Surat Terbuka Kepada Ribka Tjiptaning

ilustrasi
Oleh : Bagas Pujilaksono Widyakanigara,
Kepada Yth,
Ibu Ribka Tjiptaning
DPR RI, Jakarta
Dengan hormat,
Saya tidak tertarik membahas soal bu Ribka menolak divaksin covid-19, karena hal itu urusan pribadi bu Ribka. Nanti kalau saya mengomentari hal itu, bisa dianggap melanggar HAM berat dan harus berurusan dengan Komnas HAM.
Saya juga tidak tertarik memahami pesan utuh yang ingin bu Ribka sampaikan pada saat rapat kerja dengan Pemerintah, dalam hal ini dengan Menkes RI dan tim. Karena, jujur saya tidak melihat sama sekali unique point yang anda sampaikan. Apakah itu suatu kritik, jelas bukan, karena ucapan bu Ribka hanya maki-makian ke Pemerintahan Presiden Jokowi dan pencitraan dalam *melambungkan diri sendiri*.
Kritik itu bukan hanya mengungkap hal yang dikritisi, namun juga mengusulkan alternatif solusi. Di rapat kerja itu, sama sekali bu Ribka tidak mengusulkan alternatif solusi bagi bangsa ini dalam upayanya keluar dari cengkeraman pandemi covid-19.
Di surat saya kali ini, saya hanya mengomentari ucapan-ucapan bu Ribka yang disampaikan di rapat kerja dengan Pemerintah, tanpa saya harus memahami pesan utuh yang ingin bu Ribka sampaikan.
Bu Ribka mengatakan kalau vaksin Sinovac adalah vaksin Rongsokan. Bu *Ribka, anda bukan ahli Biology Molecular*, bagaimana bisa *anda mengatakan vaksin Sinovac rongsokan?* Apakah anda punya data akademiknya? Kalau ada, mohon dishared ke publik. Anda hanya berdasar omongan orang. Ilmu pengetahuan berdasar bukti, bukan ngrumpi.
Perlu bu Ribka ketahui, vaksin hasil penelitian Oxford University, UK, tahapan uji klinis pada binatang, dilompati, karena kedaruratan, langsung uji klinis ke manusia. Vaksin ini kira-kira menurut bu Ribka vaksin jenis apa ya? Vaksin comberan? Vaksin Oxford University, UK ini diproduksi oleh Astra Zenneca.
Kalau vaksin Sinovac adalah vaksin rongsokan, maka sama artinya anda mengatakan *BPOM dan MUI adalah lembaga rongsokan,* karena BPOM telah mengeluarkan ijin edar dan MUI telah mengeluarkan Sertifikat Suci dan Halal bagi vaksin Sinovac.
Sepertinya anda terjebak dalam istilah efikasi, yang ternyata setelah saya mendengarkan penjelasan anda di youtube, *anda salah memahaminya*. Ini link youtubenya: https://youtu.be/su27gwI2wTM
 
POM menjelaskan efikasi dari vaksin Sinovac adalah 65.3%. Itu artinya, jika 100 orang divaksin, maka secara random yang akan kebal adalah 65 orang dan yang 35 orang masih bisa terinfeksi. *Anda di youtube di atas bilang, yang 35 orang itu dikorbankan*. Dari sini jelas, anda tidak memahami arti efikasi sama sekali. Tidak ada yang dikorbankan. Vaksinasi bukan ditujukan untuk mengorbankan orang.
Saya lihat di channel *youtube* lainnya, ini linknya: https://youtu.be/tHTchGw-fB4, judul yang tertulis di situ adalah Ribka: bisa saja yang diberikan ke Jokowi bukan Sinovac. Ucapan anda sangat tendensius. Sebaiknya bu Ribka buktikan kebenaran ucapan itu, agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Jangan sampai ada pendapat di masyarakat, yang di vaksin kan ke rakyat jelata adalah vaksin rongsokan Sinovac dan yang untuk pejabat negara merk lain yang dibenak bu Ribka adalah vaksin mahal. Saya faham, kemana ibu menggiring opini.
Nilai efikasi vaksin Sinovac itu berbeda antara di Indonesia dan di Turki, karena *obyek ujinya beda*. Di Indonesia, vaksin Sinovac oleh BPOM diuji ke publik awam, sedang di Turki diuji ke nakes dimana mereka dilengkapi dengan APD. Logis, nilai efikasi vaksin Sinovac di Turki lebih tinggi, yaitu di angka 90%, sangat logis. Perbedaan tersebut jangan diartikan *kualitas vaksinnya* berbeda.
Bu Ribka dalam banyak kesempatan selalu menyebutkan bahwa anda seorang dokter. So what? Namun, saya yakin dengan seyakin-yakinnya, masih susah bagi anda untuk memahami fakta emperik perbedaan nilai efikasi diatas.
Presiden Jokowi tidak pernah mengatakan, bahwa vaksinasi covid-19 di tanah air ditujukan untuk memutus rantai infeksi virus covid-19. Beliau mengatakan vaksinasi covid-19 ditujukan untuk membangun *Herd Immumity.* Itu benar.
Apakah bu Ribka faham pengertian fisis *Herd Immunity?* Kalau tidak faham, saya jelaskan. *Herd Immunity* adalah imunitas skala sosial, yang makna fisisnya adalah virus covid-19 sudah kesulitan menemukan korban baru, dengan mekanisme penularan hamburan stokastik dalam jarak efektif penularannya. Itu arti Herd Immunity. Menurut WHO, jika 70% warga bangsa sudah divaksin covid-19, maka *Herd Immunity terbentuk.* Penduduk Indonesia sekitar 260 juta, maka merujuk ke WHO, ada sekitar 182 juta warga bangsa yang akan divaksin. Pemerintah sudah benar.
Presiden Jokowi selalu bilang, sekalipun sudah divaksin, harus tetap mentaati protokol kesehatan, itu benar. Dan itu, karena, *faktor efikasi* tadi.
Jika, *Herd Immunity* sudah terbentuk, maka laju infeksi virus covid-19 akan mereda by the time.
Saya tidak mengatakan bu Ribka kadrun, karena saya tidak punya bukti. Maki-makian bu Ribka yang kontroversial kemarin *menjadi amunisi bagi kelompok-kelompok anti Pemerintahan Presiden Jokowi* untuk menyerang pemerintah.
Bagi saya pribadi, *bu Ribka sosok yang sangat ekstrim,* melebihi partai oposisi. Padahal *Ideologi Pancasila tidak pernah bisa mengakomodir cara berfikir ekstrim.* Pancasila adalah *ideologi equilibrium:* seimbang antara urusan pribadi dan sosial. Di rapat kerja DPR RI kala itu, tampak jelas, bu Ribka *sangat egois*, dimana manfaat vaksin untuk, *kepentingan nasional anda abaikan* demi kepentingan pribadi. Saya sekarang *nggak yakin kalau bu Ribka faham Pancasila* dengan baik dan benar. *Perilaku politik bu Ribka bukan perilaku Marhenis Sejati*.
Apakah bu Ribka selalu mengupdate perkembangan pademi covid-19 di tanah air? Datanya naik terus secara signifikan. Apakah bu Ribka punya *ide cemerlang untuk meredakan pandemi covid-19 di tanah air diluar cara vaksinasi?* Kalau ada, mohon disampaikan ke rakyat Indonesia, baik dalam *bahasa akademik atau politis.* Keduanya saya bisa faham.
Terimakasih.
 
Sumber : Status Facebook Widyakanigara
Wednesday, January 20, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: