Suwuk, Ruqyah Syar'i, Medan Tempur dan Medan Perbaikan

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Wahai temanda, sokabatnda, konconda, ananda (ايها الولد), Nanti, anda akan akrab dengan alam "non pisik" (dunia maya). Di alam itu, ilmu tradisi leluhurmu akan dipojokkan oleh sekelompok orang. Namun anehnya, mereka mengambil sedikit demi sedikit ilmu tradisi yang dipojokkan itu dengan dimodifikasi. Naifnya, saat menerapkan ilmu tradisi yang sudah dimodifikasi itu, mereka over mempraktekkannya.

Contohnya, suwuk dianggap syirik dan bid'ah, tapi mereka mengambil semangat suwuk dengan dimodifikasi dan dinamai ruqyah syar'i. Selanjutnya mereka menggunakan ruqyah syar'i hampir untuk segala masalah pasien. Itulah yang disebut over. Mirip kayak HTI yang bilang bahwa khilafah adalah solusi semua masalah.

Suwuk ala orang NU dulu dipakai karena memang yang familiar hanya cara itu. Sakit gigi, udun, sawanen, digigit ular dll akan disuwuk, tapi juga kombinasi dengan ramuan herbal-tradisional dll. Saat ini suwuk yg diterapkan warga NU tetap tidak melupakan ilmu lain entah itu kedokteran, ramuan tradisional, cantuk, atau perpijatan. Jadi tetap seimbang. Sekalipun si pesuwuk hanya mampu menyuwuk, tapi tidak menafikan ada cara lain.

Contoh lain dari over atas modifikasi adalah perilaku meruqyah. Saat korona ini ada peruqyah dari sebelah yang mempercayai bahwa korona adalah polah iluminati. Mereka justeru yang biasanya menuduh kita melakukan kesyirikan karena dianggap berteman dengan jin (padahal kalau kita kritis bisa bertanya, apakah haram atau dosa kita berteman dengan jin?), justeru mereka mempercayai omongan setan lewat medium (sekali lagi, mereka meniru model pencak setrum arek arek pelestari tradisi). Aneh kan? kok percaya setan. Jin tentu ada yg baik saja, kita sering dicerca berteman dengan jin. Lha perugyah ini aneh, setan yang pasti jelek malah dipercayai. Inilah perilaku over.

Wahai ananda, oleh sebab itu, kamu harus paham, di dunia maya adalah medan "tempur" dimana kita harus solid di antara sesama penjaga tradisi. Jangan sampai salah menempatkan dan salah membedakan antara medan "tempur" dengan medan perbaikan. Kalau di medan "tempur" jangan saling mengeritik sesama, karena pasti akan menjadi amunisi mereka. Lakukan kritik dan perbaikan di medan perbaikan secara internal, bukan di tempat umum, apalagi di dunia maya.
*****

Oh ya, saat ini para pesuwuk kita juga sadar wacana, karena di TV yang muncul selalu ruqyah model sebelah, maka para pesuwuk kita juga menambahi dengan nomenklatur "ruqyah aswaja", ada Ruqyah Aswaja Nganjuk ada Jam'iyyah Ruqyah Aswaja Lamongan, ada Suwuker Aswaja dll.

Semoga hal ini bisa bermanfaat bagi anak anak milenial dan centennial. Karena ilmu dari orang alim yang tidak bermanfaat nanti akan dapat siksa pedih. Sebagaimana hadis yang dicantumkan dalam kitab Ayyuhal Walad (juga Ihya') karya Imam Ghazali:
أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ .
Tapi untungnya saya bukan orang alim.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Saturday, May 2, 2020 - 16:45
Kategori Rubrik: