Taqlid Buta Pada Pemimpin

ilustrasi

Oleh : Jumrana Sukisman

Taklid dilarang dalam Islam karena bisa menghasilkan prasangka. Sementara prasangka yg tercela adalah praduga yg tidak dilandasi ilmu. Taklid pada seseorg tanpa mengetahui dalilnya juga bisa celaka, kita diperintahkan bertafakur dan bertadabbur. Menerima dalil dan memahaminya dlm konteks yg benar. Kita harus menggunakan akal pikiran dan tidak sekedar mengekor.

Tidak boleh bagi seorangpun berpendapat dengan pendapat kami hingga dia mengetahui dalil bagi pendapat tersebut (Imam Abu Hanifah RA)

Aku hanyalah seorang manusia, terkadang benar dan salah. Maka, telitilah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah nabi, maka ambillah. Dan jika tidak sesuai dengan keduanya, maka tinggalkanlah (Malik Bin Anas RA)

Apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang berseberangan dengan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkan pendapatku (Imam Syafi'i RA)

Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula bertaklid kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, tapi ikutilah dalil. (Imam Ahmad Bin Hambal)

setiap muslim meskipun dia mengikuti pendapat seorang imam, kyai, ustadz, ataupun da’i, betapa pun tingginya kedudukan orang tersebut, dia tetap berkewajiban untuk mengetahui dalil dari al-Quran dan sunnah yang menjadi landasan orang yang diikutinya tersebut.

Apabila seorang mengikuti (pendapat) ustadz, kyai, dan da'inya tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain (yang paham), semata-mata karena hawa nafsu dan dia membelanya dengan lisan serta tangannya tanpa mempertimbangkan bahwa individu tersebut berada dalam kebenaran atau tidak, maka orang ini tergolong ke dalam kalangan jahiliyah. Terlebih bila ternyata yang diikutinya keliru, maka orang (yang bertaklid) tadi berdosa. (Majmu’ al-Fatawa 7/71;Asy-Syamilah).

Saya menemukan dalam urusan pilpres ini, banyak org yg taklid pd ustad, kyai, dan da'inya tanpa memahami landasan dalilnya.

Mereka sdg tidak memilih pemimpin, mrk memilih mengekor pd ustadz, dan kyainya tanpa peduli kualitas capres yg mrk pilih.

Saya taklid pd ustadz dan kyai bila berurusan dgn fiqih dan syariah, Krn sy sadar ilmu sy tidak seberapa dlm hal tsb. Tapi sy menolak taklid dalam urusan politik.

Saya punya kriteria pemimpin yg baik.
Yang utama, tentu saja seorg yg taat dlm menjalankan agama, sholat, puasa, bersedekah, rajin mengaji, senang berada di majlis ilmu. 
Shiddiq (kejujuran) menjalankan pemerintahan yg akuntabel dan transparan
Amanah (bertanggung jawab) menjalankan semua kepercayaan yg diberikan kepadanya dgn penuh tanggung jawab. 
Fathanah (cerdas) pemimpin yg memiliki visi yg baik, strategis dan mjd problem solver. 
Tabligh, penyampai yg baik. Mampu berkomunikasi dan menjaga silaturrahmi dgn berbagai kalangan. Tdk suka mengamuk dan marah-marah apalagi menggampar dan lempar handphone 

Saya percaya, pilihanmu menunjukkan siapa dirimu. Juga menunjukkan visimu ttg bagaimana Indonesia yg seharusnya. 
Hubbul wathan minal iman

Sumber : Status Facebook Jumrana Sukisman

Monday, April 8, 2019 - 06:45
Kategori Rubrik: