Syahadah di Britania Raya

Oleh: Nurul Huda Haem
(Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia Nurul Mukhlisin di Bekasi)

Secara semantik, syahâdah berarti kesaksian. Bila dinisbatkan pada konsep teologi Islam ia merupakan kesaksian seorang manusia akan keesaan Allah sebagai Tuhan yang mencipta dan mengatur alam raya lalu memberikan ketundukan sepenuhnya. Seseorang yang mau masuk Islam, disyaratkan melakukan Syahâdah. Setelah bersyahâdah, orang yang baru masuk Islam itu dinamakan Muallaf, yaitu orang yang dilembutkan hatinya kepada Islam. Karenanya, dalam ortodoksi Islam, ia berhak menerima zakat.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang sudah terlahir secara Islam, karena kebetulan orang tuanya Muslim. Mayoritas ulama berpendapat tidak perlu bersyahadah lagi karena "muslim keturunan" itu dianggap sudah terlahir dalam keadaan fitrah islam. Meskipun sebagian dari kalangan penggiat esoterik (jalan tasawuf) mensyaratkan perlunya syahadah dan bai'at keislaman. Misalnya tampak dalam amalan do'a 'Akâsyah yang lebih menyerupai draft pengakuan dosa dan pada setiap bagian pengakuan dosa diakhiri dengan kalimat tahlil yang tiada lain merupakan bagian utama dari statement Syahâdat. Do'a 'Akâsyah yang diyakini bersumber dari malaikat Jibril lewat jalur periwayatan hadits Abu Bakar As-Shidiq ini termuat dalam kitab Mujarabât dan Majmu' Syarîf dan populer di kalangan muslim tradisional.

 

 

Bagi saya, Syahâdah sebagai pondasi utama keislaman, bukan sekedar seremoni pengucapan, tetapi lebih pada implementasi makna yang mendalam. Syahâdah itu persaksian yang serius dan karenanya ia merupakan proses yang tidak selesai. Berislam itu tidak terletak pada seremoni pengislaman dan atau karena "mentang-mentang" sudah terlahir muslim. Berislam itu proses ketundukan yang harus terus diperbaharui, ditingkatkan menuju level yang lebih baik. Sampai kapan? Sampai seseorang menemui kematian. (QS Âli Imrân 102)

Maka, salah satu Syahâdah yang perlu diperhatikan adalah persaksian pada nilai-nilai keislaman yang secara sadar diaplikasikan oleh siapapun yang ada di atas semesta bumi. Kita dapat mengarifi "keislaman" pepohonan, binatang, gerak planet, manusia sehat, sakit, gila, Muslim, Christian, Budhis bahkan atheis sekalipun sebagai "persaksian" yang mendatangkan kesadaran berislam.

Tuhan mendatangkan hikmah dengan cara-Nya lewat fragmen dalam kehidupan yang misterius, di mana tak boleh ada satupun yang menggantikan perannya dalam memberikan penilaian, karena keputusan paling final ada di sisi-Nya. Seorang musuh yang bersyahadat dalam kondisi terpaksa sekalipun tak boleh dihakimi sebagai "berpura-pura" karena sekedar cari selamat (QS An-Nisâ 94). Sebaliknya statement "inkar" dari seorang muslim yang dalam kondisi terpaksa jangan langsung dihakimi sebagai murtad (QS An-Nahl 106). Perhatikan bagian ini, bagaimana untuk domain Syahâdah mutlak berada di genggaman kekuasaan-Nya, bukan di tangan Ormas, Madzhab apalagi sekedar pendapat seseorang.

Negara Kafir
Pada konteks sebagaimana saya lukiskan di atas intulah, saya menuliskan judul tulisan ini, persaksian langsung yang saya alami di sebuah negeri bernama United Kingdom. Setidaknya saya menyaksikan langsung betapa nilai-nilai keislaman yang diagungkan justru teraplikasi dengan baik di negeri ini. Pada saat yang sama ada sebagian kaum muslim yang menyebut Inggris, Amerika dan Israel sebagai Negara dan Bangsa Kafir. Ini pernyataan yang mengejutkan sekaligus melukai perasaan banyak warga mereka, "Entah mengapa ada saja orang menyebut negara kami sebagai negara Kafir, padahal negara itu tidak beragama, penduduknya yang beragama, kami muslim Britania yang tunduk pada hukum dan peraturan di negara kami merasa tidak nyaman dengan sebutan Inggris Negara Kafir. Bahkan Islam dapat tumbuh subur dan diberikan hak untuk berkembang sebagaimana agama-agama lain." Omar Mansoor, salah seorang muslim di Britania, jamaah di Central Mosque, London menyatakan kegelisahannya.

Lain lagi dengan Ahmad, seorang Muslim berkebangsaan Israel yang saya temui saat beberapa waktu lalu berkunjung ke Palestina, bersama dengan teman saya Fatih, seorang Muslim berkebangsaan Palestina yang sedang menyelesaikan studi Doktoralnya di bidang ilmu sejarah, Ahmad mengatakan kepada saya, "Ada 1,5 juta Muslim di Israel, jumlahnya lebih besar dari penduduk Nasrani yang ada di sini." Fatih juga menjelaskan kepada saya, "Ada banyak hal yang orang luar tidak mengerti konflik di Palestina, sesungguhnya kami ini bidak-bidak catur yang tengah dimainkan oleh keangkuhan pembesar dunia saat ini. Konflik di Palestina akan berakhir bila mereka menghendakinya."

Pernyataan Omar Mansoor, Ahmad dan Fatih sungguh menjadi syahâdah amat nyata dalam perjalanan keislaman saya, politik internasional berskala tinggi yang menjungkir-balikkan informasi dunia Islam, telah menutup "kesadaran" saya selama ini. Bila dalam ilmu manthîq diajarkan bahwa tidak semua kata itu tunggal makna, maka bagaimana lagi dengan arus informasi yang deras berseliweran di lalu lintas media. Cyberspace memang berhasil membentuk opini publik atas sebuah wacana, tapi boleh jadi kepandiran intelektual telah mengizinkan seseorang menjadi korbannya.

Maka perjalanan di atas semesta bumi seperti yang kerap disuarakan oleh Allah di dalam Al-Quran menjadi program yang seharusnya dilakukan oleh setiap Muslim, agar dapat berfikir terbuka lewat persaksian yang dialami dan tidak melulu merujuk kepada sekotak pengalaman dalam kehidupannya yang terbatas. (QS Âli Imrân 137)

Kembali pada terma Negara Kafir, ada ulasan menarik dari Ahmad Sarwat, MA, Founder Rumah Fiqh Indonesia yang menuliskan soal perdebatan sebutan Negara Kafir, jangankan Inggris, kalau pun Indonesia mau dibilang negara kafir, karena tidak menerapkan syariat Islam, maka yang pertama kali harus dikatakan negara kafir justru negara Madinah Al-Munawwarah di masa Rasulullah SAW.
Lho kok begitu? Ya, karena Madinah di masa Rasulullah SAW tidak sepenuhnya menjalankan syariat Islam. Saat itu selain hukum Islam, juga berlaku hukum yahudi dan juga hukum-hukum lainnya. Bahkan penduduk Madinah saat itu juga bukan sepenuhnya muslim. Sebagian ada yang yahudi, ada yang penyembah berhala, bahkan ada juga yang memeluk agama majusi dan agama-agama lainnya.

Hukum syariat hanya diberlakukan buat sebagian masyarakat saja, yaitu umat Islam. Sedangkan buat pemeluk agama lain, yang diberlakukan adalah hukum-hukum yang sesuai dengan agama mereka. Dan saat itu Rasulullah SAW sendiri yang bertindak sebagai kepala negara. Beliau SAW malah menjamin agar penduduk Yahudi Madinah untuk berhukum dengan hukum Taurat.

Jadi kalau ukuran sebuah negara dikatakan sebagai negara Islam adalah pada masalah hukum apa yang berlaku, maka sebenarnya Madinah malah bukan termasuk negara Islam. Karena hukum yang berlaku bukan hanya hukum Islam. Dan penduduknya juga banyak yang bukan beragama Islam. Karena itu, Madinah, sejak awal diperkenalkan oleh Rasulullah SAW sebagai Dâr as-salâm atau Negara Damai bukan Dârul Islâm atau Negara Islam.

Kriteria Persaksian
Syahâdah ini bagi saya adalah pengalaman keberagamaan yang unik selama berda'wah di United Kingdom, Ramadhan tahun ini. Interaksi langsung dengan bukan hanya kaum muslimin Inggris tapi juga semua orang dari ragam latar belakang; agama, etnik, karakter, budaya dan bangsa. Meskipun persaksian ini tidak merupakan penilaian buta apa adanya atas nilai-nilai kehidupan yang berlangsung di sana, tentu saja di sana-sini masih terus ada perbaikan, namun pada skala umum, semua orang yang ditanyakan akan beberapa nilai yang nanti akan saya uraikan, akan menyatakan persetujuan dan permaklumannya.

1. Agama dan Spiritualitas
Sebuah fakta yang saya saksikan adalah penghargaan sangat tinggi dari pemerintah Inggris kepada semua pemeluk agama untuk menjalankan keyakinannya masing-masing. Spiritualitas menjadi pengalaman personal yang tidak boleh diintimidasi oleh pemerintah kecuali karena keyakinannya itu seseorang mengancam kehidupan orang lain dan atau menimbulkan kekacauan sosial. Maka, pemerintah dengan tegas menindak dan menyatakan perang terhadap terorisme dengan latar belakang apapun, apakah itu murni kriminal atau berkedok agama.

Sebagai seorang Muslim saya menyaksikan perayaan keberagamaan lewat ibadah yang diizinkan secara terbuka, pertumbuhan masjid sangat pesat, bahkan pemerintah tak melarang program pengenalan Islam kepada Non Muslim yang banyak kita temukan di Islamic Center. Di London Central Mosque misalnya, setiap hari ada sekitar 5-10 orang non muslim yang datang untuk belajar mengenai Islam.

Di Alun-alum Kota Manchaster, saya menyaksikan langsung beberapa aktivis gereja menawarkan secara terbuka kepada pejalan kaki buku dan leaflets mengenai Kristen sementara seorang pendeta berkhotbah dengan lantang mencari perhatian pengunjung. Tak jauh dari lokasi itu, beberapa pemuda Muslim Inggris membuka lapak kerohanian di atas meja kecil berisi kitab suci al-Quran dan brosur mengenai keislaman. Selama tidak ada unsur pemaksaan, pemerintah tak melarang aktivitas semacam ini.

2. Law Enforcement
Penegakan hukum yang paling ideal tentu saja yang bertujuan memberikan efek jera dan mengedukasi pelaku pelanggaran tersebut untuk tidak mengulanginya kembali. Nilai edukatif dari sebuah penegakan hukum itu melahirkan kesadaran moral yang penuh tanggung jawab.

Di Inggris, bila Anda melanggar peraturan lalu lintas, proses tilang tidak dilakukan dengan menahan Driving Licences (SIM) tetapi dengan memberikan surat tilang berisi denda pembayaran lengkap dengan jumlah dan nomor rekeningnya, bila pelanggar membayarnya sebelum Pukul 12 malam, akan diberikan potongan setengah harga, tetapi bila mangkir, denda itu akan terus berkelipatan dan akan memberikan point pelanggaran yang secara integral akan tercatat dalam kondite buruk pengemudi. Sebagian kita mungkin berkata, tak mengapa mangkir, toh tak ada penahanan SIM maupun STNK, tapi bila kejadian melanggar lagi, pencabutan SIM akan diberlakukan selama beberapa tahun tergantung jenis pelanggaran. Efeknya, nyaris semua penduduk tidak berani berurusan dengan penilaian kondite buruk, bagi mereka itu aib yang harus dihindari.

Tata hukum di area perparkiran umum maupun pinggir jalan membuat saya berdecak kagum, rambu-rambu bekerja dengan efektif, yellow line satu atau dua garis seperti Polisi yang tengah berdiri di pinggir jalan, sementara peraturan tidak boleh parkir lebih dari jam yang ditentukan terpampang di beberapa pilar yang ada papan informasi (secara digital) dilengkapi box pembayaran parkir, belakangan banyak lokasi parkir sudah tidak menyediakan cash payment tapi menggunakan telpon lalu didebit langsung dari credit card. Memang tidak ada Polisi sungguhan yang berdiri di sana, tapi coba saja Anda melanggar, dalam waktu cepat, petugas pengawas parkir akan segera datang dan menempelkan "invoice" di kaca depan mobil Anda, bila sudah melewati batas, siap-siap saja, mobil derek akan menarik paksa mobil Anda, dan kalau sudah begini urusan akan panjang dan sulit menyelesaikannya, orang Inggris paling takut dengan hal ini karena pasti menjatuhkan kondite mereka; malu berbuat salah itu yang ditekankan, dan itulah spirit penegakan hukum dalam Islam.

3. Human Rights
Hak asasi merupakan pilar kehidupan yang kerap membuat saya tercengang, nyaris tak percaya, tapi ini fakta yang tak terbantahkan. Hak hidup tenang dan tidak terganggu oleh kebisingan suara atau hak mendapat cahaya matahari dari rumah yang mereka tempati diterjemahkan secara apik. Jangan coba-coba merenovasi rumah Anda tanpa izin tetangga. Pak Dindin Wahyudin, salah seorang Diplomat kita yang tinggal di kawasan Golders Green, London menceritakan kepada saya, untuk menambah bangunan di belakang harus terbuat dari kaca dan dipastikan bangunan tersebut tidak menghalangi cahaya matahari ke rumah tetangga, karena itu salah satu syarat mendapatkan Izin Renovasi rumah dari kantor pemerintah setempat adalah pernyataan dari tetangga sebelah rumah kita.

Hak mendapat cahaya matahari saja diterjemahkan dengan begitu detail dan penuh tanggung jawab, bagaimana dengan hak pengguna jalan di Indonesia, terutama di kota-kota besar yang padat, pernahkah Anda mengalami pengalihan jalan oleh hanya resepsi pernikahan yang mengharuskan kita berputar sangat jauh dari jarak seharusnya.

Bila pada persoalan hak yang bagi sebagian kita sangat sepele saja (cukup lebarkan hati dengan jurus tenggang rasa), mereka telah mengaplikasikan hadits "sebagian tanda keimanan adalah memenuhi hak tetangga", maka bagaimana lagi dengan Hak Asasi yang fundamental; Hak untuk hidup, Hak kemerdekaan hidup, Hak mengemukakan pendapat, Hak mendapatkan pendidikan, Hak keamanan dan perlindungan, Hak Kesamaan dan keadilan di depan hukum, Hak politik, Hak asasi ekonomi, Hak beragama, Hak mengimani kepercayaan tertentu, Hak menjalani ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing dan ragam jenis lainnya yang bersifat universal, semua manusia pasti memaklumi hak asasi ini di manapun mereka berada.

Rasulullah SAW menjelang akhir hayatnya, secara intens menyuarakan hak-hak asasi ini sejak Khutbah saat Haji wada' di Arafah hingga khutbah terakhir di Madinah beberapa hari sebelum beliau wafat. Ini merupakan isyarat bahwa, persoalan hak asasi manusia merupakan pilar kehidupan yang sangat diperhatikan oleh agama Islam.

4. Behavior Engineering Model
Pengalaman berda'wah di United Kingdom mempertemukan saya dengan pengalaman menikmati sarana transportasi publik yang sangat bagus. Di kota London, saya memilih menggunakan Tube lewat lorong panjang berusia tua, Underground. Tidak jarang dalam satu station terdapat lima hingga enam tingkat ke bawah, akses tangga tentu tersedia secara manual, namun eskalator dan lift juga disediakan sebagai pilihan utama. Suasana pada Rush Hour di setiap station underground terbilang sangat padat, saya membayangkan ribuan semut yang berseliweran di sarang bawah tanah, begitulah yang terjadi pada jam sibuk di Underground.

Saat menggunakan Eskalator, ribuan manusia itu seperti telah diatur oleh sistem kesadaran diri (self awareness system), "stand on the right" semua berjajar rapih di sebelah kanan, lalu memberikan sisi kiri untuk dilintasi mereka yang berjalan cepat mengejar waktu; saya ta'jub seraya mengucapkan Mâsyâ Allâh dan lisan tak berhenti bertasbih, sebuah ruang penghargaan dari etos kemanusiaan yang berhati lapang tengah saya saksikan.

Bahkan saat tiba di luar station, bersama ribuan orang di jam-jam sibuk itu, antrian menyebrang jalan tertata dengan tertib, tidak menyebrang jalan sebelum lampu berwarna hijau menyala. Nyaris semua berjalan cepat (saya membayangkan seperti kebisaan Rasulullah saat berjalan, kata Imam Ali, Rasulullah bila berjalan bagaikan orang menuruni bukit), menyusuri jalan-jalan yang semua tampak bersih, sampah-sampah bersemayam rapih di tempatnya, sementara lalu lintas sangat jarang memperdengarkan suara klakson.

Kebersihan, kerapihan, keindahan, ketertiban, disiplin, saling menghargai, tanggung jawab merupakan nilai-nilai keseharian yang tampak dalam persaksian saya di Kota London ini. Tentu saya maklum, pemerintah Inggris Raya perlu waktu tidak sebentar mengerjakan "Rekayasa Perilaku" hingga sangat dita'ati oleh penduduk negerinya, mungkin satu hingga dua generasi tapi yang pasti mereka merencanakan rekayasa sosial itu dan mengerjakannya, sementara di negeri kita dari waktu ke waktu rencana itu hanya menghiasi seminar atau tema-tema basi para penceramah. Bila ini dibiarkan berlarut, bukan tidak mungkin agama hanya akan tersisa di mimbar-mimbar khutbah.

Syahâdah; sebuah sikap keberagamaan

Ketika saya menuliskan artikel ini, memori saya bekerja aktif, memutar kembali pengalaman saat berinteraksi dengan banyak orang di belahan bumi lain di luar Nusantara yang saya cintai, mulai dari Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang dan sebagian Turki, Middle East, Jordan, Palestina, Israel, Mesir dan Maroko, Spanyol, Belanda, Belgia, Perancis dan Inggris. Kesemua pengalaman dan persaksian itu dan terutama di Britania Raya semakin meneguhkan sikap keberagaman saya sebagai seorang Muslim bahwa nilai-nilai keislaman sesungguhnya merupakan surat cinta Tuhan kepada manusia yang dikirim ke berbagai penjuru bumi, engkau bisa membacanya lewat perjalanan jasadi maupun perjalanan ilmu lewat buku sebagai jendela dunia.

Dalam wawancara Radio dengan Voice of Amerika mengenai pengalaman berdakwah di Britania Raya, saya menyatakan bahwa Syahâdah ini seperti de javu dari pengalaman seorang Syekh Muhammad Abduh ketika pulang ke Mesir usai lawatannya di Paris, ia berkata, "Aku tidak melihat kaum Muslimin di Paris, sebaliknya Aku melihat Islam di sana, dan Aku tidak melihat Islam di Mesir namun melihat banyak sekali kaum Muslimin di sini."

Syahâdah atas nilai-nilai keislaman tentu saja mendatangkan manfa'at besar bagi kita untuk mencontoh dan mentauladaninya meskipun datangnya bukan dari Negara Islam. Dalam satu hadits Nabi bersabda, “Hikmah adalah harta yang hilang dari perbendaharaan kaum Muslim, maka barangsiapa yang menemukannya, maka ia lebih berhak memungutnya.” Bahkan pada hadits Ibnu Abbas, setelah Nabi mendo'akan beliau menjadi ahli hikmah, lalu beliau mengatakan Wa al-hikmah al-ishabah fi ghair al-nubuwwah (hikmah adalah kebenaran di luar kenabian).

Inilah Syahâdah saya dari United Kingdom yang mendapati pengalaman keislaman khas Britania Raya yang merawat konsistensi kerahmatan yang universal, mengusung spirit persaudaraan, tidak geram dalam permusuhan, menghindari sikap membid’ahkan apalagi menyesatkan, saling membahu dalam membangun negeri, mencintai nasionalisme mereka di negerinya sendiri. Islam Britania Raya bagi saya menjadi frase indah yang menyatakan keuniversalan Islam sehingga di bumi manapun Islam berada selalu cocok dan berkesesuaian.

Wallâhu a'lam bi as-Shawâb

(Sumber: Facebook Enha)

Friday, July 6, 2018 - 10:15
Kategori Rubrik: