Takbir Yang Meneror Kampung

Oleh : Eko Kunthadi

*)Tulisan ini sudah saya repost beberapa kali.

Saya memanggilnya dengan sebutan Aa. Ini bukan panggilan untuk abang atau kakak seperti ketika kita menyebut Aa Gym, misalnya. Sebagai penderita bisu-tuli total sejak bayi, dia memang hanya dapat mengucapkan aa.., aa.., aa, saja. Tidak ada kata lain yang pernah keluar dari mulutnya.

Mungkin panggilan Aa disematkan orang-orang di kampung saya berdasarkan suara yang selalu keluar dari mulutnya ketika berkomunikasi itu. Jadi semua orang sekampung, berapapun usianya, memanggilnya Aa.

Usia Aa terpaut jauh dari saya. Ketika usia saya 10 tahun, mungkin Aa sudah memasuki 20-an tahun. Tapi dia adalah salah satu teman saya waktu itu. Potonganya gempal pendek dengan mimik wajah yang tampak selalu tersenyum.

Aa kerap menggunakan celana jins yang dipotong pendek dan baju kesukannya adalah kaos hijau berlambang ka’bah yang didapat saat kampanye. Cara berkomunikasi Aa adalah kombinasi antara suara aa, aa, aa itu dengan bahasa tubuh sesukanya.

Bentuk telapak kakinya melebar, sebab dia hampir tidak pernah menggunakan alas kaki. Seingat saya, hanya pada saat lebaran saja Aa menggunakan sandal jepit dengan ukuran sekenanya. Untuk mendapatkan sedikit uang saku, Aa melakukan pekerjaan kasar apa saja. Pekerjaan yang paling sering dilakukannya adalah membersihkan got di rumah-rumah. Tidak heran jika dia sering tampil dengan kondisi dekil dengan aroma aduhai.

Saat menjelang hari raya Idul Fitri atau Hari Raya Qurban biasanya mushola kecil di kampung saya akan lebih ramai. Orang-orang dewasa jemaah mushola sibuk menjadi panitia ini-itu. Sementara kami, pasukan kurcaci kecil, ikut-ikut membantu ala kadarnya.

Yang paling kami nikmati adalah saat malam Takbiran, dimana kami dapat memamerkan suara kami dengan pengeras suara mushola. Menjelang waktu sholat kadang-kadang kami juga berebutan microphone untuk mengumandangkan adzan.

Di saat-saat seperti itu saya sering melihat Aa berdiri di pinggir pagar mushola. Pandangannya memperhatikan kami. Saya tahu, dia tidak berani melangkah ke dalam mushola karena tubuhnya kotor dan bau got yang menyengat. Dia hanya duduk di luar, memandang kami, dan sesekali tersenyum melihat kami yang berebutan menyodorkan bibir ke depan microphone untuk takbir sebisanya.

Saya ingat waktu itu, sehari setelah Idul Adha. Selepas Juhur mushola kami sepi. Saya mengajak Aa ke sana. Sengaja saya siapkan selembar kaos bersih yang saya bawa dari rumah. Saya meminta Aa untuk membersihkan tubuhnya di tempat wudhu. Mengganti pakaiannya yang dekil dengan kaos yang saya bawa. Setelah itu, kami masuk ke mushola. Saya menyalakan perangkat soundsystem yang saya ketahui caranya dari memperhatikan ketika marbot melakukannya.

Setelah memencet tombol on, saya ketuk-ketuk gagang microphone untuk memastikan speakernya aktif. Lalu microphone itu saya serahkan ke Aa. Dia menerimanya dengan takjub. Saya membantunya menyodorkan microphone itu ke mulutnya sambil mengisayaratkan dia untuk bertakbir.

Mula-mula yang keluar adalah suara lenguh yang pendek. Setelah itu keluarlah suara aa, aa, aa panjang, parau, pekak, aneh dan tidak jelas. Mungkin seperti suara yang keluar dari leher hewan Qurban saat disembelih.

Barangkali itu suara takbir paling aneh yang pernah di dengar manusia. Tapi sepertinya saat itu Aa benar-benar khusyu. Dia sedang menggangungkan nama Allah sebisanya. Melalui microphone itu, Aa seperti memanggil-manggil Tuhan dengan hatinya.

Saya melihat wajah Aa berseri. Matanya sedikit tertutup syahdu dengan tangan menyentuh telinga, persis seperti muadzin top sedang mengumandangkan adzan. Aa bertakbir bukan hanya dengan suaranya, tetapi juga dengan seluruh tubuhnya.

Sesaat kemudian beberapa orang mendatangi mushola. Mengetahui Aa sedang memegang microphone dan suara pekak yang terdengar ke seantero kampung berasal dari mulut Aa, mereka menghardik kami. Saya dan Aa pucat. Marbot mushola buru-buru mematikan soundsystem. Mereka marah luar biasa.

Tentu saja kesalahan ditimpakan kepada saya. Mereka mengganggap saya tidak sopan, memain-mainkan perangkat mushola seenaknya. Ada yang bilang saya keterlaluan karena merendahkan martabat orang cacat. Sebagian orang marah karena kaget mendengar suara aneh dari speaker mushola.

Bahkan ada yang menganggap saya memain-mainkan agama dan kesucian mushola. Mungkin sebagian yang lain tertawa terpingkal-pingkal ketika mengetahui bahwa suara pekak yang menteror kampung kami adalah suaranya Aa.

Setiap menjelang Hari Raya saya selalu ingat peristiwa itu. Kini Aa sudah almarhum. Semoga suara dari speaker mushola yang menteror seluruh kampung itu menjadi sedikit bekal Aa untuk berjumpa dengan Tuhannya.

Sekarang, ketika pekik Takbir sedang mengalami degradasi nilai, saya kembali rindu pada takbir Aa. Aa bertakbir dengan hatinya, untuk memuji kebesaran Tuhannya. Sementara kini sebagian orang bertakbir dengan lidah dan amarahnya. Untuk menghardik atau menakuti orang lain...

Sumber : facebook Eko Kunthadi

Thursday, June 8, 2017 - 09:00
Kategori Rubrik: