Tak Punya Nyali Bertakbir

ilustrasi

Oleh : Haryo Setyo Wibowo

Seumur-umur, saya tidak pernah sekali pun memlesetkan takbir menjadi "take beer" atau "taek bear". Bukan, bukan karena saya sok alim. Bisa jadi hidup saya jauh lebih belangsak dari banyak orang yang memlesetkan kalimat tersebut.

Saya pun bukan ahli ibadah. Seandainya mengaku ahli ibadah juga percuma, rasanya hanya akan membuat pertumbuhan toge sekecamatan terganggu. Sholat apalagi, tidak pernah tau yang benar dan baik seperti apa. Lha kok sholat, berdoa pun rasanya kok jarang.

Membahas agama secara liberal saya biasa dan berani. Tetapi kalau melanggar satu nama yang paling disucikan di dalam agama tersebut saya jelas tidak berani. Ini agama apa pun.

Banyak teman memlesetkan kalimat itu. Apakah saya menyimpan rasa tidak suka? Sama sekali tidak. Saya tetap mencintai teman-teman saya. Saya yakin mereka tidak ada maksud sedikitpun untuk menyalahi.

Sasaran tembaknya memang ditujukan ke orang-orang yang meneriakkan takbir secara tidak proper. Tapi tetap, saya tidak punya nyali mengatakannya. Pilihan menghantam orangnya, kalau tidak suka, bagi saya jauh lebih masuk akal.

Sebetulnya sebuah reaksi yang wajar. "Orang baik" membenci bagaimana beringasnya orang-orang meneriakkan takbir, dan setelahnya bicara kotor. Bagaimana bisa, orang meneriakkan takbir, tapi tidak mampu mematutkan diri dengan kalimat yang disebutnya?

Ini bukan hendak menceritakan sebuah titik balik. Bukan seperti itu. Menyebut nama teman dengan sebutan nama bapaknya, hal yang sangat biasa di suatu masa, pun saya tidak pernah punya nyali.

Banyak hal kurang ajar, keberandalan lain yang bisa saya lakukan tanpa merendahkan. Iya, walau itu tidak pantas dilakukan juga 

***

Saya pernah berada dalam situasi hidup dan mati. Ingat anak, istri, orang tua, saudara, teman, dan harta yang tak seberapa. Tetapi begitu ketakutan memuncak, hanya namaNya yang mampu saya sebut. Lain tidak.

Apakah itu puncak spiritualitas? Bukan. Saya tidak memaknai demikian. Setiap makhluk pasti ada saatnya mengalami ketakutan, pasti ada kalanya merasa kecil sekali. Dan mekanisme tiap orang menghadapi hal tersebut sangat mungkin berbeda; tergantung keyakinannya, kepercayaannya, pergaulannya, dan seterusnya.

Takbir dalam bisikan terlemah pun sudah cukup menguatkan. Bagi yang percaya...

Sumber : Status Facebook Haryo Setyo Wibowo

Tuesday, November 24, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: