Surga Karbitan

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Kontroversi pesta-pestaan dari ustad-ustadan ABG yang digoreng TV mirip tahu dadakan adalah fenomena media TV kita. TV dimanapun matanya jelalatan cari pengisi tausiyah agama. Tidak ada maksud dari mereka untuk membuat orang Islam tambah pintar. Dalam pikiran media adalah bagaimana mendapatkan rating dan beroleh iklan.

Jadi kalaupun ada umat yang tambah pintar itu bukan karena media. Tapi belajar dari guru ngaji mereka. Bagi media itu bukan soal kok. Makin bodoh pertanyaannya, makin lucu jawabannya maka rating bakal naik. Penguasa kapitalis senyum lebar karena milyaran uang dari iklan datang.

Mereka hanya sekedar memanfaatkan orang yang jago dikit baca Quran tapi"ngocol" jawabnya. Itu yang mereka cari. Penceramah plus pelawak. Pelawak plus penceramah. Rating mereka jauh lebih tinggi ketimbang kajian serius KH. Quraish Shihab atau KH Mustafa Bisri.

Banyak kebobrokan sejumlah ustad--ustadan yang dibesarkan media. Cukup saya saja yang tahu. Tapi yang jelas saling menguntungkan secara finansial adalah garis bawah yang tebal mengapa kita bisa lihat ada ustad abal-abal bisa muncul di TV. Termasuk dia yang hanya jago murotal dan sebelumnya adalah asisten yang menulis naskah untuk program Maulana yang kondang dengan teriakan jamaah oh jamaah.

Saya tahu persis apa tugas-tugas asisten seperti dia itu. Dia kondang karena kebetulan si Maulana absen tidak bisa tampil.Kebetulan tampang dia cocok tampil di TV. Produser gambling tampilkan dia daripada acara gak jalan. Ehh ternyata ratingnya bagus dan sejak itu dia digoreng habis-habisan oleh media TV buat kejar rating.

Orang-orang dibelakang acara itu leganya bukan main karena nemu "barang bagus." TV lain penuh penceramah yang medok Jawa , Betawi atau Sunda ehh ini e..de..de.. punya logat medok dari Tanah Para Daeng Ji.. Unikkan.. laku nih dijual. Itu pikiran media.

Sementara, ustad karbitan itu juga senang pangkatnya naik dari sekedar nulis skrip kini menjadi penceramah betulan. Duitnya juga makin tebal. Namanya juga makin kondang sampai kelewatan.Bahkan ada ustad-ustadan satu level sama dia yang pamer foto bareng sama istri yang sedang netekin anaknya.

Sebenarnya anak kecil si ustad dadakan dan sejenisnya itu tengah mengalami sindrom "Fame and Famous." Dan ini melanda semua orang yang jadi sorotan media. Media mengekploitasi segalanya memanfaatkan gempita super senang orang yang tiba-tiba terkenal.

Tadinya sebagai asisten, ustad karbitan bisa baca banyak buku dan copy paste gagasan yang nyantel diotaknya. Namun karena sudah tampil dan harus kejar tayang, rutinitas itu tidak bisa dilakukan lagi. Akhirnya dia gelagapan cari topik karena kurang bahan sementara staminanya berada dalam kelelahan. Jadi apa yang dibenaknya itulah yang dia keluarkan.

Bisa jadi sebelum tampil, ustad-ustadan yang masih jomblo itu sedang birahi hingga pikirannya dipenuhi khalayan erotisme. Jadilah pesta-pestaan itu terlontar ditengah puluhan emak-emak yang sudah merasakan enaknya gituan.

Sementara produser dan orang-orang dibalik program itu juga dikejar target hingga sensitivitasnya tumpul akibatnya kata-kata jorok itu muncul. Atau bahkan mungkin mereka sekedar pekerja media pemakan gaji semata yang dicomot garap program agama padahal baca Quranpun tidak bisa. Yang penting program jalan. Selesai perkara.

Jadi artinya, semua kontroversi itu hasil karbitan. Semua yang terlibat matengnya dadakan. Hasilnya, Ustad bantet itu muncrat dengan khayalan surga-surgaan. Padahal dia pasti gelagapan jika didebat soal apa itu surga dan neraka. Termasuk siapa yang menghuninya.Apakah sebagai sosok manusia yang terdiri dari daging dan nyawa. Ataukah nyawa kita saja yang menghuni jasad kita.

Coba si Syam al Merusi ( demikian dia menyebut dirinya) bahas soal ginian. Bakal nungging dia..

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Tuesday, July 18, 2017 - 14:30
Kategori Rubrik: