Survival

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Beberapa hari lalu saya iseng merebus air dengan kayu bakar ( ini hanya terjadi karena WFH). Padahal ada dispenser tinggal mencet atau kalau mau panas sekali ya dimasak di kompor gas. Tapi namanya iseng...Ini mengingatkan momen2 waktu kecil dulu hingga SMA. Meski sudah ada kompor minyak, masak pakai kayu bakar di rumah masih sering dilakukan ibu saya.

Orang desa pasti kenal nyugoke geni, memasukkan kayu yang terbakar bagian depannya agar api tidak mati. Nah itu yang saya alami beberapa hari lalu. Masak air nggak bisa disambi, karena harus nyugoke geni. Ya bisa sambil pencet2 HP. Tapi nggak senyaman kalau masak di kompor gas.

Tapi di masa lalu irama kehidupan itu sangat lambat. Jadi kalau masak air yang memang harus ditunggui, sambil disemprong, sambil disugoke. Nggak bisa ditinggal. Saat itu dianggap wajar saja. kalau sekarang dianggap repot. Saat itu ursan nggak banyak.

Ketika manusia butuh aktualisasi diri, butuh lebih banyak berperan, hidup memang jadi lebih berat. Dulu awalnya ketika populasi belum banyak, kita hanya butuh survive, kita nggak butuh dikenal, kita nggak butuh eksis. Alam sebenarnya menyediakan semua. Kita nggak tahu kapan pertama pohon mangga itu tumbuh, kapan pohon pisang itu ada. Kita tahunya ambil di kebon. mau makan ikan tinggal cari di parit atau sawah, banyak. Sekarang makin susah. Semua harus dibudidayakan. Semua harus dibeli.

Kita menghabiskan waktu untuk membudidayakan segala macam dari ternak hingga bahan makanan. Kita harus nyari uang agar bisa beli, Dulu semua tinggal ambil dari alam.

Masak air secara manual pakai kayu bakar tidak lagi efisien. Kalau kita tarik lagi ke abad2 dulu, cara2 hidup waktu itu makin tidak cocok kita terapkan. Cara hidup sudah jauh berbeda. Anak2 sudah susah diajak manjat jambu lalu makan di atas sambil duduk di dahan. Anak2 tidak tertarik itu,

Singkatnya kemajuan2 telah membuat kemudahan, tapi ribetnya hidup manusia tidak berubah, tetap banyak masalah. hanya jenis masalahnya yang berganti.

Umumnya manusia suka kehidupan masa lalu. Karena derita masa lalu kini jadi cerita. Padahal saat itu ya jadi siksaan. Tragedi masa lalu yang masih bisa kita ceritakan bisa jadi komedi masa kini.
Namun meskipun masalah kita berganti, cara hidup kita berubah, karakter2 unggul seperti jujur, peduli, kerja keras, adil, cinta kasih, itu yang tidak berubah. Kalau kita ingin merawat ajaran2 hidup masa lalu, karakter2 itu yang mestinya kita pertahankan. Bukan mempertahankan cara hidup abad2 lalu, jelas itu tidak relevan. Kalau saat ini saya naik andong nggak lewat tol, ya lama sampainya. Akan ketinggalan.

Jadi kita mempertahankan nilai2 kebaikan yang sifatnya statis dan universal tetapi gaya hidup harus ikut jaman yang sifatnya temporal dan lokal..
(Status bingung bangun di malam hari dan nggak mau ibadah ritual)

Sumber : Status facebook Budi Santoso Purwokartiko

Wednesday, September 9, 2020 - 18:15
Kategori Rubrik: