Syahadat Bola

Ilustrasi

Oleh : Jody Ananda

Seringkali kita lupa, bahwa bukan manusia saja yang bersyahadat. Karena syahadat bermakna persaksian, suatu sikap memandang yang tidak bisa dihalangi oleh apapun dan tak bisa dibelokkan oleh apapun.

Lantas, bagaimana bola bersyahadat?
Bola bersaksi akan maujudnya hukum Tuhan dalam gaya gravitasi dan gerak parabola yang mengikutinya. Ia patuh dan tunduk saat energi yang disalurkan kepadanya lewat kaki, kepala dan anggota badan lain dari seorang pemain, dan mengikuti hukum gerak parabola. Dengan variabel sudut, massa, gravitasi, gaya gesek dll, maka ia akan jatuh di tempat yang ditetapkan atas dirinya. Demikian seterusnya hingga mencapai tujuan akhir dalam sebuah permainan bola : berakhir sebagai goal di jaring gawang.

Sebuah bola tidak akan pilih kasih, apakah yang menendangnya seorang muslim atau bukan. Atau bahkan atheis sekalipun. Ia hanya akan tunduk pada hukum-hukum alam yang telah ditetapkan pada dirinya. Tidak kurang, tidak lebih. Sebab persaksian dan ketundukan bola pada hukum-hukum tersebut, adalah juga persaksian akan al-Haq, wujud kebenaran hakiki yang telah menciptakan semesta dengan pengaturan dan pemeliharaan Serba Maha.

Manusia pun demikian. Hanya manusia diberikan kecerdasan untuk mengolah hukum-hukum itu dengan strategi, taktik, aturan dan beragam perangkat lainnya, sehingga kita bisa menikmati permainan bola yang indah. Aturan-aturan itu dibuat atas dasar kesepakatan dan maslahat (kebaikan) bagi semua, bukan hanya golongannya sendiri.

Ambillah contoh aturan tentang off side yang selalu diperbaiki tahun demi tahun. Penggunaan VAR (Video Assisted Referree) dan Goal Technology yang didukung puluhan kamera canggih, menjamin keadilan bagi semua pihak. Hal-hal ini mencegah pemain seperti Maradona, yang mengklaim goalnya adalah gol "Tangan Tuhan", pada Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Begitu mudah orang mengklaim Tuhan ada di pihaknya, padahal teknologi yang netral dan tidak berpihak, akan bisa menunjukkan mana yang Haq dan Bathil dalam sebuah permainan bola.

Jika bola bersyahadat tanpa melihat kubu, berbeda dengan manusia. Syahadat manusia seringkali menipu, hingga, sebagaimana Maradona, ikut mengklaim Tuhan sampai pada urusan-urusan yang tidak jelas: politik, ekonomi dan persoalan duniawi lainnya.

Urusan dan persoalan yang sebenarnya bisa kita pecahkan dengan perangkat akal fikiran dan kecerdasan, bukan nafsu belaka.

Tak heran, Al Quran berulangkali menyindir manusia : Afalaa ta'qiluun? (Apakah kalian tidak berakal?), Afalaa tatafakkaruun? (Apakah kalian tidak berfikir?)

Boleh jadi, di sisi Tuhan, syahadat bola lebih diterima ketimbang syahadat manusia, yang tertutupi akal, fikiran dan hatinya.

"Aa, tolong prediksi jitunya lagi dong.."
(Tendang bola bolak-balik sampai puyeng)

Aa Jojot
Khadimul Status #Madzhab69 & Habib Fiala Dunya 2018

Thursday, June 21, 2018 - 19:30
Kategori Rubrik: