Surat Terbuka untuk Kang Emil

Oleh: Sahara Djati

Assalamualaykum wr wb..
Salam sejahtera buat kang Emil dan keluarga...

Membaca status kang Emil di FP akang, membuat saya ingin menulis surat terbuka ini, semoga kang emil berkenan membaca dan memahami maksud yang terkandung dalam setiap kata yang saya tuliskan....

Saya karyawati swasta, dan kebetulan kita pernah jumpa di sebuah seminar tentang Lingkungan Hidup di mana kang Emil kami undang sebagai salah satu pembicara yang punya program2 perbaikan lingkungan, kebersihan dan tatakota Kota Bandung yang luar biasa. Akang menjelaskan byk hal ttg kemajuan kota Bandung sejak akang menjabat, yaitu salah satunya keberhasilan kampanye akang, 1 orang 1 bio pori agar bandung bebas banjir yg ditaati warga bandung sehingga tercipta 1juta biopori. Akang juga memperlihatkan slide antusias warga akang menyetor laporan ttg jumlah biopori yg telah mereka hasilkan. Dan ini membuat saya berdecak kagum...

Akang memperlihatkan juga program2 lain yang tak kalah kerennya, yaitu hari2 yg bertema khusus, ada english day, nyunda day, bersepeda day, nobar day... dsb. Selain itu Akang memperlihatkan kolong2 highway yang dirubah menjadi taman2 dengan design yang unik, warna warni, utk tempat nongkrong anak2 muda yang kalo gak salah disediakan wifi gratis dan LCD buat nobar. Pokoknya apa yg akang presentasikan membuat saya kagum, speechless dan diam2 saya mengidolakan akang... suit.. suit...

Akang pun punya ide membeli mesin penghancur sampah di tiap2 kelurahan, namun dana tidak ada, lalu mengajak kami membantu melalui program CSR kami. 

Dalam presentasi itu akang tak lupa bercerita ttg bagaimana ngenesnya akang krn PEMDA JABAR tidak mendukung program2 akang yang brilliant itu, sehingga akang rela mendatangi perusahaan2 yg punya program CSR keren, utk dimintai kerjasama, seperti perusahaan di mana saya mengabdikan diri.
Dan ini adalah salah satu yang membuat saya terenyuh, kasian, sekaligus geram. Kebetulan kan waktu itu presidennya masih pak melow, jadi saya mahfum dengan nasib akang.

Sekarang setelah pak Jokowi menjabat, apakah akang masih kesulitan dana utk menjalankan program2 akang? Apakah akang masih mencari2 dana tambahan ke perusahaan2 dan ke mancanegara seperti dulu?

Setelah saya sering bolak balik ke Bandung untuk tugas2 kantor, saya pun melihat program2 akang tidak 100% berjalan. Biopori sptnya gak berfungsi deh kang, krn banjir masih ada. Tempat2 nongkrong juga gak terawat dengan baik. Hari2 bertema pun gak ada yang pakai. Saya masih ingat waktu di hari yang dicanangkan sebagai english day, malah saya diajak ngomong sunda oleh kabid BPLHD JABAR di jalan Naripan. Masak pejabat gak tau ada program english day kang?

Kota bandung memang sudah rapih jika dibanding dengan sebelumnya, namun masih belum maksimal. Masih ada jalanan rusak, trotoar gompal, dan kurang penghijauan. Padahal kalo akang mau lebih maksimal, akang bisa tuh tanem bunga2 disepanjang kota bandung. Secara bandung itu kan taneman bunganya bagus2 dan pasti subur. Saya masih menyayangkan trotoar di jalan2 bandung yang gersang tak terawat.

Dan yang paling membuat saya illfeel adalah, di pusat perdagangan cihampelas, citywalk, di mana banyak org2 luar kota juga pelancong2 asing yang datang berkunjung. Saya tidak melihat hal istimewa di situ kang. Jalanannya sempit, tapi kendaraan umumnya banyak. Pedagang2 tidak teratur seperti di tanah abang jaman dulu. Padahal kalo akang benahi itu tempat, wow kereen kali kang. Buatlah design pusat perbelanjaan yang agak teratur kang, dan cantik. Saya yakin itu akan jadi salah satu tempat menarik untuk dikujungi wisatawan2, apabila akang mau membenahi dan merubahnya menjadi nyaman bagi pengunjung. Saya pernah loh keserempet angkot di situ kang, karena bemper saya kan gede... jalanan yg sempit itu tak mampu membuat angkot berlalu tanpa menyenggol bemper saya... gak tau apa kalo saya lagi asik menikmati jalanan cihampelas yang konon apa2 murah di situ.... 

Kang Emil yang berlesung pipit.... 
Saya kagumi akang karena keramahan akang, kehebatan akang, kelucuan akang sebagai pengamat jomblo2 se Indonesia, juga kesederhanaan akang dalam kehidupan sehari2. 
Kelebihan2 akang itu sebetulnya modal kuat akang untuk menjadi salah satu Walikota idola. Namun bagi saya masih kurang. Sebab akang belum berani menerobos birokrasi di Jabar yang luarbiasa HORORnya... 

Ketika saya audit ke subcont2 kami, saya banyak mendapat keluhan dari mereka bahwa PUNGLI gila2an itu masih mengakar dan membudaya kang. Mereka kesulitan mengurus izin lingkungan, K3, Kitas untuk pegawai asing, catering, izin usaha dsb, bila tanpa UANG SUAP. Bahkan saya pun mengalaminya sendiri bagaimana oknum2 dari mulai staf bupati hingga kepolisian yang mencari2 kesalahan2 kami dengan hasil temuan BODONG. Sementara saya tahu persis, banyaknya penyimpangan2 lingkungan yang membuat kali citarum MENGHITAM LEGAM. Saya juga tahu banyak soal dumping2 ilegal Limbah2 Beracun di persawahan dan tanah2 kosong yang sengaja di buang namun TIDAK ADA UPAYA2 PENGAMANAN. 
Kami yang taat membuat izin, taat melakukan pengelolaan lingkungan malah dicari2 kesalahannya utk memperoleh SOGOKAN. 

Kang Emil yang baik, jangan tersinggung ya... inilah fakta kang. Saya menulis ini pun sambil merasakan kegeraman yang sudah tak tertahankan. Seandainya pak Ahok menjadi Gubernur Jabar, saya yakin, orang2 itu akan lari terbirit2. Tapi, masak iya saya mau merelakan gubernur saya untuk mengurus wilayah kekuasaan yang SEHARUSNYA menjadi konsentrasi akang.

Begini kang, bila rumah akang kotor karena males nyapu dan ngepel, talang rumah akang bocor, got2 mampet, kamar mandi dekil, apakah etis bila akang malah pindah ke rumah saya yang rapih, gak bocor, resik, karena setiap hari saya bersihkan? Bagaimana nasib rumah akang? Mau digondol maling gitu kang?

Melalui surat ini, saya memberikan pandangan2 dan keberatan2 saya bila akang nekat maju ke pilgub DKI. Bukan karena saya takut Gubernur saya kalah, tapi saya khawatir Bandung akan kehilangan akang dan khawatir akang akan kehilangan jabatan. Sebab saya yakin, seyakin2nya, BAHWA WARGA DKI MASIH MENGINGINKAN AHOK untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih sangat banyak, dan mohon maaf bila saya tidak sopan, mengatakan bahwa, Kang Emil belum mampu berbuat seperti pak AHOK kami. Ngeri kang kalo akang nekat, banyak siluman APBD yg sadis2... yg cuma takut sama Ahok.

Demikian kang, surat ini saya sampaikan, sekali lagi mohon maaf atas kata2 yang tidak berkenan, mohon supporter akang dilarang komen di lapak saya ini ya kang. Soale mereka tuh kalo komen suka nyakitin ati. Mereka kan gak sebijak akang dalam menanggapi kritik2 saya. 
Hatur nuhun Kang Emil nu kasep... Ai lopyupul... 

 
(Sumber: Facebook Sahara Djati)
Sunday, February 28, 2016 - 21:00
Kategori Rubrik: