Tak Ada Buku yang "Paling"

Oleh: M Husnaini
 

Susah, sesungguhnya, jika saya diminta menyebutkan buku yang paling bagus atau paling inspiratif. Kata “paling” cukup menyulitkan saya dalam menjatuhkan pilihan. Sebab, semua buku, setidaknya menurut saya, adalah saling melengkapi. Kekurangan seorang penulis segera dilengkapi penulis lain. Kelemahan sebuah buku lekas ditutupi buku lain.

Jadi, di mata saya, tidak ada buku yang “paling”. Semua ada kekurangan sekaligus kelebihannya, kelemahan beserta keunggulannya.

Terlebih jika mencerna kalimat menarik yang sering saya kutip dari Syamsuddin Al-Babili (1591-1666 M), cendekiawan Muslim klasik, yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan menulis, kecuali karena satu di antara tujuh alasan: Pertama, menulis sesuatu yang belum ditulis oleh orang. Kedua, menyempurnakan kekurangan karya tulis sebelumnya. Ketiga, menjelaskan sesuatu yang sukar dipahami. Keempat, meringkas suatu uraian yang sangat panjang tanpa mengurangi substansi. Kelima, memilah berbagai hal yang belum dipilah. Keenam, mengoreksi dan menjelaskan kekeliruan seorang penulis. Ketujuh, menghimpun berbagai hal yang masih berserakan.

Karena itu, saya membaca buku apa saja. Tidak peduli genre. Barangkali satu-satunya genre buku yang jarang saya baca adalah buku puisi. Namun, sesekali saya baca juga. Adapun buku-buku karya para intelektual kondang, insya Allah saya beli. Juga buku-buku yang sedang best seller di pasaran. Ya, kendati tidak meyakini ada buku yang “paling”, tetaplah saya memiliki penulis-penulis idola. Bukan berarti buku-buku mereka adalah yang paling bagus atau paling inspiratif, melainkan ide-ide mereka di situ biasanya sangat merangsang saya untuk terus membaca sampai khatam, bahkan menggelitik pikiran saya untuk menulis.

Penulis-penulis yang saya maksud itu, misalnya, Abdurrahman Wahid, A Mustofa Bisri, Ahmad Syafii Maarif, Azyumardi Azra, D Zawawi Imron, Dahlan Iskan, Emha Ainun Nadjib, Haedar Nashir, Ida S. WidayantiImam Suprayogo, Jalaluddin Rakhmat, Komaruddin Hidayat, M Amin Abdullah, M Quraish Shihab, Mohammad Fauzil Adhim, Nurcholish Madjid, Renald Kasali, Tasaro GK.

Tentu masih banyak nama penulis yang belum saya sebutkan. Baik yang saya miliki bukunya atau sekadar saya koleksi tulisannya hasil copy-paste dari situs internet. Dan, yang saya sebutkan di atas adalah para penulis lokal. Sengaja tidak saya sertakan para penulis “luar” yang buku-buku mereka juga kerap menjadi buruan saya. Intinya, kalau melihat buku-buku yang ditulis para intelektual idola itu, pasti berusaha saya beli, lalu baca.

Dan, sekali lagi, meski tidak ada buku yang “paling”, namun ada beberapa buku yang ketika saya baca, saya langsung terangsang untuk menulis. Kadang belum tuntas membacanya, saya sudah sangat berhasrat, dan tidak tahan lagi untuk segera menulis. Banyak ide langsung berdesakan di hati dan pikiran saya untuk minta segera dituliskan ketika saya membaca buku-buku itu.

Ada banyak buku yang mampu membikin saya seperti itu. Dalam tulisan sederhana ini, ingin saya sebutkan tiga judul saja. Pertama adalah buku Tuhan Pun “Berpuasa” karya Emha Ainun Nadjib. Buku ini pertama kali diterbitkan Penerbit Zaituna, Yogyakarta, tahun 1996. Kemudian, saya lihat buku ini, sebagaimana buku-buku Cak Nun lainnya, mengalami cetak ulang beberapa kali, dan sekarang disuguhkan Penerbit Kompas, dengan sampul baru.

Jelas, buku ini berisi kumpulan tulisan Cak Nun seputar puasa. Judulnya saja sudah memantik penasaran. Puasa yang merupakan pekerjaan manusia guna meraih takwa ternyata justru juga dilakukan oleh Tuhan. Ciri khas Cak Nun adalah selalu mampu meneropong suatu masalah dari berbagai sisi yang mencerahkan. Semuanya positif. Dan, ringkasnya, istilah Tuhan Pun “Berpuasa” adalah gambaran Cak Nun betapa Allah SWT itu sangatlah sabar terhadap manusia. Allah terus “berpuasa” dari menimpakan murka, bahkan azab, atas segala perilaku durhaka kita.

“Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya matahari atau tidak,” tulis Cak Nun. “Allah memelihara kesehatan tubuh kita dari detik ke detik meskipun ketika bangun pagi hanya ada satu dua belaka hamba-Nya yang mengucapkan syukur bahwa matanya masih bisa melek.” Tuhan Pun “Berpuasa” sungguh-sungguh menjotos kesadaran kita semua.

Buku kedua yang ingin saya ceritakan adalah Catatan Kang Jalal. Tentu saja buah karya Jalaluddin Rakhmat. Kang Jalal, sapaan karibnya, memang intelektual yang sangat produktif. Pusing amat soal pro dan kontra terkait dirinya. Dari dulu hingga kini, tokoh mana sih yang sepi dari kontroversi? Nabi pun dimaki, apalagi manusia biasa. Jadi, kontroversi, pro dan kontra, like and dislike, itu wajar belaka. Yang jelas, dalam perjalanan kariernya, Kang Jalal telah banyak sekali melahirkan buku-buku bermutu. Belum berbagai tulisannya yang berserakan di majalah, koran, buletin, makalah, kata pengantar, dan semacamnya.

Saya pastinya tidak memiliki semua buku Kang Jalal. Hanya beberapa yang sudah saya punya dan baca. Bagus-bagus memang. Ciri utama tulisan-tulisan Kang Jalal adalah enak dibaca. Juga mudah dipahami. Sebab, penuturannya dengan bahasa obrolan. Teori seberat apa pun, di tangan Kang Jalal, menjadi ringan belaka. Mudah di benak kaum awam sekalipun. Itulah di antaranya kelebihan karya tulis Kang Jalal yang saya selalu berusaha menirunya, namun masih terasa susah.

Buku Catatan Kang Jalal yang saya punya itu terbitan Rosdakarya, tahun 1997. Berisi kumpulan tulisan Kang Jalal yang dimuat di berbagai media, kisaran tahun 1990-an. Mulai ceramah-ceramah spontan, makalah santai dan serius, obrolan ringan dan berat, yang kemudian disarikan kembali oleh Miftah Fauzi Rakhmat. Beragam visi yang menjadi fokus, dan ingin dilontarkan Kang Jalal dalam buku ini ialah seputar media, politik, pendidikan, sosial, feminisme, dan ukhuwah. Makanya judul lengkapnya adalah Catatan Kang Jalal: Visi Media, Politik, dan Pendidikan.

Dua buku yang barusan saya sebutkan di atas adalah genre non-fiksi. Kumpulan kolom. Sekarang, yang terakhir, saya ingin menyebutkan buku fiksi. Ialah tetralogi novel Muhammad karya Tasaro Gk. Novel jilid pertama judulnya Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan. Yang kedua berjudul Muhammad: Para Pengeja Hujan. Novel ketiga Muhammad: Sang Pewaris Hujan. Novel terakhir berjudul Muhammad: Generasi Penggema Hujan. Semuanya diterbitkan Bentang Pustaka.

Empat seri novel biografi Muhammad ini bermula dari petualangan Kashva mencari sosok Astvat-ereta dalam kitab Zardusht, Meitreya dalam keyakinan Budha, Lelaki Penggenggam Hujan dalam Hindu, Himada dalam tradisi Kristen, yang tidak lain adalah Muhammad Al-Amin dalam istilah Islam.

Beragama Zoroaster, Kashva hendak membuktikan kebenaran ayat-ayat Zardusht perihal kehadiran Nabi yang dijanjikan. Dari Persia, dia lalu berkenalan sampai ke puncak-puncak salju di perbatasan India, Pegunungan Tibet, biara di Suriah, Istana Heraklius, dan berakhir di Kota Cahaya: Yatsrib. Hasrat dalam diri Kashva untuk bertemu dengan Muhammad tidak terbendung lagi.

Dan, Tasaro menggambarkan perjalanan spiritual Kashva hingga akhirnya menemukan kebenaran seolah tokoh itu benar-benar ada. Di sinilah keunggulan Tasaro. Dia berhasil meramu kisah yang sungguhan dengan yang rekaan. Bahasanya kaya. Majas dan metaforanya menghadirkan daya pikat luar biasa. Juga pilihan diksi yang indah pada setiap rangkaian kalimat mampu membuat pembaca hanyut dalam setiap kisah.

Apalagi kisah cinta Kashva dan Astu yang mengharu biru. Tidak sekali mata ini basah dibuatnya. Ya, Kasva dan Astu memang tokoh selingan. Namun, Tasaro meramunya begitu cerdas. Dan, sama sekali tidak mengganggu kisah Rasulullah dan para sahabat yang nyata. Tidak pernah terjadi dialog langsung, misalnya, antara Kashva atau Astu dengan para sahabat utama. Padahal, kedua tokoh hasil imajinasi kreatif Tasaro ini berulang kali terlibat dalam suatu peristiwa yang di situ ada para sahabat.

Walhasil, buku-buku itulah yang saya katakan sangat bagus dan merangsang gairah menulis saya. Bermutu dan juga menginspirasi. Tetapi, bukan berarti yang “paling” dari buku-buku selainnya. Setiap karya selalu menemukan pembacanya sesuai porsinya masing-masing.

 

(Sumber: Facebook M Husnaini)

Monday, May 16, 2016 - 11:00
Kategori Rubrik: