Tafsir Tunggal

ilustrasi

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Dulu waktu masih kuliah di Bandung, pas pulang ada tetangga tanya " mas kalau ke Bandung enaknya naik apa?"
Kujawab "bisa naik Jogja cepat, Kramatjati atau Bandung Express. "
Tetangga itu bingung. Ternyata dia pingin diberi pilihan terbaik versiku. Dia bingung diberi alternatif. Mungkin jawabanku nggak solutip seperti Bu Tejo. Baik2 saya baru sadar.
Baru saya jelaskan untung ruginya masing2 pilihan. Dia mantuk2...

Lalu beberapa waktu yang lalu ada seorang ibu datang ke tempat saya sama suami, konsultasi anaknya sebaiknya masuk jurusan apa saat SBMPTN.
Bapaknya hanya memberi pilihan tunggal, Teknik Kimia. Selain itu akan susah untuk sukses. Karena ada temannya yg lulusan Teknik Kimia dan sukses. Anaknya nggak mau, nggak suka. Anaknya stress.
Lalu saya bantu saya jelaskan ada bbrp alternatif. Dan contoh orang2 sukses di masing2 bidang.
Setelah itu ibunya setengah teriak "Nah itu...masak kuliah kok harus Teknik Kimia.."
Baru bapaknya pun terbuka pikirannya. Ikut senyum2.
***
Ada kyai model Quraish Shihab yang ingin masyarakat itu pinter, berpikir. Beliau biasanya memberikan konteks dari suatu aturan. Lalu masyarakat diberi kebebasan untuk memilih yg paling nyaman, sesuai suara hati. Tidak menakut-nakuti.

Begitu juga Buya Syakur selalu menjelaskan alternatif2. Biar masyarakat tahu pilihan mana yg sesuai dengan konteks hari ini di sini. Tidak menyebut2 neraka atau siksa.

Umumnya masyarakat kita adalah nurut sama panutan.Masyarakat harus diberi pengertian sejelas-jelasnya sebelum memilih. Tetapi ada kelas2 masyarakat tertentu yang cerdas, ingin dimanusiakan dalam beragama. Tidak mau didikte atau dipaksa.

Banyak ustadz baru yang datang dengan tafsir tunggal. Selain yg tafsir itu dianggap salah.
Padahal hampir semua persoalan syariah tidak ada tafsir tunggal. Fiqih itu dugaan2. Nggak ada kebenaran tunggal dalam fiqih. Banyak orang jadi korban tafsir tunggal. Hidupnya tertekan, makin sempit dan jauh dari keriangan. Suka hoax dan menyalahkan pihak lain. Tafsir tunggal membuat pikirannya tumpul. Pikirannya hanya tahu halal haram, surga neraka. Bahkan untuk mengucapkan selamat ultah saja, nyari dalil. Ribet. Padahal saat korupsi atau nyontek saat ujian, dalil2 yg jelas malah dilanggar.

Banyak ustadz tafsir tunggal dan masyarakat korban tafsir tunggal. Kalau dari kacamata orang normal, korban tafsir tunggal ini kehilangan kemampuan berpikir. Ada seorang istri yg suka mengkafir2kan suami, suami diabaikan gara2 menuruti nasehat ustadznya, anak dipaksa mengikuti maunya, semakin jauh dari saudara dan teman2nya dulu. Dia ditakut2i dengan dosa, neraka dan siksa oleh ustadznya.

Yenny Wahid saat diskusi Jilbab dan Aurat, ditanya seorang ibu, "saya harus berpakaian seperti apa?" Dijawab,
"Bebas, ibu, masing2 ada dasarnya. Pilih yang ibu nyaman."
Nah orang2 cerdas suka memberi alternatif pilihan. Orang2 picik atau mungkin jahat, sengaja menekan orang untuk ikut tafsir tunggal sesuai seleranya.
Mari biasakan untuk menghindari tafsir tunggal jika memang situasi kondisinya begitu. Sehingga kita menjalani pilihan itu dengan happy karena kita lakukan dengan kesadaran, dengan sukarela. Mari kita didik diri kita dan masyarakat untuk biasa berpikir bebas tanpa ketakutan.
Tidak ada paksaan dalam agama, Laa ikraha fiddiin..QS 2:256

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Saturday, September 12, 2020 - 18:00
Kategori Rubrik: