Surat Terbuka untuk Habib Rizieq Syihab

Oleh: Iis Turyanto

 

Yang terhormat Bapak Habib Rizieq Syihab, surat terbuka ini saya buat salah satunya karena saya adalah seorang muslim, dan selain itu saya juga bukan warga Jakarta, jadi saya tidak mempunyai hak suara untuk memilih salah satu pasangan calon gubernur pada Pilkada DKI Jakarta. Namun saya sangat mencintai keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terkait soal kasus dugaan penistaan agama saat ini proses hukum sedang berjalan, marilah kita sebagai warga negara Indonesia yang baik menghormati proses hukum tersebut, dan tidak melakukan intervensi.

Seperti diketahui, aturan di kepolisian menyebutkan ada dua faktor yang bisa menyebabkan seseorang ditahan. Yaitu faktor objektif dan subjektif.

Dari objektivitas, seluruh saksi ahli yang diperiksa tidak bulat dalam memberikan keterangan kepada kepolisian. Di sisi lain, penyidik pun tidak bulat dalam memutuskan kasus dugaan penistaan agama tersebut.

Sedangkan dari sisi subjektivitas, Polri bisa melihat dari tiga faktor. Yaitu alasan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulangi perbuatan.

Selama ini yang bersangkutan terlihat cukup kooperatif, bahkan saat belum dipanggil saja sudah datang, dan saat dipanggil resmi juga datang. Yang kedua ikut pilkada, apabila melarikan diri pastinya tidak mungkin, karena itu akan merugikan dirinya sendiri. Tapi penyidik tidak mau ambil resiko dalam menangani kasus ini, oleh sebab itu dicegah untuk tidak ke luar negeri.

Terkait barang bukti, kepolisian sudah berhasil menemukan barang bukti asli utama berupa rekaman video diambil dari Pemprov DKI Jakarta. Jadi tidak mungkin yang bersangkutan akan menghilangkan barang bukti tersebut.

Faktor mengulangi perbuatan juga belum cukup memenuhi unsur. Karena yang bersangkutan belum ada upaya untuk mengulangi perbuatannya seputar dugaan penistaan agama tersebut, oleh karena itulah tidak di tahan.

Bapak yang terhormat, seperti diketahui setelah aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu, para ulama diundang ke istana dan bertemu dengan Presiden Jokowi. Suasana pertemuan dan dialog berlangsung sangat sejuk, serta penuh dengan kehangatan. Tetapi saya juga tidak mengerti kenapa bapak tidak turut diundang bersamaan dengan para ulama tersebut.

Manusia tidak ada yang sempurna, mungkin bapak sudah cukup ramah, santun dalam berbicara, serta selalu membawa kesejukan, tetapi di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, dan mungkin bapak yang terhormat berkenan untuk introspeksi diri.

Terimakasih.

(Penulis adalah admin facebook/fan page Info Seputar Presiden--ISP, sumber: ISP)

 

Monday, November 21, 2016 - 19:15
Kategori Rubrik: