Takut Pada Agama, Tuhan atau Politik?

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Takut (atau tepatnya tunduk) pada agama, atau nilai-nilai agama, itu baik dan benar. Tapi takut pada orang beragama, apalagi beragamanya merugikan liyan, adalah ketakutan yang menyesatkan, dan tak sepantasnya. Ngapain takut pada yang kek gitu? Takut dikroyok, diintimidasi, dibully?

Atas nama hukum dan HAM, beberapa manusia popular dan beberapa lembaga, ormas dengan elitenya yang sering nongol di media, menyarankan agar Pemerintah Indonesia memulangkan bekas WNI yang menjadi kombatan maupun (terutama) korban ISIS. Disebut bekas, karena para ISISer ini sudah membuang dan membakar surat-surat serta identitas keindonesiaan mereka. Mereka meyakini Negara dan Pemerintah Indonesia adalah thogut, ciptaan iblis.

 

Apakah mereka korban ISIS? Apakah ketika masuk ISIS, dalam kondisi tak sadar? Mabuk? Saya tak mau menyebut mabuk agama, misalnya. Karena nanti dituding menyamakan agama dengan minuman apa gitu. Karena mabuk bir dan mabuk agama beda efeknya. Saya nggak mau nyebut berat-an mana. Nanti dikira tukang timbangan. 

Kalau dikata mereka ketipu, kok bisa? Saking bodohnya yang menipu atau cerdasnya yang tertipu? Salah yang menipu atau yang ketipu? Maka, mau dipulangkan (atau tidak), ada persoalan hukum di dalamnya. Dalam UU Kewarganegaraan RI, karena sudah bukan WNI, jika mau menjadi WNI kembali, harus melalui proses atau tahapan hukum administrasi kewarganegaraan. Dengan segala syarat dan ketentuan berlaku.

Di situ soalnya. Akan ada banyak upacara. Berapa biaya pemulangan, dengan pesawat atau kapal, ngangkut 600-an ISISer? Berapa lama perjalanan? Berapa kali makan? Honor ahli kesehatan, psikolog? Sampai di Indonesia, langsung pulang ke rumah, peluk-pelukan sambil tangis-tangisan? Tentu tidak. Akan ada evakuasi, rehabilitasi, atau program deradikalisasi. Berapa lama? Melibatkan siapa saja? Hitung duit perkepala yang terlibat “proyek kemanusiaan” ini. Duit siapa? Duitnya Mbahmu?

Pemerintah, atau negara, jangan hanya ndengerin SJW, para pejuang HAM, elite politik, kaum agamawan. Denger juga suara rakyat keseluruhan, apalagi korban dari perilaku ISISer dan simpatisannya sewaktu di Indonesia. Negara mesti berbuat adil mempertimbangkan emosi dan psikologi massa yang menolak mereka. Mari proporsional, tak mengistimewakan agama, kecuali sebagai laku privat, ke proses internal masing-masing individu. 

Selama ini, pemerintah dan para agamawan, jarang mendidik masyarakat agar tunduk pada social religion, aturan bersama. Kita dibikin takut pada agama, bukan takut pada tuhan (seandainya tuhan dipersonifikasi menakutkan). Tapi begitulah, jika agama dikacaukan sebagai alat politik. Dan politik agama lebih mengerikan bukan, sekali pun sudah bilang nothing to lose? 

Kapan Indonesia maju, dan berjaya, di luar slogan, jika agama justeru selalu jadi sumber masalah? Atau pertanyaan awamnya: Kapan agama jadi bagian dari solusi bersama? Menjadi Berkah Dalem, rahmatan lil alamin?

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Wednesday, February 12, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: