Syar'i, Memisah Laki-Laki Dan Perempuan

ilustrasi

Oleh : Erizha Mega

Maukah kau kuberitahu masalah sosial jika perempuan dipisah dari lelaki, dibungkus serta keberadaannya di ruang publik dikebiri?

Afganistan adalah negara yang hampir 99% rakyatnya memeluk agama Islam. 80% populasinya menganut aliran Sunni, sisanya adalah Syiah. Tapi mereka mempunyai tradisi penyimpangan seksual yang semua orang tahu tapi tak ada yang sanggup menghapusnya apalagi menghukum mereka.

Akibat dari konstruksi sosial bahwa perempuan tidak boleh berkeliaran di depan umum, menampakkan anggota tubuh mereka, menyanyi ataupun menari satu2nya hiburan bagi mereka ini kemudian digantikan oleh laki2.

Laki2 yang dipilih sebagai subtitusi ketiadaan peran perempuan adalah mereka yang berumur 11 hingga rentang usia 18 tahun. Mereka biasa disebut bacha bazi.

Bacha bazi rata2 direkrut pada usia 11 tahun oleh orang2 yang punya power dan uang. Biasanya para bahcas diambil dari keluarga yang tidak mampu. Mereka dilatih untuk menari dan memainkan alat musik selama 6 bulan. Begitu siap mereka akan dipamerkan di depan khalayak, ber-make up dan juga memakai pakaian perempuan untuk membangkitkan gairah para laki2 yang menonton.

Sesudah pertunjukan itu para bachas akan dibawa ke hotel untuk melayani hasrat seksual lelaki "kuat" yang menyewa mereka dari pemiliknya. Seperti lingkaran setan, sekali terjun ke dunia ini sangatlah sulit untuk keluar.
Ada beberapa bachas yang mencoba melarikan diri tapi lebih banyak dari mereka yang berakhir di liang lahat. Diperkosa kemudian dibunuh.

Praktik homo dan pedofil sekaligus jamak terjadi. Ketika bachas menginjak usia 18 mulai tumbuh kumis dan beranjak dewasa, kehadiran mereka tidak diinginkan lagi. Ada beberapa yang dilepas oleh pemiliknya, ada yang disimpan sebagai pemuas seksual dengan ataupun tanpa seizin istri mereka.

Ini adalah gambaran sebuah kecacatan dari konstruksi sosial pemisahan gender. Bukan tidak mungkin gerakan memisah2kan laki perempuan dan pengebirian kebebasan perempuan di ruang publik yang marak terjadi di Indonesia saat ini juga akan kesitu arahnya.
Lagipula hitung berapa banyak kasus guru ngaji yang tampangnya alim tapi ternyata pelaku sodomi dan pedofil?.

Alangkah lebih baik ajari anak kita perbedaan dan beri pengertian ketimbang memisah2kan mereka dengan alasan khalwat ataupun non muhrim yang menyebabkan segregasi kian lebar.

Sumber : Status Facebook Erizha Mega

Sunday, June 30, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: