Syiah, Sunni dan Akal

Ilustrasi

Oleh : Ade Winata

Dalam sebuah laporan indepth tirto yang mengangkat judul

"Rasionalitas Syiah Menangkal Terorisme"

Ada salah satu scene pembicaraan oleh DR Umar Shahab yaitu teologi ahlul sunnah wal jamaah akal tidak berdiri sendiri namun harus melalui wahyu berbeda dengan syiah yang mampu mengetahui kebenaran tanpa wahyu.

Yang kemudian dilanjutkan dengan komentar direktur ICC Dr. Abdul Majid Hakim Elahi yang mengatakan ada 3 golongan dalam islam

1. Skripturalis, yang tidak menggunakan akal hanya bersandar pada teks

2. Liberal, Yang menafsirkan alquran seenaknya dan cenderung lekat dengan pandangan barat

3. Golongan yang seimbang antara akal dan wahyu dan syiah berada disini.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan keterangan-keterangan diatas, walau masih belum cukup jelas, apa yang dimaksud liberal oleh direktur ICC tersebut, sedangkan komentar dari DR Umar Shahab yang mengatakan bahwa akal bisa berdiri sendiri tanpa wahyu itulah ciri khas liberalis.

Sebenarnya laporan tirto cukup bagus, cuma saya rada gak suka aja ada bagian kompartif antara syiah dan sunni tanpa melibatkan cover both side dari pihak sunni nya.

Andaikan tanpa ada komparatif hanya sekadar worldview syiah soal terorisme,, no problemo.

Dan ya terkesan seolah-olah syiah lebih rational dibanding sunni.

Untuk menanggapi hal diatas

Pertama adalah bagaimana logika kita beragama.. ??

Untuk menilai ini kita harus kembali ke dasar teologi islam dan syiah.

Sebuah agama berbeda dengan cara pengambilan kesimpulan science method.

Bila Science method menggunakan logika inductive - deductive berbasiskan observasi alam atau realita yang berada di sekeliling kita.

Sedangkan agama menggunakan logika Deductive- Inductive dengan membaca atau mengobservasi wahyu tuhan baik berupa teks dalam kitab suci atau teks-teks pelengkap lainnya ( wahyu melalui nabi )

Jadi budaya literal skriptualis ya gak akan bisa tidak ada dalam agama baik islam atau agama apapun.

Menurut saya baik sunni ataupun syiah ya sama aja memakai logika yang sama dalam mengambil kesimpulan hukum.

Kedua, dasar teologi syiah

Awal mula kemunculan syiah ya karena konflik politik antara siapa pelanjut rasulullah, sedangkan sunni beranggapan rasulullah tidak memberikan nash jelas pewaris nya sedangkan syiah menyakini bahwa dalam peristiwa Ghadir Khum rasulullah telah memberikan wasiat siapa pelanjutnya.

Hal ini berkonsekuensi dalam aqidah dan sumber hukum syiah, yaitu penolakan pada wahyu-wahyu ilahi melalui lisan rasulullah yang diriwayatkan para shahabat yang tidak diakui oleh teologi syiah.

Gap teologi ini menjadi kekurangan syiah dibanding sunni yang lebih lengkap sumber hukum nya secara wahyu, dan tentu sunni memiliki budaya sanad yang kuat.

Dan gap ini jugalah yang mau tidak mau harus ditutupi oleh syiah dengan akal, dan wajar bila umar shihab mengatakan akal bisa berdiri sendiri, karena gap Sumber hukum dalam teologi syiah.

Ketiga, Teologi sunni.

Apakah sunni tidak rational, ya ada sih salah satu mazhab yang menafikkan akal, namun itu sendiri sudah punah.

Yang tertinggal hari ini adalah mazhab-mazhab yang memakai akal.

Urutannya adalah

1. Mazhab hambali
2. Mazhab Maliki
3. Mazhab Syafii
4. Mazhab Hanafi

Untuk nomor 1-2, penggunaan akal lebih ketat dan lebih sedikit namun tetap ada, berbeda dengan nomor 4 jauh lebih liberal dalam penggunaan akal.

Alhamdulillah kita hidup di wilayah mazhab syafii yang seimbang penggunaan ratio dan script nya.

Keempat , Apakah benar syiah lebih rational

Kalau di awal permulaan nya saya yakin syiah sangat-sangat tidak rational, konsep-konsep imam maqsum, 12 imam yang hanya berhak sebagai pemimpin sangat unrational.

Namun gap ini dan persentuhan syiah dengan mutazilah dikemudian hari menjadi penutup.

dan hari ini mungkin adalah output dari hal diatas mengapa komunitas syiah dikenala sangat rational.

Namun tetap saja banyak praktik dan teologi nya banyak yang gak masuk akal, namun kembali hal ini ditutupi dengan argumentasi-argumentasi yang kuat oleh kalangan syiah agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Lalu dalam dunia sunni sendiri, sangat rational ini dibuktikan dengan ada nya mazhab hanafi, atau pun mutazilah yang juga lahir dari dialektika sunni...

Jadi bisa dikatakan sunni itu dah dari sono nya rational berbeda dengan syiah.

namun mungkin kerasa tidak rational, yaa mungkin saja akibat lebih menang nya platonik semisal Imam alghozali dibandingkan aristotelian nya ibnu rusyd. Sehingga berefek sampai sekarang.

Namun pada pada dasarnya rationalitas dan islam tidak bertentangan sama sekali...,

Salam

Sumber : Status Facebook Ade Winata

Thursday, June 7, 2018 - 19:00
Kategori Rubrik: