Tanggapan atas Status-Status SARA terkait Meletusnya Gunung Agung

 
Bagi kami Tuhan tidak lain sosok ayah yg mengayomi semua ciptaannya secara adil, bahkan kami percaya bahwa Tuhan ada disetiap diri manusia ( Parama Atma – Bhagawad Gita ). Kami juga percaya bencana alam terjadi karena keharusan siklus kehidupan dan kami orang Bali siap bahkan menyambut dengan ikhlas jika bencana itu datang kapanpun juga.
Jadi jangan tuduh kami sebagai suku bangsa perengek yang suka berkeluh kesah saat musibah terjadi, dan tegas itu bukan karakter leluhur kami. Orang – orang Bali adalah keturunan Bali Mula dan Bali Majapahit yang dikenal satya wacana terhadap ideologi dan ini yg mungkin menyebabkan Bali lebih dikenal didunia dari wilayah manapun di Nusantara hingga kini. Pada tahun 1963 Gunung Agung meletus dan akibat POSITIF nya bahwa sejak saat itu ratusan ribu orang Bali disebar oleh negara melalui programTransmigrasi dipulau pulau Indonesia, dan kita lihat saat ini hasilnya : Orang Orang Bali di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua mampu membangun kampung Bali yang mapan lengkap dgn budaya aslinya bahkan kini dibeberapa wilayah Nusantara mampu menjadi mayoritas kedua terbesar dan itu adalah contoh kecil keberkahan dari meletusnya Gunung Agung 1963. Kami juga percaya itu bagian dari kehendak sejarah untuk memenuhi ramalan Sabdo Palon Nayogenggong untuk bisa membangun pura pura besar diseluruh Nusantara hampir merata diseluruh Provinsi ( Jagatnatha ).
Tanpa campur tangan Gunung Agung saat itu, mustahil kami bisa seperti saat ini. Contoh lain ? Mari ambil sejarah saat BOM BALI I dan II terjadi 2002 dan 2005, ketika itu, kami orang Bali menghadapi dgn kepala tegak dan tanpa dendam pada oknum teroris biadab yang tega membunuh tamu tamu bangsa ini dengan alasan agama, surga dan bidadari. Kami orang Bali ( baca : Umat Hindu Bali ) punya cara dan pandangan berbeda dalam menghadapi bencana dan jangan lupa kami juga kaum yang percaya dgn hukum paling absolut milik Tuhan yakni Karma Phala.
Jadi, jangan sekali kali menghakimi kami orang Bali, sudahi menyakiti sesama. Komentar negatif ditengah situasi saudara bangsa yang sedang menghadapi bencana bukanlah sikap Pancasilais. 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *