Surat Terbuka : Jawaban Atas Statemen Eggi Sujana

Ilustrasi

Oleh : Ketut Budiasa

Yth. Seluruh Anak Bangsa,

Surat ini sengaja tidak saya tujukan spesifik kepada seseorang, melainkan kepada seluruh anak bangsa. Biarlah isi surat ini dimaknai sesuai kecerdasan, wiweka dan kebeningan hati masing-masing.

Saat Vasudewa Krisna memasuki balairung Hastinapura untuk mengusahakan negosiasi damai antara Pandawa dan Kurawa, beberapa orang memujinya sebagai duta perdamaian dan pasti bisa menyelesaikan masalah yang membawa bangsa Bharata di ambang perang.

Tetapi jawaban Vasudewa Krisna ternyata berbeda. “Di Vrindavan, suara serulingku selalu dimaknai sebagai panggilan cinta oleh sapi2 disana. Setiap aku meniup seruling, semua sapi berkumpul dan mendengarkan sebagai kidung kasih dan mereka berbahagia karenanya. Tapi sekelompok keledai tidak menganggapnya bermakna apa2”.

Seruan apapun yang kita buat, pada akhirnya akan berlabuh di kepala masing2 orang sehingga pemaknaannya selalu tergantung dari kecerdasan dan kebeningan hati orang yang menerima. Bukankah karena itu seringkali agama justru memproduksi barisan para teroris ?

Statement Eggi Sujana yang viral tentang “hanya agama Islam yang sesuai sila pertama Pancasila” saya anggap pernyataan serius dan memiliki implikasi luas, sehingga saya merasa berkepentingan untuk menyampaikan tanggapan secara terbuka.

Bahwa Eggi Sujana percaya agama yang dianutnya sesuai sila pertama Pancasila, itu hak beliau sesuai tafsir beliau atas ajaran kitab sucinya. Itu harus dihormati. Tetapi menyatakan ajaran agama Hindu tidak sesuai dengan Pancasila sila Pertama adalah penghinaan yang serius. Setidaknya bagi saya pribadi, sebagai penganut ajaran Hindu.

Pertama. Sesanti “Bhinneka Tunggal Ika” yang tertulis pada pita yang digenggam Lambang Negara Republik Indonesia, Burung Garuda Pancasila, bukanlah buah karya atau karangan para pendiri bangsa. Sesanti itu diambil dari Kekawin Sutasoma mahakarya Mpu Tantular.

Bunyi bait kekawin itu secara utuh adalah “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” yang artinya “Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua”. Siapakah yang dimaksud “berbeda-beda tetapi tunggal” itu ? Ia adalah Budha dan Siwa. Dalam teologi Hindu, IA yang disebut Brahma, Wisnu, Siwa, Rudra, Rama, Krisna, Budha adalah satu. Tidak ada yang kedua. NamaNYA banyak sebanyak orang memberi nama, sebanyak pemujanya memberi panggilan, tetapi IA sesungguhnya satu.

Perlu juga dipertegas bahwa sesanti “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” yang menjadi satu kesatuan Lambang Negara itu digubah oleh seorang Mpu. Bukan ustad, syeikh atau yang lainnya. Ini penting untuk menegaskan posisi ajaran Hindu-Budha dalam Lambang Negara Republik Indonesia.

Kedua. Umat Hindu berdoa sehari-hari dengan mantram Puja Tri Sandhya yang terdiri dari 6 bait, diambil dari kitab suci Weda. Pada bait ke 2, diantaranya berbunyi “Eko narayana na dwityo asti kascit”, artinya "Tuhan itu hanya satu, tiada yang kedua". Lalu mengapa ada begitu banyak nama, Brahma, Wisnu, Siwa, Rudra, Agni dan ribuan nama lain ? Jawabannya ada pada pada bait ke 3, berbunyi “Om Twam Siwah Twam Mahadewah, Iswarah Parameswara, Brahma Wisnusca Rudrasca, Purusah Parikirtitah”. Artinya "Ya Tuhan, Brahman, Engkau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan juga Rudra. Engkau adalah asal mula dari segala yang ada".

Penganut Hindu berdoa 3 kali sehari mengulang-ulang mantram itu, sejak mereka kecil. Bahwa Eggi Sujana tidak memahaminya, itu tidak berarti ajaran Hindu adalah seperti yang ada dalam ketidakpahaman Eggi Sujana itu.

Ketiga. Konsep ketuhanan Hindu adalah Pantheisme, bahwa Tuhan ada didalam dan diluar ciptaannya. Diluar, IA transenden, melingkupi dan lebih besar dari keseluruhan yang ada. Ia membungkus semuanya karena semua ada didalam DIA. Itulah yang dilambangkan dalam Itihasa, ketika Vasudewa Krisna membuka mulutnya, seluruh semesta terlihat disana, didalam mulut illahinya. Saat bersamaan, IA juga berada didalam ciptaannya, Immanen. IA memenuhi setiap pori2 semesta tanpa ada ruang yang kosong dari kehadirannya.

Jadi “esa” nya Tuhan dalam Hindu tidaklah berarti IA sebatang kara, tinggal di langit dan duduk diatas singgasana, kemudian dari sana dengan kemahakuasaannya menghukum yang tidak percaya dan memberi hadiah bagi yang menyanjung2 namanya.

Tuhan Hindu bersifat spiritual, bukan individual. Yang individual adalah manifestasinya, bentuk2 keberadaannya sesuai fungsinya dalam mengurus semesta dengan segala isinya. Ketika mencipta IA disebut Brahma, saktinya Dwi Saraswati, lambang pengetahuan karena penciptaan selalu mensyaratkan adanya pengetahuan. Dalam manifestasinya sebagai pemelihara IA menjadi Wisnu, saktinya Laksmi, atau Dewi Sri, lambang kesuburan karena pemeliharaan mensyaratkan kesuburan dan kesejahteraan.

Keempat. Weda sebagai otoritas tertinggi ajaran Hindu dan dipercaya sebagai wahyu dari Tuhan, tegas menyatakan “banyak tetapi satu”. Ini dinyatakan dalam banyak cloka (ayat) yang membentuk satu kesatuan teologi Hindu.

4a. EKAM EWA ADWITYAM BRAHMAN.
(Upanishad IV.2.1)
Tuhan itu hanya satu tidak ada duanya.

4b. Yo nah pita janita yo nidhata,
dhanani veda bhuvanani visva,
yo devanam namadha eka eva,
tam samprasnam bhuvana yantyanya
(Rg Veda X. 83. 3).
Oh, Bapa kami, pencipta kami, pengatur kami yang mengetahui semua keadaan, semua apa yang terjadi,
Dia hanyalah Esa belaka memikul nama bermacam-macam dewa.
Kepada Nyalah yang lain mencari-cari dengan bertanya-tanya.

4c. Indram mitram varunam
agnim ahur atho divyah
Ekam sad vipra bahudha vadantyagnim
yarnam mata-risvanam ahuh
(Rg Veda 1.164.46).
Mereka menyebut Indra, Mitra, Varuna, Agni dan Dia yang bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Satu Kebenaran itu, orang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisavan.

4d. Tad evagnis tad adityas
tad vayus tad u candramah,
tad eva sukra tad brahma
ta apan sa prajapatih
(Yajur Veda 32.1).
Agni adalah Itu, Aditya adalah Itu,
Vayu adalah Itu, Candrama adalah Itu,
Cahaya adalah Itu, Brahman adalah Itu,
Apah adalah Itu, Prajapatilah Ia.

Keseluruhan ayat-ayat itulah yang membentuk bangunan teologi Hindu, ibarat ribuan bata yang membentuk sebuah rumah. Mungkin ada satu dua bata yang terlihat berbeda, bila diambil satu dua biji seolah tidak dapat dikenali sebagai bagian dari sebuah rumah. Namun begitu diletakkan di tempatnya, maka keseluruhan bangunan akan nampak jelas — sejelas umat Hindu memahami ke-Esa-an Tuhan nya.

Sekali lagi, ulasan ini ditujukan kepada semua orang, sebagai jawaban atas statement Eggi Sujana yang viral di media. Saya tidak memahami ajaran Kristen, tidak mendalami ajaran Budha, tidak tertarik dengan ajaran Islam, sehingga saya tidak memiliki kapasitas menilai ajaran2 tersebut. Yang saya pahami, ada jutaan umat manusia, bahkan diantaranya milyaran, yang menganut ajaran2 agama tersebut, dan saya percaya -- didorong oleh ajaran agama saya -- bahwa mereka semua pantas mendapatkan rasa hormat sebagaimana saya ingin keyakinan saya dihormati. Agama saya juga mengajarkan bahwa agama itu adalah ageming hati, ibarat jalan yang berbeda2 yang ditempuh sesuai kecenderungan dan karma masing2. Tuhan dalam ajaran Hindu yang saya pahami, juga bukan sekelas kepala suku yang melindungi anggota sukunya saja tetapi membenci dan memerangi kelompok lain yang tidak bersedia bergabung kedalam sukunya. Dalam Bhagavad Gita, Tuhan yang saya temukan ajarannya Maha Baik itu bersabda :

"samo 'ham sarva-bhutesu
na me dvesyo 'sti na priyah
ye bhajanti tu mam bhaktya
mayi te tesu chapy aham"
(Bhagwat Gita IX.29)

AKU adalah sama pada semua mahluk
BagiKU tidak ada mahluk yang terbenci atau yang tercinta
Tapi bagi mereka yang memujaKU dengan sepenuh hati
Maka mereka (akan menemukan diriKU) ada didalam mereka
Dan (menemukan diri mereka) ada didalamKU

Terakhir, saya percaya dengan kebaikan universal. Ialah kebaikan yang sesuai dengan nurani kita sebagai manusia. Kebaikan universal ini bisa menyatukan semua agama bahkan hingga yang tidak beragama. Ajaran Hindu menyebutnya Tat Twam Asi. Orang modern menyebutnya "the golden rule". Yang lain menyebutnya empathy.

Pada intinya, ajaran ini berkata "perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan, atau jangan perlakukan orang lain bila kamu tidak suka diperlakukan dengan cara yang sama". Saya tidak suka dihina, maka saya tidak menghina, karena orang lain juga pasti tidak suka.

Jadi bila kita tidak suka orang lain menafsirkan ajaran agama kita tanpa pengetahuan, kita juga semestinya tidak menafsirkan ajaran agama orang lain dengan pengetahuan yang terbatas. Itulah yang disebut empathy. The golden rule. Weda menyebutnya Tat Twam Asi. Empathy ini, the golden rule ini, tat twam asi ini, adalah ciri keadaban kita, anugerah yang diberikan kepada kita, manusia, yang membedakan kita dari hewan.

Oleh karenanya, selain menjadi religius dengan meyakini ajaran agama kita masing2, kita juga perlu tetap menjadi manusia, dengan berpegang, bercermin, bersuluh pada konsep empathy, the golden rule dan tat twam asi itu.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Thursday, October 5, 2017 - 17:15
Kategori Rubrik: