarakat di luar sana, karena selama ini persepsi yg terbangun tenaga medis terlalu rentan tertular meski sdh APD berlapis saat bertugas. Bahkan banyak yg meninggal. Itu bisa menciutkan nyali paramedis lainnya, dengan kabar banyaknya tim medis yang gugur saat bertugas

Ini terlihat berbeda dengan sikap dr Nirwan yg lebih santai terlihat saat tiap hari interaksi dgn kami pasien, bisa dibilang beliau adalah seorang pemimpin yang mau memberi hatinya mau mendengarkan cerita kami pasien bahkan sekalipun pembahasannya diluar konteks penyakit yang kami derita, beliau memberi waktunya mendengarkan menjadi seorang sahabat yang enak diajak bercerita.

Pernah suatu saat saya bertanya pada dr Nirwan apa alasan dokter sampai dokter punya hati yang besar mau terjun langsung menangani pasien covid,

beliau bilang
"Saya hanya merasa kami adalah org2 pilihan Tuhan yg telah diberikan kemampuan dan keilmuan dlm merawat pasien" kata om dokter dengan santai

Selain itu dirinya juga mengatakan sudah seharusnya sebagai seorang yang berprofesi sebagai dokter masyarakat untuk menghibahkan hidupnya untuk kemanusiaan, bentuk rasa dedikasi panggilan hati untuk mengabdi pada masyarakat.

Om dokter juga mengatakan pada kasus pandemi ini tidak dipungkiri banyak tenaga medis yg takut hingga mereka seperti terpaksa merawat pasien-pasien covid, namun dirinya menegaskan tidak sedikit pun dari awal dirinya merasakan ragu atau takut untuk turun langsung menangani pasien Covid karena alasan panggilan tulus dari hati.

Dokter Nirwan juga mengatakan ada hal penting yg sering pihaknya lakukan saat merawat pasien, baik itu pasien non covid ataupun covid, yaitu pihaknya menolong menumbuhkan rasa percaya diri dari pasien itu untuk sembuh, dengan berbagai cara pendekatan misalnya menjadikan pasiennya seperti teman bercerita yanga baik, hingga pasien tidak sungkan-sungkan dan merasa akrab dengan dirinya.

"dengan cara seperti itu, saya mencoba membangun kepercayaan diri para pasien bahwa tidak ada penyakit yg tidak bisa disembuhkan, dan hati yang gembira mampu membantu proses penyembuhan" Jelasnya.

Lebih jauh kami bercakap-cakap saya bertanya, pada om dokter saya katakan

"Om dok, awal om dok mau turun tangani pasien covid ada tidak larangan atau peringatan supaya was-was dari keluarga? "

Om dokter menjawab
"sejak awal saya bilang saya akan ambil bagian turun langsung memimpin tim medis Covid RSU Madani, keluarga saya tidak pernah melarang, dan mereka sudah mengerti dengan tugas dan panggilan saya sebagai tenaga medis, bahkan hingga sampai saat ini keluarga tetap mendukung dan tidak ada kendala atau takut, saya kira keluarga saya memang terus support dan menyemangati saya, " ungkap om dokter.

Lebih jauh om dokter
"kenapa saya sebagai seorang direktur mau turun langsung ??? Itu untuk membangkitkan moral pasukan ku, karena banyak tenaga medis maupun para medis yg suka atau tidak suka harus mengakui bahwa mereka takut merawat pasien corona dengan saya sebagai direktur rumah sakit ini turun langsung, itu menolong menumbuhkan rasa percaya diri para teman-teman tim medis, untuk lebih berani turun menangani pasien covid" jelas om dokter.

Diketahui pula dr nirwan dan timnya sudah mensengajakan diri untuk tidak pernah pulang ke rumah selama dalam tahap proses penyembuhan kami, sejak kami masuk di rumah sakit yang di pimpinya itu kira-kira hampir satu bulan ini.

Saya hanya merasa kasihan demi nyawa sesamanya manusia, mereka bahkan harus rela meninggalkan keluarga untuk sementara waktu selama masa pandemi ini, demi menjalankan panggilan tugas yang mulia.

Sungguh saya belum habis pikir, kebaikan dr nirwan dan timnya dalam upaya mengusahakan kesembuhan kami selama dirawat di di gedung isolasi Covid 19 rumah sakit Madani, saya kira mereka adalah pahlawan yang di kirim Tuhan bakal menolong kami dari kemalangan kami yang nyaris saja jika tidak segera ditangani dengan penanganan medis yang profesional, saya tidak tahu mungkin saat ini saat tidak bisa menyelesaikan tulisan ini akibat kalah dengan keganasan virus corona.

Hari ini kembali saya dapat kabar hasil swab saya yang ke dua, meskipun saya tidak se shok mendengar hasil swab yg pertama yang postif hasilnya

tapi kali ini walaupun masih positif hasil swab kedua saya, kabar dari keadaan saya sekarang Sejauh ini sudah mau hampir dua minggu saya di rawat di RSU Madani Palu terus menujukan keadaan kesehatan yang terus membaik dan sampai saat ini setiap kali para tim dokter datang menanyakan keluhan saya tidak ada lagi keluhan seperti di waktu lalu, awal saya masuk di gedung isolasi RS ini seperti masih batuk-batuk pusing dan mual-mual, mencret bahkan kurang nyaman di areasaluran pernafasan.

Besok hari rabu 29 April saya genap dua minggu lamanya saya di isolasi di gedung isolasi pasien Covid 19 RSU Madani Palu.

Banyak hal baik yang positif dan menginspirasi yang saya dapat selama dirawat dinsini, dari gaya kepemimpinan ditektur utama RS ini yang bergaya santai namun tegas dan para tim dokter yang enak di ajak ngobrol serta para perawat yang ramah-ramah

dan sesekali dinsetiap waktu luang mereka para kakak perawat dan dokter berusaha mengihibur kami dengan cara-cara mereka sendiri, mulai dari ajak main tiktok dan ajak bercanda saat mereka bertugas mengawasi kesehatan kami.

Tak jarang pula aksi konyol kakak2 perawat yang sering buat kami tertawa terbahak-bahak karena aksi goyang-goyang joget di depan kamera CCTV iti sumpah menggelitik saat di lihat.

Bukan hanya merawat dan mengusahakan kesembuhan kami tapi support dan dorongan moril datang dari mereka pula, selain itu mereka juga bahkan memperlakukan kami seperti saudara padahal kami belum pernah melihat wajah mereka sama sekali karena APD yang mereka kenakan serba tertutup.

Pernah di suatu percakapan saya dan salah satu perawat saya katakan

"Kak nanti kalau saya sudah sembuh, suatu saat nanti sewaktu-waktu kalian ketemu saya di tempat umum sorry saya tidak bisa kenal kakak perawat duluan karena saya tidak bisa kenal kenal kalian apa saya cuma bisa liat kalian dari mata kalian di balik kaca mata bening itu itupun kening kalian tidak kelihatan hehehehe" kata saya sambil sesekali tertawa kecil.

Kaka perawat menjawab "Nanti saya yg tegur duluan kau, tapi tenang saja privasi pasien jadi nomor satu, harga mati, itu sudah jadi sumpahnya kami saat jadi perawat" jelasnya dengan logat Palu.

Selain itu saya tidak jarang saya merasa kasihan saat mendapati perawat yang tertidur di lantai saat masih mengunakan APD di belakang meja jaganya, saat jam2 istrahat kami,

apa lagi saat melihat bercak keringat yang tembus di APD yang mereka kenakan dan bahkan uap keringat berwarna putih pada kaca mata mereka, sumpah! itu sering mengganggu jarak pandang mereka, saat mau periksa suhu badan kami dan untuk menulis laporan di meja jaganya.

dalam hati saya "kasihan mungkin mereka capek, sungguh mereka demi nyawa orang lain mereka bertarung nyawa mereka sendiri," kata dalam hati saya sambil merasa kasihan.

Saya bisa lihat rasa kurang nyaman saat mengenakan baju pelindung diri itu, rasa panas, gerah, apa lagi beberapa dari mereka yang sementara menjalankan ibadah Puasanya, saya hanya tidak bisa bayangkan bagaiman jika mereka mau kebelet kencing dan BAB saat di area atau haus, tapi yang saya lihat mereka tidak pernah mengeluh di hadapan pasien kalau mereka menderita dengan pakaian APD yang mirip astronot itu, malah mereka menunjukan sikap mereka yang biasa saja saat bercakap-cakap dengan kami para pasien, selalu yang kami lihat mereka selalu menunjukan sikap mensupport kami dan memberi kabar yang positif2 dan membuat kami lebih semangat untuk sembuh..

Lanjut..

Singkat cerita hasil swab ke 3 saya hasil masih saja positif, rasanya saya mau down lagi tapi itu tidak juga berlangsung lama karena sudah terbiasa lama-lama saya bisa pula menerima kenyataan itu dalam pikirku "walaupun hasilnya positif tapi keaadan kesehatan saya terus membaik dan tidak ada yang saya kuatirkan".

Dari hasil swab pertama sampai hasil swab yang ke 3 hasilnya masih positif, rasanya aga sedikit kecewa tapi mau bagaimana lagi saya harus siap hadapi itu realita yang sedang terjadi.

Saya tidak pungkiri rasa kecewa karena sudah terlalu lama saya di rawat di Rs tapi hasil swab saya masih saja positif sedangkan beberapa pasien lain sudah bisa pulang karena hasil swab mereka negatif berturut-turut dari swab yang ke 3 dan ke 4 artinya mereka bisa pulang.

Sudah satu bulan 3 hari lamanya saya di rawat di RS ini, tepat hari itu kedua teman saya pasien sembuh dari covid sudah bisa pulangkan dan sontak sorak sukacita dari semua tim medis dan para undangan yang menghadiri hari dipulangkannya mereka sedangkan saya masih bisa mendengar suar girang kemenangan dari dalam kamar saya di rawat.

Rasa sukacita pun saya rasakn berharap kedepan saya akan seperti mereka, diteriaki semangat dan sukacita melihat kami sudah bisa pulang dan dinyatakan sembuh.

Saya menantikan hari itu, saya tidak sabar lagi, dan saya yakin pasti saya akan sembuh sama seperti mereka.

Tidak lama setelah acara seremonial pemulangan teman saya pasien covid dinyatakan sembuh usai saya pun di kagetkan dengan salah satu perawat yg dinas menjaga kami di zona merah (tempat perawatan pasien covid 19 terkonfirmasi positif) katanya saya harus mempersiapkan diri untuk mau di swab lagi yang ke empata kalinya dan saya bahagia mendengar itu artinya semakin cepat di tes swab semakin cepat peluang untuk segera lekas pulang dan tidak lagi harus diisolasi di RS ini

kasihan teman-teman medis yang akan meryakn lebaran bisa-bisa kalau kami tak kunjung sembuh mereka harus rela rayakan lebaran dengan sunana merawat pasien covid. Ten

Nantikan kabar kemenagan saya melawan covid19.

Keterangan foto.

Tampak salah seorang dokter memegang sampel Swab saya ygbke 4 yg akan dikirim ke kota Makasar, (Senin 18/05/20) Foto : Stenlly Ladee

Sumber : Status Facebook Stanlly Ladee

Tuesday, May 19, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: