Tanah Abang Lebih Penting Dari Khayalan Ojek Terbangmu

Ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Foto ini saya dapatkan dari akun sahabat Eko Sulistyanto Kursi ini terletak didepan trotoar Tanah Abang beberapa meter dari pintu keluar stasiun kereta. Mas Eko merekamnya dari pertama-tama dipasang hingga penampakannya malam kemarin. Serasa peradaban Jakarta bergerak mundur ke belakang.

Puluhan tahun kawasan Tanah Abang terkesan sumpek. Berkali-kali ganti Gubernur tidak pernah ada terobosan berarti. Kawasan itu tetap macet oleh pedagang kaki lima (PKL) dan tidak bisa ditertibkan. Pasar Tanah Abang tercatat sebagai pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara dan sebagai pusat perdagangan pakaian dan tekstil utama ke berbagai wilayah di Indonesia, Asia dan dunia. Jangan kaget kalau banyak orang-orang berkulit hitam asal Afrika berbelanja di tempat ini. Jadi, tidak heran pula kalau pasar ini menjadi idola bagi para pedagang seantero nusantara. Saking jadi “idola”, sekitar pasar ini menjadi tidak tertib karena banyaknya pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjajakan dagangannya di pinggir dan trotoar jalan. Ditambah lagi munculnya terminal bayangan serta angkutan kota yang parkir sembarangan menjadikan kesemrawutan kawasan ini semakin lengkap dari kemacetan hingga premanisme.

Namun, dalam satu tahun pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Jokowi, ratusan pedagang di pasar Tanah Abang berhasil ditertibkan. Jokowi bersama wakilnya Ahok dalam tahun pertama kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI Jakarta berhasil memindahkan pedagang kaki lima ke ratusan kios di Blok G pasar Tanah Abang. Mereka berdua mempunyai cara-cara persuasif sampai ke cara-cara tegas dalam menghadapi pedagang kaki lima yang nekat balik ke pinggir jalan ketika pendapatannya menurun di tempat baru.

Berkisah tentang Blok G Pusat Grosir Tanah Abang sebenarnya sudah berusia cukup lama yakni sekitar tahun 1996-an, tepatnya setelah kebakaran besar melanda Blok A, B, C, D, dan E Februari 2003. Pasca kebakaran, Blok G ikut direnovasi pada tahun 2004. Seribuan PKL kemudian mengisi Lantai 1 sampai 4, sedangkan lantai dasar dipenuhi pedagang kambing dan sapi yang sekaligus melakukan aktivitas pemotongan hewan-hewan tersebut di sana. Para pedagang dan jagal kambing ini merupakan pindahan dari Lantai Dasar Blok F.

Karena risih dengan merajalelanya preman dan PSK, yang beroperasi seenaknya di Lantai 4, yang pada gilirannya juga membuat para pembeli enggan berbelanja ke Blok G, sehingga lagi-lagi Blok G itu menjadi mati suri, para PKL itupun meninggalkan kios yang telah disewa atau dibelinya dan kembali membuka lapak di Jl. Jati Baru, Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder dan Jl. K.H. Mas Mansyur yang difasilitasi dengan baik oleh komunitas "anak wilayah" alias para pemuda yang bermukim di seputaran kawasan Pusat Grosir Tanah Abang, terutama dari 4 kelurahan yaitu Kelurahan Kebon Melati, Kebon Kacang, Kampung Bali dan Petamburan.

Merajalelanya preman dan PSK di Lantai 4 Blok G itu membuat para pedagang dan calon pembeli risih, pembeli enggan ke Blok G dan pedagang tak berjual-beli, belum lagi tingkah polah mereka—preman–yang seenaknya, seperti mengambil rokok atau minuman tanpa bayar, makan minum gratis, minta rokok atau uang tiap sebentar, mencopet atau bahkan menodong, juga para PSK yang mandi dan berdandan di kios-kios kosong tanpa mempedulikan situasi dan kondisi di sekitarnya, akibatnya para pedagang satu-persatu kembali lagi ke jalan. Blok G pun makin lama makin menjadi suram dan kumuh, sampai-sampai digelari blok mati.

Namun di era Jokowi – Ahok Pusat Grosir Tanah Abang berubah total. PKL bisa dibujuk masuk ke Blok G, fungsi jalan dan trotoar dikembalikan lagi sebagaimana mestinya sebagai jalan raya dan tempat berjalan kaki bagi warga, parkir dan lapak liar yang menjadikan jalan raya dan trotoar sebagai sumber penghasilan ilegal dilenyapkan, keamanan dan rasa aman masyarakat dipulihkan.

Dibentuklah tim yang terdiri dari Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) terkait, termasuk juga pihak PD Pasar Jaya sebagai pengelola. Tim yang diketuai oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (saat itu masih menjabat sebagai wakil gubernur) bertugas untuk menata kawasan-kawasan belum tertata dengan baik.

Kegiatan ini berawal dari pertemuan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Gubernur BI, Agus W Martowardojo di Blok G Pasar Tanah Abang. Harapan agar penataan blok G menjadi lebih modern, bersih dan menarik dengan konsep foodcourt dan kelontong. Apa yang disampaikan Joko Widodo saat itu disambut baik oleh pihak BI yang kemudian menggandeng beberapa mitra perbankan seperti BRI, Bank DKI dan BCA untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Malam ini, saya melihat foto itu serasa terngiang kembali perkataan Sutarno (pekerja kebersihan di Blok G) saat saya mewawancarai mereka tahun Desember 2014 lalu,

" Pak Jokowi waktu relokasi dan pembangunan Food Court Blok G hampir tiap malam kesini, jam 1 malam beliau masih ngawasin orang kerja. Semua dirangkul di ajak bicara mulai preman, sampai kami ini" ujarnya.

Hari ini, melihat foto ini saya perih. Kerjakeras memanusiakan Tanah abang yang dilakukan Jokowi Ahok, terasa sia-sia. Waktu berputar mundur, seperti Tanah abang 5 tahun lalu. Ini tugas Anda mas Anies dan Sandi, jauh lebih penting daripada anda mengigau soal ojek terbang dan menuding tidak jelas.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Sunday, November 26, 2017 - 18:30
Kategori Rubrik: