Syam Organizer

ilustrasi

Oleh : Erizely Bandaro

Oktober 2020, polisi  mengatakan lebih dari 20.000 kotak amal di warung makan dan toko swalayan di tujuh provinsi digunakan Jemaah Islamiyah (JI) sebagai salah satu sumber pendanaan selama beberapa tahun terakhir. Dari anggota JI yang ditangkap mengindikasikan organisasi itu memiliki hubungan dengan lembaga pengelola infaq dan zakat baitul maal di bawah Yayasan Abdurrahman Bin Auf yang menyebarkan 20.068 kotak amal di Pulau Jawa, Sumatra dan Maluku. Penempatan kotak amal mayoritas di warung-warung makan konvensional karena tidak perlu izin khusus, hanya meminta izin dari pemilik warung,

Lebih dari 20.000 kotak amal itu tersebar di Provinsi Lampung dengan 6.000 unit, disusul Jawa Timur dengan 5.300 unit, Sumatra Utara dengan 4.000 unit, Jawa Tengah dengan 2.700 unit, Yogyakarta 2.000 unit, dan puluhan lainnya di Maluku dan Jakarta.  Dari situs lazaba, Yayasan Abdurrahman Bin Auf tercatat berdiri pada Oktober 2004 melalui akta pendirian yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM. Yayasan ini memiliki kantor perwakilan di Jakarta, Jawa Barat, Sumatra Utara dan Lampung.  Pengurus yayasan di Jakarta dan daerah lain tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Hebatnya operasi mereka itu keliatan sangat resmi. Caranya? mereka laporkan ke Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Laporan keuangan itu dilakukan setiap satu semester untuk menjaga agar legalitas yayasan tetap terjaga. Namun tentu sudah mereka potong lebih dulu untuk keperluan mereka. Uang itu merekaa gunakan untuk mendukung program-program JI seperti mengirim bantuan ke Suriah dan Palestina atau menyelenggarakan acara tabligh dengan menghadirkan tokoh-tokoh dari dua negara tadi.  Pengumpulan dana kelompok JI melalui kotak amal ini dilakukan karena iuran dari anggota sudah tidak mampu lagi menopang aktivitas organisasi. 

Selain Yayasan Abdurrahman bin Auf, JI menyalahgunakan dana dari lembaga amal Syam Organizer (SO), One Care (OC), Hashi, dan Hilal Ahmar.  Tim Densus 88 antiteror  pada hari minggu (4/4/21) menyita satu truk berisi kaleng donasi, sejumlah dokumen dan barang usai menggeledah kantor Syam Organizer di di RT 30 RW 08, Kumendaman, Mantrijeron, KotaYogyakarta, DIY, Ketua RT 30 Setyo Karjono mengatakan, selain kotak donasi, tim Densus juga membawa sejumlah dokumen dan barang dari kantor Syam Organizer.

Apakah uang donasi itu benar benar digunakan untuk amal? Kepala Divisi Regional Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme dari International Association for Counter-terrorism & Security Professionals (IACSP) Asia Tenggara, Garnadi Walanda Dharmaputra, mengatakan dana dari yayasan amal yang terafiliasi kelompok teror untuk kegiatan sosial keagamaan hanya 11 persen, sisanya digunakan untuk mendukung kegiatan terorisme. Seperti membangun pertahanan bisa 37 persen, operasional organisasi 26 persen, dan membantu kerabat atau anggota atau ikhwan yang sakit misalnya 26 persen. Termasuk membiayai cyber war.

Besarnya keterlibatan jaringan donasi itu, mengindikasikan bukan hanya dari segi sumber daya financial tetapi mereka juga menggunakan yayasan ini untuk menggalang simpatisan, menyatukan orang-orang yang ingin terlibat membela Islam pasca-tragedi Ambon dan Poso. Terlalu lama pembiaran. Baru sekarang Polisi tegas. Moga terus berlanjut sesuai perintah presiden. Membasmi sampai keakar akarnya.

Sumber : Status Facebook Erizely Bandaro

Wednesday, April 7, 2021 - 11:45
Kategori Rubrik: