Takkan Pernah Kulupa; Kerusuhan Rasial 1980

Oleh: Arief Prihantoro
 

November 1980, saya tidak ingat tanggal pastinya, adalah kenangan kelam, sadistik dan traumatik bagi saya, yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Ini adalah kenangan tentang pembantaian saudara2 kita keturunan Tionghoa dalam amuk massa. Dan kenangan buruk ini terungkit kembali melalui pemicu tulisan seseorang yang pernah menjadi pengawal negeri ini untuk menjaga NKRI.

Tahun 1980, saat itu saya masih SD kelas 6 di sekolah Katolik SD Santa Theresia Semarang. Sekolah yg murid2nya berasal dari multi etnis dan beragam latar belakang suku serta agama. Di sekolah, kami terbiasa belajar menerima perbedaan tanpa dilandasi sentimen SARA. Kami tidak pernah membeda-bedakan orang lain dari latar belakang agamanya, sukunya ataupun rasnya. Kami tidak mengenal beda pribumi dan non pribumi. Kami adalah sesama manusia dengan segala pembeda yang melekat pada diri kami. Lingkungan sosial di sekolah kami adalah lingkungan sosial yg damai dan penuh kekeluargaan. Saya sendiri dari suku Jawa dan seorang muslim sejak kecil yang tumbuh besar dalam keluarga kami yang Kristen Protestan.

Setiap hari saya berangkat ke sekolah menggunakan bus Antar Kota, karena lokasi rumah saya jauh dari lokasi sekolah. Saya tinggal di Semarang Atas, sementara sekolah kami ada di Semarang Bawah, dekat dengan Stasiun Tawang, berpunggungan dengan Rumah Sakit Jiwa Tawang. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 25 - 30 km.

Saya sering berangkat bersama sahabat saya yg selalu kocak, Andreas Setyo Prayoga yg sering kami panggil dengan panggilan Gogor. Sesekali kami ikut menumpang bus jemputan TNI AL bareng sahabat kami yg lain,Nevy Susanto. Pulang sekolah kadang saya dan Andreas bertiga naik becak bersama sahabat kami yg lain, Cn Rifai Rifai, menuju terminal bus Bubakan.

November itu, entah tanggal berapa tepatnya, sekolah kami dipulangkan awal. Kalau tidak salah ingat sekitar jam 10.00 WIB. Menurut pengumuman dari Kepala Sekolah akan ada huru-hara sehingga kami harus lekas pulang ke rumah.

Keluar dari gerbang sekolah suasana sudah agak chaos. Banyak orang tua penjemput yg nampak panik. Gogor dijemput ibunya, Bu Pardam. Kami sempat cari2 Rifai tetapi tidak ketemu. Kemudian bu Pardam berusaha mencari becak untuk menuju ke terminal Bubakan. Tetapi sayangnya semua becak sudah terpesan. Lantas kami jalan kaki menuju terminal Bubakan.

Di sepanjang jalan menuju terminal, jalanan sudah dipenuhi massa. Saya terpisah dari Gogor dan Ibunya. Saya terbawa arus massa yg teriak2 beringas, membawa pentungan, batu dan botol2 berisi bensin (bom molotov). Akhirnya saya sampai ke terminal Bubakan seorang diri. Sesampainya di dalam terminal ternyata tidak nampak satu bus pun yang mangkal. Saya sempat panik, tetapi saya mencoba berusaha tetap tenang. Kemudian saya nekat memutuskan pulang ke rumah dengan jalan kaki menempuh jarak 25 - 30 km, ditengah arus amuk massa.

Saya berjalan melewati jalan MT Haryono. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak pintu ruko / rumah ditulis dg huruf besar-besar "Pribumi", "Jawa", "Muslim", "Arab", " India". Teriakan2 diantara kerumunan massa membuat bulu kuduk saya berdiri dan membuat saya ketakutan. "Usir Cina", "Bunuh Cina", "Bakar Cina".... adalah suara teriakan2 yg saya dengar dan sering terasa masih mengiang2 di telinga saya hingga saat ini.

Saya tetap melanjutkan jalan kaki lewat jalan MT Haryono dengan perasan ketakutan. Namun saya tetap menguatkan tekad harus bisa sampai ke rumah.

Di pertengahan jalan MT Haryono saya melihat ada beberapa orang diseret ke tengah jalan lalu digebukin, diinjak2, hingga nampak darah mengucur. Banyak Ruko dan rumah-rumah dijarah, pemiliknya diseret keluar. Orang-orang pada teriak histeris. Saking takutnya lihat pemandangan tersebut saya hanya bisa jongkok dan menangis ketakutan.

Saat itu saya menyaksikan begitu kejinya manusia pada sesamanya. Saya seperti melihat sekumpulan binatang buas dan beringas, ketimbang sekumpulan manusia. Tetapi nampaknya diantara kerumunan massa tersebut tidak ada satupun yg berani menolong para korban. Bahkan tidak ada satupun yg nampak peduli dengan saya, anak kecil yg sedang menangis ketakutan. Saat itulah saya melihat setiap manusia dalam kerumunan massa tersebut menunjukkan individualitasnya, mereka mencari selamat untuk dirinya masing2.

Sambil menangis saya nekat melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan MT Haryono sudah mulai nampak banyak asap mengepul. Saya lihat ada beberapa mobil dibakar, pemiliknya entah kemana. Sampai ke perempatan jalan Kartini arus dibelokkan ke arah jalan Citarum lantas belok lagi ke arah jalan Mataram.

Sampai di perempatan jalan Mataram (dekat Soto Bangkong) tiba2 banyak orang berlari berhamburan berbalik arah sambil berteriak2 histeris. Saya merangsek mepet ke tembok ruko di dekat saya, karena takut diterjang oleh mereka. Di belakang massa yg lari berbalik arah tersebut ternyata ada seseorang yg sedang berlarian dg seluruh tubuh diliputi api yg menyala-nyala. Saya pun ikut berlari ketakutan. Untung tidak sampai jatuh terinjak2 oleh kerumunan orang2 dewasa.

Tiba2 massa yg berlarian tsb menghentikan larinya. Dan saya tengok ke belakang, ke arah orang yg terbakar tersebut, ternyata dia telah tersungkur menggelepar-gelepar dengan api tetap menyala-nyala ditubuhnya. Sepertinya dia dibakar oleh massa. Mengingatnya kembali membuat saya mual ingin muntah.

Saya tidak mampu melanjutkan semua detail tulisan saya ini, krn saya benar2 menangis mengingat memory2 sadistik semasa saya kecil tersebut.

Saya hanya ingin mengingat sesampainya saya di rumah. Saya sampai di rumah selepas Isya. Kedua orang tua saya menangis karena seharian tidak tahu khabar tentang keberadaan saya. Begitu saya sampai di rumah, Bapak saya langsung memeluk dan menggendong saya. Sementara banyak tetangga berkerumun di rumah saya.

Saat sudah mulai tenang di rumah, yang masih terpikir oleh saya adalah bagaimana kondisi teman2 sekolah saya. Banyak sahabat2 saya yg keturunan Tionghoa. Apakah mereka semua selamat ? Bagaimana dengan Gogor dan Ibunya yg terpisah dg saya di tengah amuk massa ? Bagaimana dengan Rifai yg sempat kami cari-cari ? Dan bagaimana dengan kawan2 kami yg lain ?

Alhamdulillah ketika sudah masuk sekolah kembali, setelah semua sekolah diliburkan selama seminggu, ternyata semua kawan2 saya dan keluarganya selamat semua.

Sejak mengalami peristiwa kerusuhan rasial tersebut saya jadi tahu ternyata perbedaan ras, perbedaan agama dapat memicu sentimen antar sesama dan dalam sekejab mampu merubah manusia menyamai binatang buas yg beringas. Sebagai anak kecil saat itu saya benar2 tidak mampu memahami jalan berfikir orang dewasa yg seharusnya lebih bisa menggunakan nalarnya dengan baik.

Setelah 36 tahun baru sekali ini saya bisa menuliskan kenangan buruk yg selalu saya kubur selama ini. Ada perasaan lega setelah saya menceritakan kembali peristiwanya, meskipun tidak bisa detail.

#

Amuk massa rasialis tersebut adalah amuk massa yg dipicu oleh persoalan sepele. Berawal dari perselisihan siswa SGO (Sekolah Guru Olah Raga) di Solo bernama Pipit Supriyadi yg menyerempet pemuda keturunan Tionghoa bernama Kicak atau Ompong. Mereka sempat berkelahi, lantas Ompong melarikan diri. Persoalan mereka sebetulnya sudah selesai setelah ditengahi oleh Kodim dan mereka telah membuat surat kesepakatan damai. Persoalan berubah menjadi kerusuhan rasial setelah Pipit bertemu dg beberapa Mahasiswa UNS dan kemudian diprovokasi.

Setelah terjadinya pertemuan Pipit dan mahasiswa UNS tsb, kemudian beredar issue bahwa Pipit meninggal. Issue berkembang semakin liar dan disebutkan bahwa ada orang Pribumi dibantai oleh pemuda keturunan Cina. Issue polarisasi Pribumi vs Cina ini dari dulu memang mudah digoreng dan disulut menjadi api kemarahan massa yang berkobar-kobar. Hanya dalam waktu beberapa hari issue tersebut telah menyebar ke berbagai kota.

Yang mengherankan, di jaman sarana informasi dan telekomunikasi masih belum semudah dan semasif seperti saat sekarang, issue tersebut bisa cepat beredar ke berbagai kota sehingga bisa menjadi pemicu kerusuhan rasialis di banyak kota di Jawa Tengah.

Persoalan yg semula hanya persoalan personal dapat digoreng dan digiring menjadi persoalan rasial dan massal. Lebih2 lagi di masa itu masih sulit sarana informasi dan telekomunikasi, sehingga masyarakat tidak mudah melakukan verifikasi atas issue2 hoax yg beredar. Ditambah lagi jaman itu masih banyak masyarakat yg kurang berpendidikan.

#

Relevansinya dengan issue2 rasial yg muncul dalam euforia Pilkada saat ini adalah bisa saja peringatan yg diberikan si Jenderal tersebut benar bahwa ada potensi dari pihak2 yg tidak bertanggung jawab akan menggiring issue menjadi issue yg bisa mengarah menjadi kerusuhan rasialis. Tetapi seharusnya yg dilakukan bukanlah dengan ikut menggiring framing seolah-olah aksi marah-marahnya Ahok merupakan representasi rasnya. Logika semacam itu hanyalah logika induktif yg fallacy.

Banyak orang yg bisa bersikap kasar seperti Ahok. Ali Sadikin sering bersikap kasar saat menjadi Gubernur. Tidak pernah ada yang mengkait2kan kekasaran Ali Sadikin dg ras beliau. Kekasaran Ali Sadikin adalah sikap atau karakter pribadi bukan representasi ras. Demikian pula halnya dengan Ahok. Kalau ada yg mencoba menggiring logika bahwa sikap kasar Ahok merupakan cermin arogansi rasnya, maka logika ini yg seharusnya diluruskan.

Kaum rasis lah yg semestinya lebih utama untuk ditegur agar mereka menghentikan sikap2 rasis mereka. Mereka yg seharusnya lebih sering diingatkan tentang konsekuensi hukum atas sikap rasis yang mereka umbar ke publik. Bukan malah menakut2i mereka yg satu ras dengan Ahok atau para pendukung Ahok dengan potensi ancaman terjadinya kerusuhan rasial seperti sejarah kerusuhan rasialis yang pernah ada di negeri ini.

Kerusuhan rasialis yang pernah terjadi adalah bagian dari sejarah kebodohan bangsa kita. Saat itu masyarakat masih banyak yg bodoh dan belum melek informasi. Saat ini masyarakat kita sudah banyak yang cerdas, mereka bisa diajak berfikir lebih cerdas. Mengapa mesti disuguhi logika2 bodoh ?

 

(Sumber: Facebook Arief Prihantoro)

*Foto adalah ilustrasi

Friday, March 18, 2016 - 13:15
Kategori Rubrik: