Tantangan Lock Down Masyarakat Indonesia

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Yang kemarin seharian menyinggung kata lockdown di media sosial, apakah serius sudah tahu apa artinya, bagaimana mekanismenya dan kira-kira dampaknya ke masyarakat sendiri akan seperti apa?

Plis jangan dibandingkan dengan negara-negara yang kesiapan mental berikut kegesitan pemerintahnya sudah jelas teruji, ya.

Ini negara yang rakyatnya pas dapat jatah kupon daging kurban atau ngantri salam tempel lebaran or angpau Imlek saja masih rebutan dengan galak dan ndak jarang chaos. Kadang ada yang mati keinjek apa nggak bisa napas. Tahun besoknya ya terjadi lagi. Terulang lagi.

Pas tsunami Palu contoh kecilnya, pembagian bantuan bagaimana? Alur koordinasinya kek benang kusut, padahal konon bantuan dari berbagai negara berkapal-kapal. Penjarahan di mana-mana. Mau cari keluarga hilang, data awut-awutan. Pemerintah asal dengan pemerintah daerah tujuan penyintas belum tentu kompak. Adanya saling menyalahkan, atau ya para relawan dan penyintas suruh kreatif memikirkan nasib sendiri-sendiri.

Di atas bicara koordinasi satu kota kecil saja, lho...

Ndak usah pusing soal orang kaya dan mapan jika terjadi lockdown. Gerak cepat membeli dan memenuhi keperluan mereka bahkan tanpa perlu mereka yang turun ke toko-toko dan swalayan, tak perlu nunggu dijatah pemerintah. Rehat kerja sekian minggu atau bulan, tabungan ada. Anggap saja sedang liburan murah, toh liburan memang sama dengan menghabiskan duit dan waktu.

Tapi rakyat jelata bagaimana? Sudah ada jaminan mereka bakal tidak lapar dan tetap bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka?

Yang kerja dengan sistem upah harian, bagaimana? Yang kerja dengan upah bulanan moga-moga upahnya tidak diputihkan. Yang memang pada dasarnya tidak percaya pemerintah tapi juga tidak punya kemampuan menghidupi dirinya sendiri, juga gimana?

Chaos kecil saja bisa memancing kekalutan, kemarahan, kemudian perkelahian, lalu penjarahan di mana-mana, toh kita sudah terlalu terbiasa 'sarapan' hoax, trus siangnya panik dan malamnya diadu domba. Orang kalut dikasih satu paket dengan orang lapar, klop!

Ingat kasus penjarahan tahun 1998 saja, perut masih rasa melilit. Perih! Belum lagi kalau menyinggung, betapa mudah bangsa ini terkotak-kotak karena urusan beda ras dan agama.

Lockdown itu memang alternatif penyelesaian yang paripurna menangani wabah virus corona asal negaranya benar mampu, pemerintahnya siaga, semua elemen bangsa siap bahu-membahu dan rakyat yang mau diatur tidak ngeyel. Disiplin, serta punya kesadaran tinggi untuk berjuang bersama-sama, susah senang rela ditanggung sama-sama atas kesadaran masing-masing tanpa perlu debat kusir yang panjang atau bertanya agamamu apa. Rakyat heroik, pemerintah tidak cepat tanggap, ya mana bisa. Pemerintah pengin heroik, tapi rakyatnya minim kesadaran plus sok tahunya kebangetan, ya susah juga.

Dan lockdown itu semestinya dilakukan di waktu yang dini, sudah bukan 'barang' yang masih harus dikejar persiapannya. Dan rakyat sudah siap dengan segala konsekuensinya, siap berpartisipasi membuat misi ini berhasil.

Lha ini? Cara cuci tangan saja masih banyak yang keliru, virus corona konon adalah tentara Allah, masker bekas didaur ulang dijual lagi, udah jelas terinfeksi corona eh malah kabur dari RS...

Kita berdoa saja yang kencang, yuk sambil terus ingat jaga diri dan keluarga baik-baik... Atau deaktiv akun medsos sementara kalau dirasa-rasa status-status simpang siur sudah bikin korslet pikiran. Atau kalau ndak ya puasa nyinyir, jangan menambah galau hati teman dan tetangga yang kadang ndak mampu mikir hal-hal yang njelimet. Yang cuma takut mati. Dan lapar.

Sehat, sehat, sehat.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Sunday, March 15, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: