Surat untuk Presiden Afganistan

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Yth. Tuan Ashraf Ghani.. 
Assalaamu alaikum Tuan, apa kabar? Saya harap anda dan negeri anda dalam keadaan baik dan selalu dalam Ridho Allah SWT.

Tahukah tuan, bahwa kunjungan presiden kami Bapak Jokowi tempo hari ke negeri anda, disini begitu ramai di perbincangkan. Mulai upaya terwujudnya perdamaian, sholatnya presiden kami bersama tuan, hingga gadis cantik pembawa Merah Putih yang berdiri kedinginan di pinggir jalan.

Kami disini berharap bahwa kunjungan presiden kami membawa manfaat bagi negeri tuan. Sebuah negeri yang kami kenal penuh dengan (maaf) kekerasan. Bahkan beberapa saat menjelang kunjungan Bapak Jokowi, masih terjadi teror-teror mengerikan itu. Tapi anehnya tuan, kok ya masih ada sebagian rakyat dinegeri kami yang terobsesi merubah negeri kami seperti yang terjadi di negerimu. Konyolnya lagi, presiden kami yang harus mengayomi keberagaman Anak Bangsa dan Umat Beragama di Indonesia, dituntut harus bisa melafalkan bacaan Sholat layaknya lidah orang arab. Lha wong bicara Bahasa Indonesia saja kayak ada medhok-medhok Jawanya gitu. Coba sekali-kali tuan jelaskan kepada kami disini bahwa mereka yang selalu berbuat kekerasan dinegeri tuan, bacaan Sholatnya juga begitu fasih, tapi sama sekali tak tercermin pada perilakunya. Artinya, itu bukanlah suatu ukuran Akhlaq seseorang.

Oh ya tuan, bolehkah kami mengajukan satu permintaan. Mungkin bagi tuan ini akan terdengar agak aneh dan konyol. Tapi bagi kami bisa jadi manfaatnya sangat besar. Kami ingin menukar pemuda kami bernama Zaadit Taqwa dengan gadis Afghanistan pembawa Merah Putih yang sedang kedinginan di pinggir jalan itu tuan. Meskipun keinginan ini bagi kami agak berspekulasi, karena kami gak tahu gadis itu namanya siapa, sekolahnya dimana, latar belakangnya apa dsb, tapi adab yang dimilikinya dalam menghargai sebuah negara dan pemimpinnya sudah lebih dari cukup. Pertimbangan kami yang lain, bahwa pemuda kami bernama Zaadit itu kok rasanya lebih cocok hidup di negeri tuan. Mulai namanya, afiliasi politik dan ideologi nya bahkan tokoh idolanya. Agar ketika hidup dinegeri tuan, dia jadi sadar dan pandai bersyukur bahwa begitu berharganya hidup damai bertoleransi serta memiliki pemimpin yang berdedikasi.

Perlu tuan ketahui juga bahwa pemuda yang kami tawarkan ini seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi ternama lho. Sudah begitu, Presiden BEM pula! Bukannya saya tidak setuju dengan rencana Pak Jokowi untuk mengirimkannya ke Asmat. Saya cuma khawatir disana nantinya sedikit-sedikit dia mengeluarkan kartu kuning. Hanya karena dianggap orang Asmat kurang Syar'i (misalnya) lantas langsung di kartu kuning! Kan, repot tuan? Dan jika tuan agak keberatan, misalnya tukar tambahpun kami tak masalah. Silahkan dipilih tambahan nya. Ada Pak Fahri Hamzah yang mulai ikutan hobi main kartu, silahkan tuan bawa sekalian. Ada juga namanya Pak Fadli Zon yang ngomongnya selalu pedas, siapa tahu dinegeri tuan sedang krisis cabe, pedasnya omongan beliau juga bisa dimanfaatkan. Dan kalau masih kurang, kami juga ada stok seorang profesor namanya Amin Rais. Siapa tahu juga cocok. Tapi eiits.., tunggu dulu tuan! Maaf jangan dibawa dulu. Karena beliau masih ada nadzar jalan kaki Jogja-Jakarta yang belum dilaksanakan. Kasihan, karena melaksanakan nadzar hukumnya wajib. Jangan sampai kita dianggap menghambat kewajiban seseorang.

Sekian permintaan dari saya, seorang Rakyat Indonesia yang mencoba selalu bersyukur atas anugerah negeri yang subur dan kaya alamnya, damai dan toleransi umatnya serta kebersahajaan presidennya. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu alaikum wr wb.

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Sunday, February 4, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: