Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia yang Terlupakan

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Perjuangan Awal (1908 – 1919)

Pada awalnya...., Ibrahim adalah seorang pemuda desa di Pandan Gadang...., Suliki...., sekarang Kabupaten Limapuluh Kota....., Sumatera Barat.

Seperti pemuda-pemuda asal Minangkabau lainnya pada waktu itu...., ia tinggal di surau sejak usia 5 tahun dan mempelajari ilmu agama dan beladiri Pencak Silat.

Ketika usianya 11 tahun...., ia mendaftarkan diri ke Kweekschool...., sekolah calon guru di Fort de Kock (sekarang bernama Kota Bukitinggi).
Di sana...., dia suka banget sama pelajaran Bahasa Belanda...., dan lebih lanjut malah disuruh sama gurunya untuk jadi guru Bahasa Belanda.

Singkat kata....., setelah 5 tahun mengenyam pendidikan di Kweekschool....., orang-orang sekampungnya menganggap dia merupakan aset kampungnya yang harus didukung.

Oleh karena itu...., orang-orang di kampungnya...., terutama kalangan “engku”/kakek-kakeknya...., mengumpulkan uang agar Ibrahim bisa melanjutkan sekolah di Negeri Belanda.

Ia akhirnya diterima di Rijkskweekschool (Sekolah Kejuruan Guru Kerajaan/Negeri) di Kota Haarlem...., Belanda.

Naah..., di Haarlem inilah doi bisa belajar banyak soal filsafat..., ekonomi dan sosial..., yang saat itu memang lagi berkembang di Eropa.

Arus perkembangan ekonomi dan sosial di Eropa ini disebabkan oleh arus panjang Revolusi Industri (1750-1850)...., yang dampaknya masih terasa di akhir abad 19 dan awal abad 20.

Di satu sisi...., perkembangan teknologi dunia berkembang sangat pesat..., dari penemuan baterai...., kapal uap...., telegraf...., telepon...., mobil hingga pesawat terbang.

Tapi...., di sisi lain...., dampak sosial yang terjadi sangat memprihatinkan...: harga barang jatuh...., usaha kecil menengah bangkrut...., upah buruh sangat murah...., adanya kesenjangan sosial antara pengusaha dan buruh...., dan sebagainya.

Fenomena ekonomi dan sosial yang berkembang begitu cepat di Eropa ini yang membakar semangat Ibrahim (sekarang sudah bergelar Tan Malaka)..., untuk terus belajar kendati situasi keamanan di sana sangat rawan karena Perang Dunia I.

Sementara itu...., fenomena ketimpangan sosial yang terjadi di Eropa...., disambut dengan lahirnya pemikiran baru yang ditawarkan oleh para filsafat ekonomi dan politik...., yaitu ideologi sosialisme dan komunisme..., yang menawarkan "keadilan" bagi para buruh dan kaum tertindas.

Ideologi itu semakin berkembang setelah kesuksesan Revolusi Bolshevik pada tahun 1917 di Rusia..., yang sangat menginspirasi gagasan komunisme.

Hal itu membuat Tan Malaka semakin penasaran dengan gagasan komunisme..., dan melahap habis buku Karl Marx...., Friedrich Engles...., Vladimir Lenin..., dan lain-lain yang pada intinya menawarkan kesetaraan hak ekonomi bagi masyarakat.

Lambat laun..., haluan ideologi Tan Malaka makin terbentuk ke arah ideologi sosialisme dan komunisme..., hingga dirinya sempat ketemu dengan Henk Sneevliet..., tokoh komunis yang baru saja kembali dari Hindia Belanda setelah mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV)..., atau Perkumpulan Sosial Demokrasi Hindia...., cikal bakal Partai Komunis Indonesia.

Implementasi Perjuangan (1919 – 1922)

Setelah menyelesaikan studi di Belanda...., Tan Malaka menjadi seorang guru Bahasa Melayu untuk anak-anak buruh perkebunan teh dan tembakau di Sanembah...., Sumatera Utara.

Pengalaman mengajar inilah yang menjadi inspirasi pertama Tan Malaka untuk memperjuangkan hak rakyat dari bentuk kolonialisme Belanda.

Dari pengalaman mengajar ini jugalah..., Tan Malaka melihat secara langsung penderitaan kaum buruh perkebunan teh yang diupah rendah..., yang sering ditipu karena buta huruf dan tidak lancar berhitung..., diperas keringatnya habis-habisan di tanah mereka sendiri.

Berbekal dari semangat membela kaumnya ini..., serta pengetahuan sosial politik yang dia pelajari selama di Eropa..., Tan Malaka memutuskan untuk bergabung dengan organisasi ISDV.

ISDV sendiri sebetulnya adalah organisasi bentukan para anggota partai buruh di negeri Belanda tahun 1914..., yang bermukim di wilayah Hindia Belanda.

Pergerakan organisasi ISDV ini berbasis ideologi Marxisme..., yang pada intinya memperjuangkan hak kepemilikan tanah dan alat produksi kepada rakyat agar tidak dimonopoli oleh kaum pemilik modal dan kolonial asing.

Perkumpulan ISDV ini bisa dibilang cukup radikal dalam melawan "penindasan" dari kolonial Belanda..., sampai2 merekrut para tentara dan pelaut Belanda untuk angkat senjata melawan para komandan mereka sendiri.

Ujung-ujungnya..., pihak Belanda memenjarakan para "pengkhianat" tersebut..., sampai para pentolan ISDV yang orang Belanda (termasuk Sneevliet) dipaksa pulang kembali ke negeri Belanda.

Ternyata...., gerakan ISDV yang terang-terangan membela kaum tertindas ini tidak betul-betul mati sepenuhnya.

Dalam proses bentrokan ISDV dengan pemerintah Belanda...., ISDV sempat mengundang simpati para pemuda muslim di Sarekat Islam (selanjutnya disebut SI)..., yang pada saat itu dipimpin oleh Semaoen dari Surabaya dan Darsono dari Solo.

Lambat laun..., gerakan ISDV ini semakin beralih dari "LSM wong londo pembela hak pribumi" menjadi didominasi oleh kaum pribumi muslim.

Sampai akhirnya pada tahun 1920....., ISDV resmi berganti nama menjadi "Perkumpulan Komunis di Hindia" (PKH).

Sementara itu...., Tan Malaka yang sudah "gemes banget" melihat penderitaan para buruh..., memutuskan pindah ke Jawa dan ikut berjuang bersama PKH hasil bentukan SI dengan ISDV.

Di Semarang...., Tan Malaka dipercaya untuk merintis Sekolah Rakjat dengan menjadi guru sekaligus kepala sekolah di Semarang.

Ternyata..., setelah bergabung dengan PKH..., Tan Malaka tidak hanya sibuk mengajar mencerdaskan rakyat saja..., tetapi juga ikut berjuang di serikat pekerja/buruh di seluruh Jawa..., dari serikat buruh tambang minyak...., rel kereta...., percetakan..., dan lain-lain semuanya diikuti oleh Tan Malaka agar hak para buruh dapat dibela oleh orang-orang terdidik.

Namun sayangnya...., kolaborasi antara Sarekat Islam dengan PKH tidak berjalan harmonis..., karena banyak anggota SI (terutama H.Agus Salim)..., yang berpikir bahwa pandangan politik sosialis dan komunis tidak selaras dengan syariat Islam.

Sementara itu..., Tan Malaka sendiri berpendapat bahwa hal itu tidak perlu dipersoalkan.

Tapi..., ujung-ujungnya PKH tetap lepas sepenuhnya dari kepengurusan SI dalam keputusan Kongres Sarekat Islam VI tahun 1921.

Setelah menjadi organisasi mandiri...., PKH menunjuk Semaoen sebagai ketua.

Dalam masa kepemimpinannya..., Semaoen cenderung mengambil langkah hati-hati dan menghindari konflik dengan pemerintahan kolonial.

Sementara itu..., Tan Malaka orang yang cenderung lebih "gemes" dan frontal dalam melawan Belanda.

Sampai akhirnya..., ketika Semaoen harus meninggalkan Nusantara untuk menghadiri konferensi buruh internasional di Moskow..., Tan Malaka punya kesempatan untuk mengambil alih kepemimpinan PKH.

Gaya kepemimpinan Tan Malaka ini sangat berbeda dengan Semaoen..., Malaka mengambil jalur radikal..

Kalau bisa diibaratkan...., Semaoen ini seperti Gandhi yang kalem..., maka Tan Malaka ini seperti Che Guevara yang frontal.

Malaka memimpin gerakan aksi demonstrasi para buruh dan pedagang kios pegadaian.

Dari situlah..., Tan Malaka berhasil mengambil kepercayaan masyarakat..., terutama kaum pekerja..., bahwa PKH adalah mitra sejati kaum pekerja dan bersedia untuk membantu melawan penindasan terhadap pekerja.

Lama kelamaan...., pemerintah kolonial Belanda gerah juga dengan satu tokoh yang sudah bikin situasi bisnis mereka kacau di mana-mana.

Sampai akhirnya..., Tan Malaka ditangkap polisi Belanda.

Kemudian..., atas perintah Gubernur Jenderal Dirk Fock...., Tan Malaka diasingkan ke Belanda biar tidak bisa memimpin pemberontakan lagi.

Di situ...., pemerintah Belanda bisa sedikit bernafas lega..., karena satu biang kerok sumber masalah berhasil "dibuang" jauh-jauh ribuan kilometer dari Hindia Belanda.

Rahayu.

Sumber : Status facebook Buyung Kaneka Waluya

Saturday, August 1, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: