Syariah Jadi Sampah

Ilustrasi

Oleh : Iyyas Subiakto

Setelah mendapat pujian dari JK, Somad makin gila, mengeluarkan fatwa Suap Syariah, dan skrg bnyk yg mengolok2 dgn kalimat syariah, judi, prostitusi, korupsi, dst bakal dihalalkan kl dilabeli syariah.

Kalimat2 yg bermunculan belakangan ada dua arti yg terkandung, kemungkinan mengolok2 atau memang mereka ikut pemikiran absurd Somad yg krg " nyekrup " antara kebaikan dan keburukan dimana dua hal itu tdk bs bercampur ibarat air dan minyak.

Persoalan yg sangat serius bila agama yg menuntun kebaikan diacak2 dgn otak cekak. Bagaimana mungkin ditengah2 keterpurukan Indonesia dgn label negeri korup, dan DPR adlh lembaga terkorup, pejabat banyak yg korup, lembaga hukum korup, keluar pula fatwa Suap Syariah, ini kajian dari mana asalnya, nalar yg tak nyantol dgn org yg tak beragama saja pasti menolaknya ini malah dtg dari org yg dijuluki ulama , tp maaf sy tdk mengakui dia sbg ulama, krn mulutnya kayak sampah.

Fenomena kerusakan keberagaman dan kebersamaan sejak para pelaku brutal dgn topeng agama yg terus memusuhi orang2 baik yg bkn dari koloninya.

Jokowi dimusuhi
NU dimusuhi
Kristen dimusuhi
Hindu dimusuhi
Budha dimusuhi
Rumah Ibadah orang lain dimusuhi, kita boleh beribadah dirumah, orang lain melakukan yg sama dicela dgn alasan rmh bkn rmh ibadah, knp kita boleh orang lain tidak.

Sekarang dgn fatwa syariah Tuhan dimusuhi, atau minimal Tuhan dimain2kan. Karena sebuah kemungkaran dihalalkan dgn label syariah, dimana hukum itu perlu kajian mendalam sebelum diputuskan bkn cuma dibacotkan dgn sumber akal yg asal2an.

Sejak HTI dan FPI dikasi hati hidup disini, kok Islam jd agama yg banyak memusuhi. Begitu damainya negeri ini sejak nusantara ada tidak ada orang ribut soal agama, sekarang stlh sekian lama beragama jadi seperti kuda gila. Apa itu arti beragama atau mungkin tinggal label dan bungkusnya, sementara isinya tidak ada yg tersisa. Inilah cermin aslinya bila kita cuma bisa bicara tanpa memikirkan akibatnya.

Indonesia darurat syariah.

Sumber : Status Facebook Iyyas Subiakto

Sunday, February 11, 2018 - 21:15
Kategori Rubrik: