Surat Untuk (Alm) Riyanto Banser

Ilustrasi

Oleh : Felix Irianto Winardi

Mas Riyanto, apa kabar???
Aku yakin kamu sangat baik sekarang ini dalam damai abadi bersama Tuhan.
Aku gak pinter nulis Mas, please jangan ketawain isi suratku yang acak-adut.

Gak kerasa ya Mas, sudah hampir 17 tahun berlalu. Untuk mu tahun2 pasti dah gak ada artinya ya?!

Walau 17 tahun sudah berlalu, tapi aku tetap merinding mengingat keberanian mu yang luar biasa. Sampai sekarang aku blom bisa paham, bagaimana mungkin berani kau korbankan hidup mu untuk mereka yang berbeda. Kekaguman ku bercampur heran berselaput ngeri. 
Ya aku kagum, dan bertanya beranikah ku korbankan hidup ku untuk orang lain yang berbeda???

Aku heran, dari mana kekuatan penggerak hati penuh cinta sesama itu??? Kami lah yang selalu dicecoki "berkorbanlah untuk sesamamu", tapi kamu yang melaksanakannya!!!
Aku ngeri Mas, membayangkan sakit yang kau tanggung, saat serpihan logam menembus tubuh muda mu. Sesak dada ku, tak sanggup membayangkan.

Tapi kini kamu sudah bahagia penuh cinta dan cinta. Sementara kami masih berkutat saling membenci, saling fitnah. Bahkan setahun yang lalu jatuh lagi korban, adik kecil Intan Olivia meregang nyawa. Tubuhnya penuh luka barat terkena molotov.
(Eh iya, sampaikan salam cintaku untuk adik Olivia ya Mas.)

Aku sedang galau Mas. Zaman now rasanya makin jauh cinta dari hati. Liat aja di WAG-WAG, pesbuk, juga cuitan-cuitan. Nafasku kerap tersenggal -asma kumat- membaca yang di medsos. Dan repotnya semua yang di medsos meleleh dalam keseharian. Putus pertemanan menjadi biasa dan dianggap harus. Putus tali darah pun kerap ada.

Satu lagi yang harus kamu tau Mas. Rekan-rekan mu belakangan ini sering dipojokkan bahkan di fitnah. Padahal mereka hanya ingin mempertahankan NKRI. Mereka hanya ingin menikmati keberagaman penuh kasih. Mereka hanya ingin tenang ngopi dan udut bareng dengan yang berbeda. Padahal apa salah rekan-rekan mu ya Mas.
Nelangsa batinku Mas, takut suatu saat tak bisa lagi menemui cinta. 
Aku takut gurun pasir menggantikan kasih. 
Aku takut badai menggulung melumat sepoi semilir sejuk.
Sedih tak tertahan, seluruh buluku meliuk gentar.

Rekan2ku pun tak berani tegas bicara
Enggan berbaris bersama merapatkan persaudaraan
Rekan2ku masih banyak yang kurang peduli, tak berempati atas kemiskinan di sekitar
Terlalu sibuk di "sekitar imam", lupa pada Tuhan yang hadir di dalam wajah sesama
Rekan2ku masih banyak yang mencari Bunda Maria ke tempat yang jauh, lupa pada Bunda Maria dalam wajah anak-anak miskin ingusan.

Udah dulu ya Mas, Kapan2 ku tulis lagi surat untuk kamu. Tolong balas surat ku ya Mas.
Doakan kami semua ya. Doakan juga agar NKRI dan Pancasila makin kokoh di hati setiap kami.

Mas, sampaikan salamku untuk Tuhan, dan titip tanya mengapa sulit bagi kami untuk saling mencintai? Mengapa membenci lebih disukai, daripada mengasihi? Dan apa warna kesukaan Tuhan ya Mas???

Penuh kasih,
FIW,
Sehari setelah Hari Pahlawan 2017.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Saturday, November 11, 2017 - 19:15
Kategori Rubrik: