Surga Mikro Di Politik Kita

ilustrasi

Oleh : Wasil Belian

Dua hal yang sering dijungkir balikkan dalam kontestasi politik adalah Ekonomi dan Agama.

Para politisi mengumbar janji seenaknya hanya demi menarik simpati calon pemilih. Diumbarlah segala jenis kemudahan ekonomi, agar para pemilih tergiur membayangkan betapa mudahnya hidup mereka kalau si politisi berkuasa.

Kepada petani dan nelayan dia menjanjikan penurunan biaya produksi sembari mengiming-imingi akan menaikkan harga jual produk pertanian dan ikan.

Selain itu mereka janji menurunkan pajak atas penghasilan mereka. Tapi esok harinya, di hadapan pedagang dan para pengusaha dia berjanji hal sebaliknya; akan mengupayakan harga beli produk semurah mungkin, menurunkan biaya logistic dan sebagainya.

Kepada Nurjannah, Mia, dan siapapun namanya yang dia sebut, dia menjanjikan harga listrik akan diturunkan signifikan. Padahal dia tak menjabarkan utuh, berapa konsumsi listrik dari rumah tangga yang dia sebut.

Kepada pegawai dan buruh dia menjanjikan gaji akan dinaikkan, system kontrak kerja outsourcing akan dihilangkan, honorer akan dipermanenkan. Dan sebagainya.

Tidak ada koordinasi yang masuk akal antara janji dan realisasi.

Politisi memang boleh berjanji semuluk mungkin, meningkatkan pendapatan, menurunkan pajak, mengurangi biaya produksi dan sebagainya.

Namun berjanji bisa silap menjadi berbohong. Apalagi kalau ternyata dia tahu janji-janji yang dia kumpulkan, satu sama lain saling bertentangan, menegasikan yang lain.

Kepada pengusaha dia menjanjikan penurunan pajak, pemangkasan biaya produksi. Tapi kepada pekerja dia janjikan kenaikan gaji, penghilangan system kontrak kerja. Walah.

Dalam hal agama, ini yang paling miris.

Ada seorang ustad muda menjanjikan akan mengajak si paslon capres untuk masuk ke surga, menggandeng tangannya ke dalam surga.

Padahal, dia saja belum tentu masuk surga, juga tak punya hak memberi syafaat. Bagaimana bisa dia menjanjikan surga kepada orang yang dia kenal tak alim, tak punya histori kebaikan amaliah.

Hanya karena dukungan politik, dia rela mencederai pemahaman vital tentang layak tidaknya seseorang masuk ke surgaNya.

Surga, ekonomi dan hal2 lain menjadi persoalan individual, MIKRO di tangan politisi pembual ini. Menyedihkan.

Politik, memang sering mengambil jalan pintas meraih simpati. Tapi sayang, jalan pintas seperti ini tak layak dipertontonkan ke khalayak.

Membuat ekonomi atau agama menjadi barang murahan yang diobral sebagai barang picisan.

Sumber : Status Facebook Wasil Belian

Monday, April 15, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: