Tapos, Peternakan Sapi Atau Penindasan?

Ilustrasi

Oleh : Riza Iqbal

Tapos adalah sebuah wilayah yg terletak di desa Cibedug, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pada era keemasan Orde Baru, tempat ini menjadi salah satu daerah terlarang untuk dikunjungi masyarakat biasa sebab disini terdapat sebuah kawasan peternakan sapi milik Soeharto yg bernama "Tri S Ranch"

Terdapat ribuan sapi dan ratusan domba disini. Spesiesnya adalah jenis unggulan seperti Brangus, sapi silangan dari Australia. Berat sapi pejantan unggulan ini mencapai 2 - 3 ton per ekor.

Selain untuk peternakan, dilahan seluas 750 Ha ini juga terdapat pusat pengembangan tanaman hidroponik dan perkebunan teh dan ladang rumput gajah yg seharinya menghasilkan sedikitnya 50 ton rumput sehari untuk pakan semua ternak.

Tapos adalah salah satu lahan fenomenal era kekuasaan Orde Baru. Dengan tangan besi, Soeharto menguasai lahan dibawah kaki Gunung Gede Pangrango itu melalui tindakan semena2 terhadap masyarakat pemilik tanah. Mereka terusir dari tanahnya sendiri yg sudah diwarisakan turun temurun tanpa ganti rugi. Bahkan masyarakat yg telah kehilangan tanahnya itu diharuskan melakukan apa yg diinginkan penguasa.

Ada darah dan air mata yg tumpah saat wilayah tersebut dikuasai dan dibangun sejak tahun 1974. Meski Tapos adalah nama suatu wilayah, karena saking luasnya lahan yg dikuasai Soeharto, masyarakan merubah arti "Tapos" menjadi sebuah akronim, "Tanah Pertanian Orang2 Soeharto".

Sebuah narasi foto hasil karya Erik Prasetya, menggambarkan bagaimana tragedi yg mengiringi keberadaan Tapos.

"Tanah ini milik keluarga kami sejak nenek moyang, tapi mereka merampasnya dengan paksa," tutur seorang petani tentang tanah Tapos yang dikuasai Soeharto dan keluarganya.

Peternakan Tapos mulai dibangun tahun 1974 dengan merebut 750 hektar tanah petani. Di kawasan ini lalu dibangun berbagai proyek pertanian dan peternakan, yang sering menjadi tempat pertemuan informal Soeharto dengan para kroninya. Karena pasokan pangan hewan butuh tanah yang lebih luas, para petani dilarang menggarap kebun dan dipaksa menanam rumput gajah.

Haji Dodo petani Tapos yang melawan dan tetap menanami kebonnya harus berurusan dengan aparat yang memenggal pergelangan tangannya. "Sampai sepuluh tahun saya merasa tangan saya masih ada, sering gatal pada bagian yang buntung," katanya.

**Erik Prasetya adalah fotografer yang dikenal memperkenalkan genre 'Street Photography' di Indonesia, dan telah menerbitkan sejumlah buku.

Tyva -

Sumber : Status Facebook Riza Iqbal

Wednesday, November 21, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: