Surganya Para Filsuf

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Dalam semua ajaran agama dan keyakinan..., surga dipahami sebagai sesuatu tempat yang sangat indah..., yang merupakan imbalan atau ganjaran bagi manusia kelak..., jika banyak berbuat kebajikan saat masih hidup.

Pemahaman kita tentang surga dulu..., ya sebagaimana yang umumnya diajarkan orang-orang.

Membayangkan ada sungai yang jernih..., banyak bidadari seksi bersliweran ke sana kemari..., banyak makanan enak..., dan sayangnya mungkin tidak ada sinyal internet.

Kita pasti sama...., memiliki bayangan tentang surga sebagaimana yang diilustrasikan di atas.

Akan tetapi bagi saya pribadi..., setelah bisa berpikir dengan logika..., yang namanya ilustrasi itu mungkin hanya sebuah perumpamaan..., untuk memudahkan pemahaman saja dan tentu bukan hal yang sebenarnya.

Ada satu hal yang sangat mengganggu pemahaman saya tentang surga... yang ditanamkan sejak kecil..., yaitu adalah bahwa di surga itu apapun dihalalkan..., apapun boleh dilakukan.

Apalagi jika kita termasuk manusia yang pahalanya sangat banyak..., fasilitas surganya pasti lebih "Wah...".

Dengan surga yang sepertu itu..., bisa saja dalam.hati kita timbul pertanyaan ekstrem semacam ini...: "Jika saya ini hobinya maniak berhubungan seks dengan wanita..., apa boleh saya di surga setiap hari 'begituan terus'....?".

"Nah kemudian kalo misal saya 'begituan' sama banyak bidadari sekaligus..., apakah boleh....?"

"Terus kalo saya melakukannya di sembarang tempat sesuka saya..., apa boleh juga....?"

Maaf kalo ini terlalu kasar ya, tapi saya kira ada ulama pejabat MUI yang lebih kasar lagi dalam menerangkan tentang sorga dan bonus bidadari ya.

Kembali.ke laptop....: Kalau mengacu pada pertanyaan..., bahwa Surga adalah tempat di mana semuanya boleh dan dihalalkan..., maka tentunya jelas jawaban semua pertanyaan saya itu ya "Boleh....!"

Tapi benak saya masih bertanya..., "Masak sih boleh...?".

Saya juga pernah mengkonfirmasikan pemahaman saya tentang surga kepada seorang teman yang ikut beberapa pengajian..., terutama doktrin bahwa surga itu tempat pemberian ganjaran dan di situ semuanya 'boleh' dan 'dihalalkan'.

Nah..., teman yang saya pandang lebih paham agama bilang...: "Itu benar....".

Bahkan katanya..., di surga itu ada juga minuman keras (khamer) yang kita bebas untuk.meminumnya..., tapi tidak memabukkan... (Note: ngakak juga aku..., lha terus ngapain juga minum.... ).

Kemudian saya tanyakan kepada teman tersebut..., pertanyaan saya yang radikal soal “begituan” itu.

Supaya jelas..., saya ulangi lagi pertanyaan ekstrem saya...:

Apa boleh saya di surga setiap hari berhubungan seks terus....?

Kemudian kalau misalnya saya berhubungan seks dengan banyak bidadari sekaligus..., apakah boleh...?

Terus kalau saya melakukannya di sembarang tempat sesuka saya..., apa boleh...?

Dan yang mengejutkan..., teman yang saya tanya i itu menjawab...: "Boleh....!"

Apakah saya senang dengan jawaban 'Boleh' itu....?

Jujur saya tidak senang...., saya.malah kecewa....

Why....?

Dalam pandangan saya..., jika boleh seperti itu..., bukankah surga nampak seperti tempat “pemuasan nafsu” yang tertunda...?

Apa bedanya nanti antara surga dengan tempat pelacuran..., atau tempat syuting film porno..., di mana kita jalan-jalan di surga akan mendapati pemandangan banyak orang yang berhubungan seks dimana-mana....?

(Jadi membayangkan kakek Sugiono dan Miyabi....).

Ini konyol..., sangat konyol...

Oleh sebab itu saya merubah total cara pandang saya tentang surga..., surga tidak bisa dibayangkan seperti itu.

Menurut saya..., kalau surga dibayangkan seperti uraian di atas..., itu namanya “melecehkan” surga.

Jangan terjebak berbagai perumpamaan yang diberikan..., dan menelannya mentah-mentah sebagai kebenaran.

Surga itu tidak terpikir..., tidak bisa dibayangkan dan tidak akan terbersit gambarannya seperti apa dalam hati.

Bahkan bisa jadi..., surga itu sedemikian dekatnya dengan kita..., kita sudah mengalaminya setiap hari..., hanya kita saja yang tidak menyadarinya.

Rahayu (sebuah status)

Bung Cebong : Kalau surganya kaum filsuf bagaimana Long, saya pengin dengar.

Santri Kalong : Filsuf selalu memakrifati hakikat segala sesuatu. Termasuk memahami hakikat surga. Orang beriman yakin surga itu ada. Namun akal tak dapat mendefinisikan nya. Kecuali bahwa ia diperuntukkan manusia beriman. Hal yang non materi tak bisa dibahas oleh filsafat fisika, melainkan perlu kepada metafisika.
Dalam filsafat metafisika seluruh keberadaan itu satu ada, tak ada lagi dualisme materi dan non materi.
Surga adalah kedekatan dengan eksistrnsi mutkak, yakni Tuhan berkelindan dengan kemuliaan. Sedangkan neraka kondisi kejauhan dari eksistensi mutlak berkubang kehinaan. Kehinaan terperangkap dalam binatang menjijikkan yang fitrah manusia menolak memakannya. Surga tergambar dalam hidangan Al Maidah, makanan yang bersih dan halal.

Bung Cebong :
Apa ini yang dinamakan inkarnasi Long?

Santri Kalong :
Tidak persis kepada pemahaman umum reinkarnasi yang difahami dapat terjadi berulang kali. Setiap kita hanya di beri kesempatan sekali hadir sebagai entitas berakal di alam dunia ini, dan dimintai pertanghung jawaban. Kita adalah preman bertanghung jawab. Akal, wahyu dan pemberi petunjuk itu modal utama manusia untuk selamat. Tak ada satu jiwa dalam banyak badan. Yang ada banyak jiwa dalam satu spesies binatang-binatang menjijikan yang tak dimakan orang beriman. Sehingga materi awal itu abadi dalam api. Karena hakikat api adalah bahan bakarnya. Itulah jahanam holidan fiha. Bahan bakarnya batu dan manusia. Wuquduha an nas wal hijaroh.

Dul Kampret :
Kenapa seks dengan kekasih hati beda dengan yang di pelacuran. Hubungannya dengan bidadari dan bidadara bagaiman ?

Santri Kalong :
Itu nanti tanya Kang Mat saja. Saya juga kurang mengerti. Dari pada ngasih penjelasan salah kaprah. Atau tanyakan ke dokter Boyke
lah yang kayak gitu-gitu. Jangan tanya ke MUI
nafsunya udah diubun-ubun ketemu bidadari.
Semoga disediakan untuk mereka banci Taman Lawang.

Bung Cebong :
Katanya rakyat Indonesia banyak masuk surga. Tapi hampir semua elitnya banyak di neraka. Apa betul begitu Long?

Santri Kalong :
Bisa jadi, karena selama ini rakyat Indonesia ditipu terus sama elitnya. Mungkin Tuhan kasihan sama rakyat Indonesia.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Sunday, December 1, 2019 - 19:00
Kategori Rubrik: