Sweeping

Oleh: Iqbal Aji Daryono

 

Sweeping buku-buku kiri kembali marak di mana-mana. Saya jadi ingat kejadian populer di Jogja tahun 2001. Saya bagi sedikit, sapa tahu masih ada yang belum dengar cerita ini.

Waktu itu, lapak-lapak buku kelas emperan semacam di daerah Terban juga kena sasaran. Nah, dahsyatnya, salah satu yang jadi target utama sweeping dan pembakaran buku oleh golongan-yang-tak-perlu-disebut-namanya adalah bukunya Romo Frans Magniz Suseno. Buku dengan sampul kombinasi warna merah dan putih, berjudul "Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme".

Itu hebat sekali. Sebab buku tersebut justru merupakan kritik mendasar atas Marxisme, dan sama sekali bukan puja-puji atasnya. (Dari buku itu jugalah, akhirnya muncul buku lain yang berlipat lebih tebal, yang membantah kritik Romo Frans Magniz.) Tapi ya namanya aja membedah pemikiran Karl Marx, wajar to kalau di covernya ada foto Mbah Marx. Ha mosok masang foto Kapolsek setempat?

Andai para sweeper, juga tentara yang jadi bekingnya, juga para pentolan politisi lokal yang turut memperkuat barisan sapu bersih itu adalah orang-orang yang membaca, tentu kebegoan semacam itu tak akan pernah terjadi. Yang mestinya dilakukan justru malah membeli buku itu banyak-banyak, mempropagandakan isinya dalam bahasa-bahasa pamflet, lantas menyebarkannya dalam penataran-penataran P4 level RT.

Tapi ya namanya aja barisan nganu, lihat gambar saja langsung ngamuk hehe. Dari sini kita tahu, sweeping buku tuh akan membawa peradaban kita menuju ke mana.

Begitu ya, Pak Dandim. Pak Dandim sudah sarapan Pak?

 

(Sumber: Facebook Iqbal Aji D)

Keterangan foto: Karl Marx

Thursday, May 19, 2016 - 01:15
Kategori Rubrik: