Taubat

Oleh: Denny Siregar
 
"Kamu tau bagaimana proses taubat itu ?"
Kata temanku. Aku terdiam, kehilangan kata. Dia menyeruput kopinya...
"Anggap saja dunia ini adalah kubangan lumpur. Dan kita seperti babi yang senang bermain di dalamnya. Semakin lama kita berkubang, maka lumpur2 melekat di tubuh kita. Mengeras. Dan sudah sulit dikupas..
 
Taubat itu tidak terucap. Dia ada di relung hati yang paling dalam. Limbungnya sebuah badan karena jiwanya kosong. Dan kita ingin mengubah diri kita menjadi yang lebih baik dari sekarang..
Maka turunlah "bantuan" untuk mengupas seluruh lumpur yang sudah menyatu di kulit. Sakit ? Pasti. Kita mengenalnya dgn kata kehilangan, kepedihan, kemiskinan, kehancuran, ketidakberdayaan dan semua rasa pedih yang kita rasakan..
Proses waktu pengupasannya juga panjang. Bisa bertahun tahun lamanya. Sampai pada titik semua berhala kita hilang. Berhala harta, berhala rupa, berhala jiwa. Berhala itu menyatu dalam bentuk kesombongan.
Puncak proses taubat baru kita rasakan ketika kita hanya bisa pasrah, tak mampu lagi bicara dan satu satunya yang bisa kita lakukan adalah berjalan tanpa punya banyak keinginan. Itulah yang dinamakan ikhlas..
Pada titik itu, jiwa kita baru memancarkan enerji yang mengundang segala kebaikan datang dan melekat dalam diri. Itulah yang dinamakan hidayah, ketika akal yang tadinya seperti awan gelap mulai tersibak dan memasukkan seberkas cahaya. Maka pikiran kita perlahan akan terang, dan bisa melihat banyak peluang yang tadinya tidak kelihatan..."
Dia menyeruput kopinya yang dingin dan melanjutkan..
"Sayangnya, banyak orang yang hanya bicara taubat diujung lidahnya. Dia tidak sanggup mengikuti prosesnya secara keseluruhan. Baru fase pertama dan diberi sedikit saja kenikmatan, dia sudah lupa. Itulah yang dinamakan istidjrad, sebuah tanda dari Tuhan untuk membuka topeng siapa kita sebenar benarnya.."
Semua perkataan itu berlari di benakku. Dan sekian tahun kemudian baru kurasakan ketika ada dalam sebuah peristiwa.
Taubat memang tidak semudah yang diucapkan. Tapi ketika kita menikmati semua proses kepedihannya, kita akan keluar sebagai manusia yang kaya akan ilmu tentang jiwa dan mampu melihat makna terbaik dalam setiap kejadian..
Hidup mengajarkan banyak hal, tapi tidak semua dari kita mau mendengarkan..
Kuseruput kopiku malam ini dan mulai membuang satu persatu keinginan..
(Sumber: Facebook Denny Siregar)
Tuesday, January 26, 2021 - 22:15
Kategori Rubrik: