Tak Ada Lagi Kerumunan Warga di Balaikota

Oleh: Dimas Supriyanto

 

Tak ada lagi warga berduyun duyun ke Jl. Medan Merdeka Selatan Blok B 8-9, ke Gedung Balaikota DKI Jakarta. Tak ada orang orang yang antri meminta penyelesaian langsung atas masalah yang dihadapi warga saat itu juga. Tak ada tampilan wajah wajah putus asa yang menjadi gembira. Orang orang yang tengah bingung dan mendapatkan solusinya. Gubernur yang merakyat itu sudah tak ada.

Juga tak ada lagi warga berWisata Balaikota di tiap akhir pekannya, yang berkeliling melihat gedung yang selama ini mengurus mereka.

 

 

Kini balaikota sunyi senyap layaknya gedung ‘Stad Batavia’ di awal pendiriannya dulu, di zaman Pemerintahan Hindia Belanda, dimana pejabat setingkat ‘Gouverneur General’ berkantor di sana. Simbol kekuasaan yang kukuh dan angker. Tidak ramah sebagaimana zaman Basuki Tjahaja Purnama.

Karena Gubernur Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama sudah tidak berkuasa di sana.

Untuk masalah yang dihadapi warga, rakyat ibukota, mereka kembali dipimpong kian kemari. Karena Ahok BTP sudah tak ada. Warga bahkan tidak tahu apakah di sana ada yang bekerja atau tidak. Aplikasi pengaduan dan penyelesan masalah Jakarta dimatikan.

Warga tak tahu, ada yang memikirkan warga ibukota atau tidak.

Itulah yang dilakukan oleh mereka yang memfitnah dan menjatuhkan Ahok BTP. Setelah menjatuhkan dan meraih kekuasaan, lalu menjadi gubernur, lalu apa? Tak ada.

Ibukota DKI Jakarta kembali semrawut dan dibiarkan semrawut, iya. Kalah pamor dengan Kota Surabaya yang dikelola Risma Harini dan semakin moncer . Bahkan mendunia.

Mewujudkan janji reklamasi dihentikan, sudah. Tapi setelah itu apa? Terlantar. Menutup Alexis dilakukan, tapi setelah itu apa? Entah. Sekadar menguasai gedung balai kota, memerintah dari balik kursinya, menutup ini itu, menghalangi orang bekerja ini dan itu. Ya, itu saja.

Kerja tanpa konsep dan keberpihakan - entah kepada siapa. Nyatanya ibukota kembali kumuh. Penguasa baru terus beretorika dan mengerjakan yang sudah dikerjakan lama oleh gubernur sebelumnya, dan dilanjutkan para kepala dinas dan semua buahnya - karena sistem sudah jalan semestinya.

Dia muncul di berbagai tempat sekadar menghadiri upacara yang sudah disiapkan. Tak ada gagasan besar ditawarkan, karena kemampuannya tak ada. Dia hanya boneka.

Jakarta tanpa Ahok BTP adalah Jakarta tanpa gubernur. Ada dan tak ada gubernur kini sama saja. Tidak ada wakilnya pun tak apa.

Warga sudah apatis.

SEBAGAI pendatang, sebagai perantau yang masuk ibukota pada Desember 1975 – yang artinya sudah 43 tahun lalu - saya hapal kota ini. Selama puluhan tahun saya ikuti denyut dan nadi kota ini.

Meski tempat tinggal saya berpindah pindah, sesuai kondisi sosial ekonomi, tapi saya terus menerus di Jakarta pada siang dan malamnya. Saya menekuni kota Jakarta dan mencari nafkah di sini. Saya tahu bagaimana ibukota berubah dari ke hari dan siapa yang mengubahnya.

Sebagai wartawan yang pernah meliput bidang perkotaan dan hingga hari kini masih diskusi dengan rekan-rekan di ‘desk’ perkotaan, saya paham liku liku pembangunan Jakarta dan aneka permainan dalam mengelola Jakarta di Balaikota, selama 40 tahun terakhir.

Musuh Indonesia sejak dulu kala adalah korupsi, kolusi dan nepotisme. Di semua sektor pembangunan. Bahkan juga pembangunan tempat ibadah. Dan Jakarta, sebagai ibukota, masuk jajaran kota terparah. Mega korupsi ada di sini. 
Jakarta pernah masuk jajaran kota terkorup di tingkat nasional, sebelum dinormalkan oleh Jokowi dan Ahok, ketika semua tender proyek dibuat dengan jaringan elektronik. Transparan. Bukan pat gulipat.

Banyak orang hebat di ibukota yang sudah menyusun program untuk memperbaiki dan memajukan DKI Jakarta. Tapi tidak ada keberanian mengeksekusi, atau hanya dikerjakan ala kadarnya, karena mereka yang dipercaya menjadi pengelola untuk mengerjakannya terjerat kasus korupsi, kolusi dan nepotisme.

Warga hanya mengenal tiga nama yang gagah berani melakukan perubahan di ibukota DKI Jakarta yaitu: Ali Sadikin, Sutiyoso dan Basuki Tjahaja Purnama. Selebihnya hanya pelengkap.

Dengan kondisi ekonomi kocar kacir, Ali Sadikin mensahkan judi, menghadirkan klub malam, lokasi lokasi maksiat, dan pajaknya dipakai untuk membangun jalanan dan gang gang di Jakarta. Membangun pasar Senen, membangun Ancol, Pluit, memindahkan kebon binatang di TIM ke Ragunan, membangun gelanggang gelanggang remaja di seantero ibukota. Menjadikan Tebet dan Kuningan yang dulu rawa rawa sebagai kawasan elit kini.

Sutiyoso memagari Monas, dan membuat busway, membersihkan becak. Jokowi Ahok membuat MRT dan e-budgeting dan e-katalog, menormalisasi sungai-sungai, mengerahkan pasukan warna warni untuk membersihkan kali kali dan jalanan ibukota. Menaikkan harkat petugas kebersihan, membuat jalan lingkar Semanggi tanpa APBD.

Banjir Jakarta bisa dikurangi dengan memfungsikan pompa dan mengeruk kali. Pompa sudah dibeli dan tersedia, tapi bertahun tahun rusak dan dibiarkan, tak ada kontrol. Ahok yang menghidupkan dan memperlancarkannya.

Terkenangkan masa berhari hari Jakarta dilanda hujan, tapi nyaris tak ada berita rumah tenggelam, dan barisan pengungsi, seperti tahun tahun sebelumnya.

Pengerukan kali dianggarkan, tapi dikerjakan ala adanya. Bahkan tidak dikerjakan sama sekali. Jadi proyek bancakan politisi. Kota Jakarta dibiarkan kumuh selama bertahun tahun.
Dulu fungsi kontrol nyaris tidak berjalan – di semua bidang - karena, kepala dinas menjadi raja raja kecil. Dan kemudian satu per satu masuk bui.

Ahok lah yang memastikan warga ibukota terlayani, dia menempatkan diri sebagai anjing penjaga ibukota DKI Jakarta dari para tikus pengerat dan perampok APBD.

Ahok meluncurkan aplikasi 'Qlue' dimana warga bisa mengadukan masalh di sekelilingnya dan mendapat penyelesaian langsung aparat terkait. Dan Ahok memantaunya daru balikota .

Dan berdiri setiap pagi di teras Balaikota melayani warga yang mengadu dan mendapat penyelesaianya. Memanggil pejabat pejabat di sekelilingnya agar ikut melkayani dan menyelesaikan.

Kehadiran negara dan pemimpin terasa ada.

Kini siapa gubernur yang bisa dan mau merakyat seperti itu? Tak ada. Sudah tak ada!

AHOK BTP lah yang membuat Jakarta bersinar dalam dua tahun masa jabatannya, sebelum di-tackling di tengah jalan, dengan cara curang. Korban agitasi bernuansa SARA.

Sebagaimana warga ibukota yang lain – juga manusia Indonesia umumnya – dan umat manusia di dunia di muka bumi ini – kita mengenal balas budi.

Kita adalah manusia yang tahu membalas budi, apa pun agama yang kita anut, keyakinan, kepercayaan kita. Bahkan juga di antara orang yang tidak beragama.

Para pecinta binatang saja, tahu bahwa binatang piaraan juga bisa membalas budi. Anjing dan kucing bahkan harimau dan gajah mengenal siapa yang memberi makan dan mengurusnya. Manusia apalagi.

Saya ingin meneguhkan diri dan mengajak semua yang masih manusia Indonesia – khususnya warga Jakarta - untuk tahu membalas budi. Setelah semua berubah, mari lanjutkan. Tuntaskan.

Jangan serahkan pengelola Jakarta pada para amatir, yang untuk pidato dan menyampaikan program masih hapalan. Apalagi karena dorongan dan ambisi untuk membangun dinasti dan mensejahterakan kelompok serta sukunya saja.

MERAIH KEKUASAAN itulah yang mereka inginkan. Setelah itu apa? Tak ada. Karena isi kepalanya tak ada, atau sekedar berbagi anggaran kepada pendukungnya.

DKI Jakarta telah mereka kuasai, dan kini mereka akan merebut Indonesia. Artinya Indonesia akan masuk ke era yang entah pemimpinnya siapa, bekerja apa, karena hanya menawarkan janji janji yang entah bisa diwujudkan atau tidak. Dan lagi lagi mereka mengobarkan isu SARA, memecah belah. Demi nafsu dan ambisi kekuasaan.

Karena terbukti OKE-OCE gagal total, tak jelas wujudnya. Rumah DP nol persen hanya muslihat, belum lagi program dan janji yang lainnya.

Bahkan yang menjanjikan OK-OCE kabur untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi lagi, mewujudkan yang tidak bisa diwujudkan di level nasional.

Jika kita lengah kita juga akan kehilangan Presiden yang ramah dan sayang kepada rakyatnya. Digantikan penguasa temperamental yang gampang marah kepada siapa saja. ***

 

(Sumber: Facebook Dimas Supriyanto)

Friday, March 1, 2019 - 16:00
Kategori Rubrik: