Surat Terbuka untuk Saudaraku Jonru

 

Oleh: Muhammad Toha

Saudaraku, Jonru.

Kalau Anda mengaku rajin sholat, tak lepas puasa wajib dan sunah, dan telah menggenapi ibadahmu dengan berhaji, tapi tak putus-putus pula menyebar fitnah dan menabur kebencian yang tak jeda, lantas siapa yang sebenarnya yang Anda sembah dalam sembah sujudmu itu?

Kalau Tuhan yang engkau sembah, mengapa cinta dan kasih Tuhan yang maha luas itu tak sedikit pun membekas dalam hatimu? Jika Tuhan yang engkau puji dan puja dalam ibadahmu, mengapa mudah sekali engkau mencaci dan mencela mahluk ciptaan Tuhan yang se-iman denganmu itu?

Saudaraku, Jonru.

Tidakkah engkau pernah membaca pesan dari Sayidina 'Ali, salah satu sahabat utama Nabi yang berkata; janganlah engkau mencintai seseorang berlebihan, sebab bisa jadi kelak dia akan menjadi musuh utamamu. Dan jangan pula engkau membenci seseorang sepenuh hati, karena bisa jadi dia akan menjadi sahabat karibmu?

Saya yakin, engkau pernah membaca pesan Sayidina 'Ali ini karena setahuku engkau seorang penulis handal dan pelahap buku yang akut. Namun malam ini, saya benar-benar tak tahan untuk tak menanggapi posting-anmu, saudaraku.

Dalam posting-anmu, engkau kembali menuduh foto Jokowi yang sedang menyambut matahari pagi di Raja Ampat sebagai foto rekayasa, sambil berkilah; jika tuduhanmu salah, engkau siap menghapus foto itu dan meminta maaf.

Saudaraku, Jonru, berkenankah engkau menjawab pertanyaanku ini?

Apakah bisa seorang pencuri terlepas dari dosa dan hukuman apabila sebelum mencuri, dia bernazar akan mengembalikan barang curiannya dan akan meminta maaf jika ketahuan dialah pencurinya?

Sepengetahuanku yang dangkal dalam hukum Islam, tak ada dalil yang mengatakan pencuri itu akan bebas dari hukuman. Sebab sejatinya, hukuman itu jatuh bukan semata karena kerugian atas kehilangan, tapi hukuman itu dibebankan karena tindakan itu telah menyebabkan keresahan, ketakutan dan rusaknya tatanan kemasyarakatan. Efek sosial itulah yang justru lebih merusak ketimbang nilai dari barang yang hilang.

Saudaraku, Jonru, begitu pula halnya dengan fitnah. Jika engkau ingat nukilan firman Tuhan yang tegas menyatakan; fitnah lebih kejam dari pembunuhan, lantas mengapa engkau mudah menyebar tuduhan yang bahkan engkau sendiri tak yakin kebenarannya?

Dalam posting-anmu, engkau berkilah bahwa jika foto itu bukan rekayasa maka akan bersedia menghapus dan meminta maaf. Ketahuilah, tindakanmu ini sama persis dengan nazar pencuri yang akan mengembalikan barang curiannya bila ketahuan mencuri.

Begitulah yang terjadi dengan dirimu. Akhirnya, engkau meminta maaf karena ternyata foto itu bukan rekayasa. Tapi, saudaraku, maafmu itu sesungguhnya tak bisa menghapus keresahan dan keriuhan yang telah timbul akibat tuduhan semulamu itu. Dan dosa fitnahmu takkan terhapus kendati engkau telah meminta maaf. Ibarat batang pohon yang engkau pasak dengan paku, lalu engkau cabut paku itu, bekasnya tak akan hilang sampai kapan pun.

Jonru, saudaraku. Bagi saya, Jokowi manusia biasa yang kendati beliau terpilih menjadi Presiden, dia tetaplah manusia yang tak luput cela dan kesalahan. Layak bagi siapa pun untuk mengkritik dan memprotes jika keputusan dan kebijakannya sebagai pemimpin telah merugikan rakyat banyak. Saya pun tak segan mengkritisi bilamana pemerintahan Jokowi tak memihak rakyat banyak.

Kritiklah Jokowi sebagai manusia biasa, tapi janganlah engkau hina dan hujat sedemikian rupa sebab ia bukanlah iblis yang layak kita hina dan cerca tanpa jeda.

Semoga tahun baru ini membawa kebaikan buat kita semua. Salam hormat buat saudaraku, Jonru.

 

Sumber: Akun facebook Muhammad Toha

Monday, January 4, 2016 - 03:15
Kategori Rubrik: