Surat Untuk Ibu Anies Baswedan

ilustrasi

Oleh : Akiet Liem

Maaf, bukan saya mau ikut campur tentang urusan dalam keluarga Ibu. Hanya saja saya turut prihatin kepada Bu Anis sekeluarga
Jujur saya juga salah satu yang ikut protes serta menertawakan segala tindakan dalam setiap berita tentang Pak Anis semenjak beliau menjadi calon Gubernur hingga menjabat. Saya terang-terangan adalah pendukung Pak Ahok meski saya bukan warga Jakarta.

Bu, anda istri dari seorang lelaki dan pemimpin daerah yang merupakan Ibu Kota Negara. Biasanya dibelakang seorang pemimpin itu ada sosok perempuan hebat dan kuat disebut istri dan bisa juga ibu, tapi pada kenyataannya hal itu tidak terlihat pada Pak Anis. Beliau hanya seperti guru yang memberi pelajaran teori tanpa praktek ketimbang seorang pemimpin. Kata-katanya begitu lembut dan santun, tapi ngambang tanpa pernah bisa dicerna oleh otak orang awam seperti saya. Beda dengan Pak Ahok, bahasanya pedas dan tajam. Namun mampu dengan cepat orang seperti saya dan lainnya mencerna.

Bu, Ibu aktif tidak di medsos? Jika iya, pasti Ibu tahu ada banyak postingan menghujat dan jutaan komen mencaci Beliau. Saya tahu pasti hati ibu ngelangsa melihat dan membacanya (jika iya). Saya jadi ingin tahu nasehat seperti apa yang ibu sampaikan kepada Pak Anis untuk menghibur hatinya? Hingga Pak Anis begitu BEBAL dan bersikeras bertahan menjadi seorang GUBERNUR TANPA MEMILIKI KEMAMPUAN UNTUK MEMIMPIN. Jika ibu begitu sayang Pak Anis dan Anak-anak, seharusnya sejak awal ibu sudah meminta Bapak untuk mundur. Atau jika Ibu seorang pengasih dan penyayang, istri seorang pemimpin yang baik itu adalah mengasihi rakyat yang di pimpin beliau. Lihat lah penderitaan mereka orang-orang kecil yang menjadi korban ketidakbecusan suami ibu dalam memimpin. Jangan bertahan hanya karena ingin tetap dihormati dengan mengabaikan segala kebenaran di depan mata.

Bu, lihat lah bencana banjir kali ini. Hitunglah dengan kasar kerugian rakyat kecil juga negara. Apakah ibu ingin terus mendengar mereka mencaci maki suami Ibu? Apa Ibu senang membiarkan mereka saling menghujat kesesama? Kasihani suami Ibu, kasihani anak-anak ibu. Janganlah membagun tembok di wajah. Tanya nurani ibu, tidak kah ibu sedih melihat penderitaan rakyat kecil seperti kami? Hujan dan bencana memang kehendak Tuhan, Bu. Namun jika Pemimpinnya seorang yang cakap dan tanggap setidaknya banjir yang terjadi di awal tahun kemarin tidak akan separah ini.

Jujur, saya terkadang kasihan dan malu sendiri saat membaca segala hujatan tentang suami yang ibu cintai. Tak jarang saya juga turut berkomentar mengejek. Dalam hati saya selalu bertanya, kok ibu membiarkan semua ini? Atau ibu merasa Bapak sedang berjihad dan berada di jalan kebenaran? Apakah Ibu tidak bisa lihat, suami Ibu layaknya sebuah boneka lebih tepatnya wayang yang dimainkan sang dalang. Dari relung hati paling dalam saya turut prihatin pada keluarga Ibu.

Semoga mata hati serta pikiran ibu terbuka dengan adanya bencana banjir yang melanda Jakarta. Sampaikanlah pada suami Ibu
"MENGAKUI KEKALAHAN DAN KETIDAKMAMPUAN ITU LEBIH SATRIA DARI PADA BERTAHAN HANYA UNTUK MENJAGA HARGA DIRI YANG SUDAH TERINJAK-INJAK SEBAB SEBUAH EGO."
Semoga saja nurani ibu sebagai istri dan seorang perempuan masih peka. Maaf kan atas tulisan yang menyinggung ini. Semua sebab keprihatinan saya atas musibah yang menimpah saudara/i saya di Ibu Kota dan sekitarnya.

Sumber : Status Facebook Akiet Liem

Friday, January 3, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: