Tanpa Emak yang Baperan

ilustrasi

Oleh : Uster B Kadrisson

Scott Morrison, Perdana Mentri Australia yang sekarang sangat gemar dan mempunyai hobby mengumpulkan batu-batuan, disebut amateur geology atau rockhound kalau di Amerika. Kadang dia sering membawa sebungkah coal atau batu bara ke dalam ruang sidang dan diletakkan di atas meja untuk sekedar menunjukkan kalau dia sangat suka. Memang banyak orang yang senang mengumpulkan batu-batuan aneka warna dan rupa karena mereka bisa memberikan kesenangan yang tiada tara. Sebagian orang juga percaya kalau masing-masing batu dapat memberikan efek kesehatan atau ketenangan hati, dan masing-masing orang mempunyai pengalaman yang berbeda-beda.

Tetapi ketika Scott Morrison diangkat menjadi Perdana Mentri dan sampai sekarang dia masih juga senang berbicara tentang batu bara, sehingga membuat cerita menjadi berbeda. Dia menginginkan kalau Australia tetap untuk menambang batu bara dan menjadikan komoditas produksi sebagai bahan bakar yang utama. Saat ini penambangan batu bara dan penggunaan bahan bakar yang berdasarkan fossil seperti minyak mentah menyebabkan lebih dari setengah carbon emission di seluruh dunia. Artinya tujuan untuk membuat udara di dunia bebas dari polusi atau setidaknya target untuk menurunkan kadar emisi di tahun 2030 masih sangat jauh dari cita-cita.

Tahun lalu menjelang Christmas, badan PBB mengadakan sebuah pertemuan untuk membahas tentang perubahan cuaca yang diadakan di Spanyol. Sekelompok activist yang berpusat di Paris membuat sebuah video yang menampilkan anak-anak kecil yang meminta hadiah Natal sebentuk batu bara alias coal. Setiap tahun, jutaan anak-anak di seluruh dunia biasanya meminta hadiah yang bagus, baju yang indah, mainan atau juga barbie doll. Sedangkan untuk anak-anak yang nakal dan tidak patuh, Santa Claus akan memberikan batu bara di kantong yang disangkutkan di perapian sebagai peringatan supaya tidak lagi untuk berbuat konyol.

Tetapi untuk kali ini anak-anak tersebut bersedia kalau hadiah cantiknya digantikan dengan batu bara yang nantinya akan dikumpulkan. Dengan maksud supaya orang-orang dewasa tidak lagi membakarnya dan akan membuat udara menjadi lebih bersih dan nyaman. Pesan ini sangat sederhana dan simple supaya para pemimpin dunia mulai berpikir untuk mencari pengganti seperti energi yang terbarukan dan membuat polusi bisa ditekan. Sehingga dunia akan mempunyai lingkungan yang bersih dan hijau yang akan bisa diwariskan kepada anak cucu dan keturunan di masa depan.

Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di Manitoba, Canada suka menulis surat kepada para kepala negara yang ada di seluruh dunia jika dia mendapatkan alamat kantor tempat mereka bekerja. Dia hanya menuliskan dan bertanya tentang hal-hal simple khasnya seorang anak usia belia, seperti tentang apa yang dibanggakan di negara mereka. Juga bertanya tentang apa yang harus dia lihat jika dia bisa datang berkunjung di suatu masa, serta tidak lupa mengundang mereka untuk makan es krim jika mereka datang ke Manitoba. Dia mendapat balasan sekitar 27 surat termasuk dari Korea Utara, biasanya mereka hanya memberikan brosur dan buku-buku serta undangan tidak resmi untuk menemaninya jika kalau suatu saat dia bisa datang menjejakkan kakinya.

Greta Thunberg dari Swedia berusia sekitar 14 tahun ketika dia sudah mulai concern dengan lingkungan hidup dan memulainya dari keluarga. Dia memaksakan kepada orangtuanya untuk mengikuti suatu lifestyle seperti daur ulang dan mengurangi konsumsi bahan bakar yang bertujuan untuk mengurangi carbon footprint keluarga mereka. Di umur 15 tahun, setiap Jumat dia berdiri di depan gedung parlemen Swedia, dengan selembar papan karton yang bertuliskan ajakan protes untuk lebih perduli lingkungan dan perubahan masalah cuaca. Gerakannya kemudian diikuti oleh anak-anak lain diberbagai pelosok dunia dan Greta akhirnya mempunyai kesempatan untuk menyampaikan protesnya di sidang PBB di depan para pemimpin dunia.

Malala Yousafzai menulis kepada kantor berita BBC Urdu ketika dia berusia 11 tahun, kebetulan dia berasal dari keturunan Pashtun yang berada di negara Pakistan. Dia menceritakan tentang bagaimana susahnya anak-anak terutama anak perempuan untuk bersekolah di jaman ketika pemerintahan dikuasai oleh Taliban. Dia menjadi aktivist pergerakan untuk kesetaraan pendidikan untuk perempuan dan namanya kemudian menjadi bahan pembicaraan di dunia Internasional ketika dia menjadi incaran pembunuh bayaran. Nyawanya hampir melayang dengan sebuah butir peluru bersarang di kepala, tetapi dia tidak berhenti menyuarakan keadilan sampai dinobatkan sebagai pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian.

Ada banyak anak-anak di dunia yang tampak lebih dewasa dari usia mereka dan bisa dengan lantang menyuarakan keprihatinan terhadap persoalan lokal atau dunia. Tetapi menjadi masalah ketika orang-orang yang ada disekitar memanfaatkan kepolosan mereka hanya untuk sekedar menangguk keuntungan demi karir politik semata. Anak-anak mereka dijual dan dijadikan tameng untuk mencari simpati dengan dalih memberikan asupan atau kritik kepada kepala negara. Ah.. beruntung anak-anak yang saya ceritakan di atas tidak mempunyai keluarga yang baperan dan emak yang sensi habis, apalagi kalau nanti diikuti dengan keluarnya video yang diiringi oleh soundtrack dengan sebuah balada karya si opa.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Saturday, May 9, 2020 - 11:45
Kategori Rubrik: