Surat untuk Prabowo (Kabinet Tulang Lunak, Sudah dan Akan)

Yth, Bapak Prabowo dan para calon menteri kabinet Indonesia maju-mundur.

Dengan hormat,

Pasca pencoblosan ada beberapa moment yg saya amati membuat hati saya teriris sebagai rakyat Indonesia. Awal Pak Prabowo mengumumkan kemenangan yg sampai 3 kali sujud syukur dengan angka 52%, dua jam kemudian menjadi 62%, saya merasa iba melihat Pak Prabowo sebagai korban nafsu para penjilan disekelilingnya. Walau harus diakui nafsu Pak Prabowo juga seubun-ubun unttuk jadi presiden. Tapi setelah Pak Prabowo ngeyel, saya mulai muak dan merasa sebagai bangsa dipermalukan seorang dengan nafsu gila sampai segala cara dilakukan. QC tidak dipercaya, malah dikatakan merekayasa angka, KPU mau dimandulkan dibuat narasi yg mengarah kepada penggagalan pemilu. Semua prilaku itu jadi bahan tertawaan dunia, bahkan ada beberapa video pendek yg melakonkan presiden-presidenan, bahkan ada anjing yg memerankan sbg presiden, ini sindiran memalukan, seolah presiden menjadi begitu tak berharga, sampai anjing hitam dianggap bisa kalau sekedar salaman jadi presiden. Dalam video yg lain ada sederet purnawirawan berbaris menghormat dan menyebut Prabowo presiden. Akhirnya mulai timbul cemoohan dari luar negeri kepada Indonesia, yg berpotensi ada dua presiden.

 

Pak Prabowo, tidak ada yg melarang Bapak jadi presiden, bahkan sampai 3 kali bapak ikut kontestasi kami fine-fine saja, walau mayoritas rakyat Indonesia memang tidak berpihak kepada bapak, termasuk saya. Dunia sudah begitu terbuka, batukpun bisa direkam dijadikan rekam jejak kita, dengan demikian rakyat kebanyakan tau siapa bapak dan latar belakang yg penuh ketidak baikan, sama halnya Soeharto yg meninggalkan luka menganga untuk rakyat Indonesia, dan yg pasti bapak adalah produk orba yg tidak pantas dihidupkan kembali, ibarat dinosaurus, kebangkitannya bisa menelan kami semua.

Menyinggung angka klaim kemenangan bapak yg 62%, angka itu sama dengan 95 juta suara, dan Pak Jokowi diposisikan mendapat 38%. QC bapak tidak percaya, diajak buka-bukaan data tim bapak tak bersedia, dari sana kami sudah makin membaca tim bapak sudah sejak lama membuat narasi seolah bapak bakal jadi, namun sejatinya mereka cuma penjilat sejati yg akalnya mati, tak tau diri.

Metode QC sudah sejak 2004 dipakai, QC adalah produk ilmiah yg dapat dipertanggung jawabkan kevalidannya, dan bila ada sanggahan ada ruang tempat berargumentasinya dgn orang-orang yg menguasai ilmunya, bukan asal bicara dipinggir jalan pula. Dan metode yg sama dipakai saat jagoan bapak menang pilkada Jakarta. Sekarang semua menyimpulkannya lembaga survey yg angkanya memenangkan bapak itu yg dipercaya walau caranya seperti lompatan kuda, sementara yg kredibel bapak anggap sundel. Gak salah kata Prof. Machfud MD, lembaga survey dan KPU selalu salah dimata yg kalah. Namun demikian bila bapak tak juga percaya tidak apa-apa, hanya saja bapak juga menghentikan kepercayaan kepada lembaga survey yg mensupply data dari ruang belakang, dengan bisikan setan yg melambungkan bapak seolah " SUDAH DAN AKAN " jadi presiden, kalimat ini banyak orang tak faham, sudah itu artinya ; sudah = selesai, akan = belum dilakukan, jadi artinya bapak pernah merasa jadi presiden, dan juga merasa " akan " jadi, intinya semua sedang berproses, itulah esensinya, maka biarkan saja KPU bekerja. Lembaga ini adalah lembaga dimana bapak mendaftar, berdebat, kemudian sedang menghitung. Bapak tidak bisa nyelonong boy, seperti mau naik kelas, rapot orang yg diambil, walau angkanya tinggi, tapi namanyakan bukan nama bapak, 

Pak Prabowo, yang kami sayangkan, bahwa gembar-gembor mengaku negarawan, tapi kalah dengan QC, bapak cuma senang dengan angka menang, faktanya kalah. Kasak kusuk diseantero negeri bapak sakit, wlau bukan terang-terangan dikatakan sakit jiwa. Bapak mengumpulkan begitu banyak manusia yg bapak tulari dengan ilusi, mereka jadi ikut sakit. Manusia berpendidikan, sudah pada umuran, ada jenderal bekas, dan bekas-bekas yg lain, mengikuti pidato calon kabinet, dimana pemilu sedang berlangsung, KPU sedang menghitung. Luar biasa dagelan murahan, tapi ya ada didepan mata, mati akal orang Indonesia melihatnya, lumpuh syaraf berpikir kita melihatnya. Kok ada manusia kembali ke zaman purba, pikirannya lepas dari kepala.

Tapi, akhirnya kami juga harus mengucek mata, bahwa kami sedang menonton orkestra orang gila, dirijennya begitu membusungkan dada, yg menonton sudah lupa mereka siapa sebenarnya, karena dari progress prilaku, mereka adalah orang yg terpinggirkan oleh keadaan dimana zaman menuntut proses kebaikan dan kebenaran, bukan kepura-puraan yg didesign oleh akal dan akhlak bajingan.

Kami tunggu pengumuman KPU, sambil menunggu bapak menunjuk Kapolri, dan Pangab versi bapak. Bila hal itu terjadi, maka bapak telah berhasil melanjutkan cita-cita ayahanda Sumitro, membelah Indonesia menjadi dua,Timur dan Barat, dengan ibukota Sumatera Barat. 

Selamat melanjutkan kelakuan lucu-lucuan, kami rakyat Indonesia tetap bersiaga agar Indonesia terjaga tidak terbelah dua, apalagi terpecah lima.

Kami masih merasa Indonesia, entah bapak kalau sudah merasa bukan anak nusantara. KARENA DENGAN MENDEKLARASIKAN BAPAK SEBAGAI PRESIDEN DENGAN MENGERAHKAN MASA YG MENGANGGAP BAPAK PRESIDEN, ITU SUDAH AKSI KUDETA.

 

(Penuis: Iyyas Subiakto)

 

Sunday, April 21, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: