Tebebuya Surabaya

Oleh; Iyyas Subiakto

 

Saya bermukim di Surabaya sejak 1993, setahun kemudian saya bergeser ke Sidoarjo pas di daerah Bundaran Waru. Saya ingat waktu itu Walikotanya Sunarto, Kepala daerah pada umumnya zaman orba adalah harus restu Cendana, penggantinya Bambang DH, wakilnya Risma. Risma mulai berkiprah dan dikenal dari sejak dia menjadi kepala pertamanan. Bertarung dgn Arief Affandy, dan menang menjadi walikota Surabaya.

Apa yg dilakukannya pada kurun waktu dia menjabat. Sebenarnya hal yg biasa dan lumrah saja sebagaimana seharusnya. Hanya dia melakukannya dgn kesungguhan, ketekunan, kadang sedikit tekanan kepada anak buahnya yg sudah karatan dgn kelakuan PNS yg cenderung males, santai, dan lebay.

 

 

Bagaimana seninya merawat Surabaya, kalau itu pasti. Latar belakangnya sebagai kepala pertamanan dan jurusan sekolahnya disana, pasti membuat sedikit pembeda dgn kepala daerah lainnya. Bagaimana dia memilih tanaman yg bisa memperindah, bukan asal tanam dan tumbuh. Tebebuya misalnya orang2 sebelumnya tidak mengenal tanaman itu, setelah berbunga baru kita tau namamya, selama ini kita lebih familiar dgn enceng gondok yg sekarang akan dibudidayakan di kali Sentiong Jakarta. Ini masalah selera dan rencana, bedanya Surabaya dan Jakarta adalah orangnya, Walikota Surabaya jelas kerjanya, Gubernur Jakarta, gak bisa apa-apa, bahkan dirinya saja tak dikenalinya, jadi harap maklum saja.

Ada hampir 600 kepala daerah di Indonesia, kenapa hanya Risma yg mendunia, iya, karena Risma yg bekerja dan tau tanggung jawabnya. Dia menjadi langka ditengah orang yg sibuk berpolitik, ngembalikan modal, dan kejar-kejaran dgn KPK. Jatim saja ada 38 Kabuupaten Kota, hanya 3 yg terasa ada kepala daerahnya, Surabaya, Jember dan Banyuwangi. Yg lainnya pada tidur mendengkur. Sidoarjo misalnya, Bupati pengusaha tambak ini kelihatan tololnya. Anda rasakan jalan dari Surabaya masuk bundaran waru, serasa baru dari Osaka masuk kandang kuda. Jangan ditanya Tebebuya, pohon trembesi saja dia tak mengerti.

Ah, Indonesia, andai saja segera ada Risma yg lainnya, maka, Jokowi tidak harus naik roller coaster. Loncat dari tol ke mall, lari di bantaran kali, besoknya ke irigasi. Dia berkeringat setengah mati ngurus negeri, yg sana ribut sama wartawan masalah reuni.

Memang susah menuntut integritas, apalagi kualitas. Maka jangan pilih pemimpin yg cepat panas, nanti dia cepat lemas dan mati ngenes.

Selamat Bu Risma, anda pantas menerima hadiah yg pas. Coba kasi tau kepada orang Jakarta, bahwa Tebebuya itu gak punya agama, tapi saat berbunga kita mengenal Tuhan bersama-sama. Karena disana ada keindahan dari Tuhan, bukan Tuhan diajak reunian dan ribut masalah hitungan. Kita tunggu Risma yg lain lagi, agar ada banyak Tebebuya di Indonesia. Gak usah takut dijajah bunga, karena dia tak beragama.

Terima kasih Bu Risma, engkau telah membuat Surabaya mendunia. Kami bangga, Indonesia bangga!!!

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Saturday, December 8, 2018 - 09:30
Kategori Rubrik: