Tak Ada Tempat untuk Koruptor

ilustrasi

Oleh : Johan Wahyudi

Memasuki jabatan keduanya, Presiden Jokowi pernah bilang kalau tak ada lagi yang ditakuti. Maksudnya, karena jabatan presiden maksimal 2 periode, Jokowi akan bekerja total tanpa takut. Hasilnya sungguh mengerikan.

Jiwasraya yang adem ayem tiba-tiba diduga terjadi megakorupsi. Konon ini melibatkan orang-orang besar. Orang-orang yang konon sulit disentuh.

Jiwasraya belum usai, muncul dugaan megakorupsi Asabri. Tidak tanggung-tanggung. Konon kerugiannya puluhan triliunan. Lagi-lagi konon ini juga melibatkan orang-orang yang tidak tersentuh.

Tadi pagi, di sebuah televisi swasta, ada running text yang menyatakan bahwa PT Taspen juga mengalami penurunan aset. Tidak dijelaskan secara detail, tetapi sepertinya tidak akan jauh berbeda dengan dua kasus di atas. Pertanyaan, mengapa kasus-kasus itu baru terkuak sekarang?

Kuat dugaan megakorupsi itu memang sengaja ditutup-tutupi sejak dahulu. Seperti yang pernah disampaikan Kepala BPK, kasus Jiwasraya berawal dari laporan fiktif yang penuh rekayasa. Laporan dibuat positif, tetapi sebenarnya negatif.

Kita perlu angkat topi tinggi-tinggi untuk keberanian Menteri BUMN, Erick Thohir. Begitu beraninya beliau membongkar megakasus di beberapa BUMN yang kini dipimpinnya. Seakan tiada sedikit pun rasa takut. Benarkah?

Yakin 100%, Erick Thohir pasti punya rasa takut. Itu manusiawi. Namun, energi keberanian itu justru diperolehnya dari Presiden Jokowi. Presiden sudah berkali-kali menyatakan bahwa ia tidak akan melindungi siapa pun dan dari mana pun yang terbukti korupsi.

Genderang perang melawan koruptor sudah ditabuh. Sekarang terserah kita, mau mendukung musuh koruptor atau justru jadi pendukung koruptor. Teringat ungkapan bijak : orang jujur itu bawaannya tenang, sedangkan orang bersalah akan selalu tampak gelisah.

Sumber : Status Facebook Johan Wahyudi

Sunday, January 19, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: