Surat untuk Adik-Adikku di PSI

Oleh: Denny Siregar

 

Saya ingat sekali waktu Pemilu legislatif diundang oleh Partai Solidaritas Indonesia.

Saya didaulat untuk bicara dipanggung. Saya setuju, dengan satu syarat tidak ingin memuji mereka. 

 

Dan di panggung saya bicara dengan nada keras, "Saya akan mendukung PSI bukan karena suka, tetapi justru saya ingin membuktikan bahwa kursi DPR akan membantai kalian, menjadikan kalian lemah seperti banyak aktivis seperti kalian sebelumnya. 

Dan saya akan puas dgn mencaci kalian, menyerang kalian karena karena sudah berbohong kepada rakyat dengan janji2 kalian !"

PSI memang tidak lolos ke Senayan karena suaranya tidak mencukupi. Tetapi di beberapa kota besar, mereka ada. Di Jakarta sendiri bahkan mereka menempatkan 8 kadernya menjadi anggota dewan.

Baru saja duduk, PSI Jakarta langsung bekerja. Mereka membongkar rancangan APBD DKI Jakarta yang dibuat dengan seenak udelnya. Ada buzzer dibayar 5 milyar rupiah. Ada lem aibon 82 miliar rupiah. Ada bolpen 124 miliar rupiah. 

Tanpa ragu, adek2 PSI di Jakarta, yang bahkan ada yang berumur 23 tahun, harus melawan pembuat anggaran. Tradisi Ahok mencoret anggaran fiktif diteruskan. 

Lawan adek2 ini bukan saja dari eksekutif, tetapi juga dari dalam ruang DPR yang didominasi orang2 tua dan lama. Wakil Ketua Komisi A DPRD DKI dari Gerindra, Inggard Joshua, menegur PSI Jakarta karena membongkar temuan itu lewat media sosial.

"Anda orang baru.." katanya. Seolah mengingatkan PSI bahwa gaya mereka merusak budaya diam dan kongkalikong selama ini antara eksekutif dan legislatif. PSI menjadi musuh bersama karena tidak bisa diajak bersenang2 seperti mereka dulu kala.

Dan saya yakin, tekanan di dalam yang tidak diungkap ke publik pada PSI Jakarta pasti lebih keras. "Masih bayi sudah sok semua.." begitu pasti ejekan mereka.

Jangan menyerah, adek2ku di PSI. Lawan mereka. Biar mereka belajar bahwa generasi baru dalam politik sudah muncul dan akan menyapu mereka. Bersuaralah keras, jangan hanya diam. Yang kalian lawan itu bukan lagi serigala, tetapi sampai predator di jaman purbakala.

Jadikan Jakarta dan kota lain sebagai etalase kalian, bahwa di 2024 nanti kalian layak duduk di Senayan. Semua tekanan itu akan menguji kalian, apakah memang kalian bermental pejuang atau pecundang ?

"Mental itu terbuat dari baja, maka selayaknya kalian tempa.." begitu kata saya mengakhiri pidato di panggung. 

Dan tempaan pertama sudah datang dengan kerasnya. Awalnya memang sakit. Tapi yakinlah, sesudah kalian terbiasa, kalian akan berdansa dengan cantiknya..

Salam seruput kopi dari kami yang menunggu gebrakan selanjutnya..

 

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Sunday, November 3, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: